Hidup yang paling indah dan paling bahagia adalah adalah senantiasa dalam sukacita.Hidup yang paling mujur dan paling manjur adalah hidup yang penuh ucapan syukur.Kepada jemaat Filipi Paulus menasihatkan, "Bersikacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (Filipi 4: 4). Ajakan dan nasihat ini disampaikan Paulus bukanlah pada waktu Paulus sedang berlibur dan bersenang-senang. Menyuruh orang lain bersukacita pada saat mereka mengalami keberuntungan, itu bisa-biasa saja.
Bersukacita pada saat mengalami sukses dan menikmati berkat, siapapun bisa. Tetapi Paulus saat menulis himbauan bersukacita senantiasa dalam Tuhan sedang berada di penjara di kota Roma. Dia dipenjara, bukan karena mencuri atau membunuh. Tetapi dia ditangkap dan ditahan karena karena Injil. Pada waktu itu memberitakan Injil Yesus Kristus adalah ilegal bagi para penguasa. Itu perbuatan melanggar hukum, baik hukum agama Yahudi, maupun hukum sipil Romawi. Paulus pada saat itu sedang terancam hukuman mati.
Pertanyaan adalah, apa rahasianya mengapa Paulus tetap mampu bersukacita walau dalam derita? Kuncinya adalah ini. Apapun yang terjadi pasti akan diberikan kekuatan untuk menahan penderitaan itu sehingga kita dimampukan bersukacita "di dalam Tuhan". Kata kunci adalah "di dalam Tuhan".Jika kita tetap di dalam Tuhan, maka apapun yang terjadi, itu adalah sesuai dengan rancangan Tuhan.Tuhan tidak memberikan beban kepada hambanya di luar daya pikul yang dimilikinya (1 Korintus 10: 13). Karena bagi Paulus, Tuhan itu adalah dekat. Di ayat 5 dia katakan "Tuhan sudah dekat!". "God is near!"."Jonok do Tuhan i!" (Batak). Allah itu dekat, hanya sejauh doa. Allah itu "Immanuel" (Allah beserta kita).Jika Allah beserta kita, siapakah lawan kita? Bahkan, lebih ekstrim lagi, Paulus tidak takut mati di dalam menjalankan tugas panggilannya itu. Paulus mengatakan dalam Filipi 2: 21, "Sebab bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan". Karena Paulus mengaminkan bahwa hidupnya adalah untuk Kristus, mengabarkan Inji Kristus dan melayani Kristus dan gereja-Nya, maka apapun yang terjadi dalam hidupnya, dia tetap mampu bersukacita. Kepada jemaat di Tesalonika dia berkata: "Bersukacitalah senantiasa, tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu" (1 Tesalonika 5: 16-18). Itu sama dengan ucapan Paulus kepada jemaat Filipi: "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa, permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus."(Filipi 4: 5- 6). Dan, jika manusia mengikuti resep ini, maka dampaknya adalah "damai sejahtera" (peace) akan memenuhi hati kita, memelihara hati dan pikiran kita. Hati dan pikiran adalah dua organ manusia yang menentukan kualitas hidup.
Apakah kita senang atau susah, kuatir atau tenang, berkekurangan atau berkecukupan, benci atau sayang, semua ditentukan suasana hati dan pikiran. Kata "memelihara" dalam Filipi 4: 6 itu sama artinya dengan "menjaga" (to guard). Damai sejahtera Allah itu merupakan "pelindung" dan "penjaga" hati dan pikiran agar tidak dimasuki hal-hal yang bisa merusak suasana hati dan pikiran kita. Kalau hati tetap sehat, pikiran tetap sehat, maka kita akan mampu bersukacita senantiasa dan bersyukur dalam segala hal. Kalau hati dan pikiran tetap dikawal "pasukan damai sejahtera", maka kita akan jauh dari "serangan jantung" yang paling ditakuti itu. Itulah kualitas hidup nomor satu.
Dalam hidup ini, manusia sering bertanya-tanya: mengapa saya menderita? Mengapa Tuhan mengizinkan pandemi Covid-19 (virus corona) yang mengejutkan dunia Mengapa saya jatuh miskin? Mengapa kekasih saya dipanggil Tuhan? Mengapa saya gagal dalam ujian? Mengapa lamaran kerja saya ditolak? Mengapa keluarga saya tidak bahagia? Mengapa anak-anak saya menyimpang? Mengapa? Mengapa? Mengapa? Itulah persoalan yang menggerogoti hati dan pikiran manusia, dan yang membuat manusia tidak bisa hidup bersikacita dan bersyukur senantiasa, seperti nasihat Paulus. Benar, tidak ada manusia yang bebas dari masalah.Tidak ada orang yang tidak pernah menghadapi tantangan. Malahan, Tuhan seringkali mengizinkan persoalan dan tantangan itu datang, agar manusia ditempa menjadi kuat dalam iman untuk tugas yang akan dibebankan Tuhan. Jika sesorang mau naik level maka dia harus siap menghadapi tantangan atau devil. Ketika kesulitan dan kedukaan itu datang, kita sering tidak mengerti apa maknanya.
Banyak hal tidak kita fahami dalam perjalanan jiarah ini. Sama dengan ketika Yesus membasuh kaki murid-muridnya, mereka tidak mengerti apa tujuannya. Yesus berkata "Sekarang kamu tidak mengerti, tetapi nanti kamu akan mengerti" (Yohanes 13: 7). Akhirnya Petrus mengerti, bahwa rendah hati adalah syarat untuk melayani. There is no ministry without humility.
Mengapa Paulus mampu menghadapi semua duka, nestapa dan derita dalam hidupnya? Dia dipenjarakan tanpa perbuatan jahat. Dia didera di luar batas, kerap kali dalam bahaya maut, dipukul dan disesah, dilempari dengan batu, lapar, dahaga dan seterusnya. Semua dia lalukan untuk memelihara dan menggembalakan jemaat. Tetapi puncak dari iman percaya Paulus dia tuangkan dalam Roma 8: 28, bahwa "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia…".
Dalam nyanyian Rohani dikatakan: "Suka-duka dipakainya, untuk kebaikanku". Ayat ini disebut sebagai "bantal rohani" (spritual pillow). Maksudnya, dengan merenungkan dan menghayati ayat ini, apapun yang menerpa kehidupan kita, maka ayat ini akan membuat hati kita tenteram, dan pada malam hari kita bisa tidur lelap bagaikan memeluk bantal guling. Dengan ayat ini penyakit insomnia akan menjauh dari kita.
Ketika masalah datang, ketika peristiwa menghadang, sering kita tidak faham pada awalnya. Tetapi nanti kita akan mengerti, seperti Yesus katakan, "sekarang kamu tidak mengerti, tetapi nanti kamu akan mengerti". Manusia hanya tahu kulit-kulit persoalan.Tetapi Tuhan yang Maha Tahu adalah alfa dan omega, yang sudah tahu awal dan akhir segala peristiwa. Dari awal, Tuhan sudah memilih kita (mengurapi) kita untuk suatu tugas.S ama seperti Daud sudah diurapi Tuhan menjadi raja, walau dia masih tetap menggembala domba. Baru 13 tahun kemudian dia masuk istana.Setelah mengalami banyak cobaan dan nestapa yang dirancang Raja Saul yang merasa iri kepadanya.Sama seperti Yusuf, yang dicemburui dan hampir dibunuh oleh saudara-saudara kandungnya. Tetapi Tuhan punya rencana agung untuk mengangkat Yusuf menjadi penguasa. Firaun mengangkat Yusuf menjadi pejabat tinggi Mesir yang menyelematkan dunia dari resesi dunia.
Tahun 1990-an saya pun pernah dihambat, dihadang untuk menjadi Bishop GMI. Tetapi Tuhan membuka jalan bagi saya menjadi Sekretaris Umum PGI.Tahun 2009/2010 saya pun dihambat lagi untuk menjadi bishop GMI.Tetapi Tuhan membuka jalan bagi saya untuk ambil program doktor yang kedua adalah bidang Ilmu Politik, sehingga sampai sekarang saya dipakai sebagi dosen tetap di Universitas Pelita Harapan, yang masa pensiunnya tidak ada, sepanjang saya masih kuat. Inilah yang dimaksud dengan kata-kata "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan…".
Dengan ayat-ayat mas di atas, maka kita akan terhindar dari rasa marah, rasa dimusuhi, rasa terhina, hilang kendali, emosi, iri hati, kecewa dan sebagainya. Sebaliknya hidup kita akan dipenuhi dengan rasa damai, sukacita, tegar dan segar, berdiri teguh tidak goyah, percaya diri, terutama menghasilkan buah dan memberkati. Hidup kita akan menjadi berkat. Itulah panggilan utama setiap orang percaya: Diberkati supaya menjadi berkat.
Di tengah terpaan virus corona, marilah kita tetap percaya, bahwa Tuhanlah yang mengendalikan dunia. Dia sedang melakukan transformasi ciptaannya. Bagaikan sebuah computer, Tuhan sedang melakukan "reboot", supaya dunia ini semakin baik, semakin aman, semakin bersatu dan semakin sadar bahwa manusia hanya ciptaan.Tuhan sedang "mereboot" keluarga-keluarga supaya lebih akrab. Tuhan sedang melakukan reboot cara kerja kita supaya lebih produktif. Tuhan sedang mereboot gereja-gereja kita supaya lebih kreatif melayani dan mengabarkan Injil. Amin. (c)