Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026
Dialog Virtual Lintas Agama Terkait Covid-19

Ketua Umum PGI: Agama-agama Harus Melantangkan Kasih Sayang

Redaksi - Minggu, 26 Juli 2020 19:03 WIB
365 view
Ketua Umum PGI: Agama-agama Harus Melantangkan Kasih Sayang
Foto Dok/PGI
DIALOG VIRTUAL: Ketua Umum PGI, Pdt. Gomar Gultom (kedua dari kanan) saat memaparkan pandangannya, dalam Dialog Virtual Nasional Lintas Iman, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (14/7).&am
Jakarta (SIB)
Di tengah situasi yang tidak pasti, penuh kegalauan, dan penuh pertanyaan, maka agama-agama harus melantangkan kasih sayang dalam bentuk solidaritas, peduli, serta berbagi, di masa dan pasca pandemik Covid-19. Melantangkan kasih dalam bentuk anti stigma dan diskriminasi terhadap mereka yang terpapar Covid-19.

Demikian ditegaskan Ketua Umum PGI, Pdt. Gomar Gultom dalam Dialog Virtual Nasional Lintas Iman, bertema Peran dan Tantangan Agama di Masa dan Pasca Pandemik, yang diinisiasi oleh Badan Pengelola Masjid Istiqlal, Selasa (14/7).

Selain melantangkan kasih sayang, lanjut Pdt. Gomar, yang tidak kalah penting ke depan bagaimana agama-agama mendorong kerjasama antar negara untuk menemukan vaksin Corona, serta dalam kerjasama tersebut, juga memotivasi negara-negara untuk menciptakan sistim distribusi global yang adil dan merata, sehingga vaksin itu mudah dijangkau oleh semua orang, dan tidak dikuasai oleh sekelompok kepentingan tertentu.

Di awal paparannya, Ketua Umum PGI juga menjelaskan, tidak ada negara yang siap menghadapi pandemik ini, baik terkait penyediaan alat kesehatan, anggaran, data, dan sebagainya. Agama-agama juga sempat limbung.

“Kalau kita ikuti diawal-awal pandemi ini, paling tidak di lingkungan gereja juga timbul semacam kelimbungan yang luar biasa. Selama ini gereja memahami diri sebagai sebuah persekutuan. Sebagai sebuah persekutuan maka perjumpaan ragawi menjadi hakekat dari persekutuan itu. Kita semua, dan ini tantangan terbesar pasca pandemi, selama ini berlelah untuk mengajak warga berkumpul di gereja, saya kira itu juga dialami masjid, pura, dan sebagainya, tetapi tiba-tiba di awal Maret kami harus katakan hindari perjumpaan, bahkan hindari berkumpul dan beribadah di gereja. Ini tentu membawa pertanyaan mendasar bagi banyak warga,” jelasnya.

Menurut Pdt. Gomar, berdasarkan pengalamannya selama tiga, empat bulan terakhir, semua tokoh agama-agama hadir memberikan pencerahan, edukasi, dan kampanye, kepada masyarakat. Sehingga di satu sisi ikut memutus mata rantai penyebaran Covid-19, tetapi juga memberikan pemahaman mendasar bagi warga bahwa Allah tidak sedang membiarkan umatNya. Melainkan, ikut berperang melawan virus ini, dan menggunakan umat beragama menjadi tangan-tanganNya.

“Para dokter, para medis, aparat, semua sebagai tangan-tangan Allah yang sedang berperang. Termasuk para ahli, ilmuwan, sedang berperang mencari virus ini. Saya kira kita juga sudah ada dalam posisi itu, menjelaskan kepada warga. Tentu para pemimpin agama juga mendampingi umat dalam menghadapi dampak yang ditimbulkan oleh pandemi ini, baik itu menyangkut masalah finansial karena stay at home yang juga banyak menimbulkan masalah finansial, dan masalah psikososial lainnya,” katanya.

Pada kesempatan itu, Pdt. Gomar juga mengungkapkan, peran yang menonjol dilakukan PGI belakangan ini di tengah pandemik Covid-19, yaitu mengembangkan program Oikonomics, sebuah platform digital untuk mencoba berkolaborasi dan sharing antarberbagai stakeholder di lingkungan gereja-gereja, dengan mulai mengumpulkan sumber-sumber produksi yang ada di pedesaan, agar bisa dihubungkan dengan para konsumen yang membutuhkan. Karena saat ini distribusi sangat terhalang. Juga konsultasi secara online, untuk melayani masyarakat secara digital.

Dialog Virtual Nasional Lintas Iman yang menghadirkan Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin dan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi sebagai keynote speakers ini, juga menampilkan pembicara, seperti Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal), Kardinal. Mgr. Ignatius Suharyo (KWI), Mayjen TNI Purn Wisnu Bawa Tenaya (Parisada Hindu Dharma Indonesia), Siti Hartati Murdaya (Perwakilan Umat Buddha Indonesia), Budi Santoso Tanuwibowo (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia), dan Dr. H. Nifasri (Pusat Kerukunan Beragama Kemenag RI). (pgi.or.id/c)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru