Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026

Terjatuh Tapi Allah Tidak Membiarkan (2 Samuel 9 : 1-13)

Oleh Pdt Dr Andar Gomos Pasaribu, Eksekutif UEM, Wuppertal Jerman
Redaksi - Minggu, 23 Agustus 2020 17:35 WIB
5.530 view
Terjatuh Tapi Allah Tidak Membiarkan (2 Samuel 9 : 1-13)
Foto.Dok/Pdt Dr Andar Gomos Pasaribu
Pdt Dr Andar Gomos Pasaribu
Dalam hidup ini kita mungkin pernah mengalami situasi terjatuh. Salah satunya adalah dunia sedang mengalami fase kejatuhan dalam berbagai hal akibat Pandemi Covid-19. Virus ini bukan hanya menjatuhkan fungsi tubuh kita tapi juga menjatuhkan sendi-sendi perekonomian dunia dan perekonomian kita pribadi.

Negara Jerman yang dikatakan memiliki kondisi perekonomian terkuat di dunia pun tengah tertatih-tatih menghadapi krisis perekonomian. Di Jerman, semakin sering terjadi pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran, usaha berskala kecil hingga besar gulung tikar, gereja-gereja protestan dan roma katolik pun semakin khawatir karena pendapatan pajak gereja akan banyak menurun. Apakah Tuhan melupakan kita ketika masa Pandemi ini tengah menghebat? Pertanyaan ini kiranya dapat terjawab setelah mendalami kisah ini.

Raja Daud dinobatkan menjadi raja besar di Israel. Ia memiliki segalanya: kekayaan, keturunan, kekuasaan. Tapi entah mengapa ia merasa ada yang kurang dalam kemegahannya sebagai raja. Ia rindu untuk menunjukkan kasih sayangnya kepada keluarga raja Saul. Daud rindu untuk menyatakan kasihnya kepada keturunan seseorang yang pernah mencoba membunuh dan membuatnya menderita. Tentu hal itu bukan sekedar kebaikan hati Daud, tapi Allahlah yang membisikkan di telinga Daud agar ia menunjukkan kasih sayangnya kepada keturunan bekas musuhnya Saul dan sahabatnya Yonatan. Seorang hamba dari Saul yang bernama Ziba mengatakan masih ada satu-satunya keturunan Saul yang masih hidup, yaitu anak laki-laki dari Yonatan, namanya Mefiboseth, dia lumpuh. Di ayat 5 dikatakan: Sesudah itu raja Daud menyuruh mengambil dia dari rumah Makhir bin Amiel, dari Lodebar. Mefiboseth dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan istana.

Namun kemudian ayahnya Yonatan dan kakeknya Saul terbunuh di medan perang. Seorang hamba menyelamatkan Mefiboseth dari istana yang terkepung. Dalam kepanikan, Mefiboseth terlepas dari pelukan sang hamba dan kakinya patah. Ia tidak bisa berjalan lagi.

Dalam kelemahannya, Mefiboseth hidup di Lodebar tempat yang sesungguhnya tidak layak bagi keturunan seorang mantan raja Israel yang besar. Ayat 8 mengatakan: Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: “Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?” Mefiboseth tentu sangat ketakutan mendengar raja Daud mencarinya. Apakah Raja akan membalaskan dendamnya atas perlakuan kakeknya Saul? Namun Daud justru bertitah di ayat 9: “Segala sesuatu yang adalah milik Saul dan milik seluruh keluarganya kuberikan kepada cucu tuanmu itu. Mefiboset, cucu tuanmu itu, akan tetap makan sehidangan dengan aku.” Ini kuncinya!

Tidak satupun kehidupan kita seperti juga kehidupan Mefiboseth yang luput dari perhatian Allah. Allah melihat bagaimana kakek dan ayah Mefiboseth terbunuh, Allah melihat bagaimana Mefiboseth terjatuh dan menjadi cacat, Allah melihat bagaimana ia hidup dalam kemiskinan. Ia turut merasakan penderitaan, penyakit, depresi, ketakutan dan kesulitan hidup kita. Allah berkata dalam Yesaya 49:16: „Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku.” Dunia memang tengah terjatuh, hidup terasa tidak adil dan menyakitkan, tapi kejatuhan bukanlah rancangan Allah menciptakan kita. Yesaya 30:18 mengatakan: „Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu.” Bagi Allah, penderitaan, pandemi, fitnah, stres, depresi dan penyakit adalah fase sementara/temporal dimana Allah sedang menanti-nantikan waktu terbaik untuk menunjukkan kasih sayang-Nya kepada kita. Tanpa melewati fase-fase kejatuhan, kita akan sulit mengenal dan merasakan kasih sayang Allah bagi kita dan kita cenderung jatuh kepada keangkuhan. Ada dua hal yang kita pelajari: Pertama, manusia mungkin melupakan kita tapi Allah tidak pernah melupakan kita. Mefiboseth dibawa oleh Allah melalui raja Daud dari tempat yang gelap menuju istana yang megah. Bersiaplah menantikan kebaikan Allah melalui raja-raja Daud. Allah sedang mempersiapkan orang-orang murah hati yang mungkin tidak kita kenal untuk menunjukkan kasih mereka bagi kita. Karenanya tetaplah percaya dan berharap bahwa bahwa Allah sedang menanti-nantikan waktu terbaik untuk menunjukkan kasih sayangNya pada kita.

Marilah kita tetap menjalani masa-masa kejatuhan itu dengan iman. Namun bersiaplah jika kejatuhan kita diubah oleh Allah menjadi kejutan yang berlimpah sukacita. Kedua, hiduplah sebagai penghuni kerajaan surga bukan penghuni Lodebar. Ketika Mefiboseth masih mendiami Lodebar, hidupnya penuh dengan tekanan, frustrasi, depresi, kehilangan kepercayaan diri sehingga ia menyebut dirinya sebagai anjing yang mati.

Darah Kristus telah menebus kita dan menjadikan kita anak-anak Bapa. Karenanya, sungut-sungut, kemarahan, dendam, dan tidak percaya diri seharusnya bukanlah para penghuni kerajaan sorga. Di tengah kejatuhan dan kesulitan yang kita tengah jalani ini, marilah kita tetap melangkah di dalam semangat, motivasi dan pemikiran positif karena Allah berdiri di pihak kita. KuasaNya jauh lebih dahsyat dari segala kuasa dunia yang sering menjatuhkan kita. Allah yang menghantarkan Mefiboseth ke istana raja adalah Allah yang juga akan menghantarkan kita menemukan kesembuhan, pembaharuan hidup, dan kasih sayangNya yang tidak berkesudahan itu. Amin. (c)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru