Sejatinya gereja di dunia ini selalu berhadapan dengan berbagai zaman dan situasi yang berbeda-beda. Sehubungan dengan perjalanan waktu dan perobahan zaman itu gereja tidak boleh tergilas dan terseret. Setiap zaman yang dihadapinya justru semakin mendewasakannya serta selalu berbenah diri untuk merancang strategi pelayanan yang kekinian (kontekstual). Dengan kata lain zaman yang berubah-ubah menantang gereja untuk semakin menunjukkan jati dirinya sebagai persekutuan orang-orang percaya di dunia ini. Dimana jemaat selalu merindukan sentuhan dan penguatan iman secara langsung dari pihak gereja. Maka gereja harus tetap merancang pelayanan yang up to date menghadapi setiap perobahan zaman ini. Sehingga warganya tetap terjaga dan terpelihara karena gereja memberikan pelayanan yang terbaik kepada warganya dimanapun berada.
GEREJA DI ERA DIGITAL
Mau tidak mau gereja tidak boleh tutup mata terhadap era baru digital. Salah satu ciri era ini ditandai dengan kehadiran digital, jaringan internet khususnya teknologi informasi komputer yang tergolong canggih. Hal itu terjadi hampir di setiap lini kehidupan manusia secara cepat dan terjangkau. Kehadiran media baru era digital ini memiliki karakteristik yang cepat diciptakan melalui jaringan atau internet. Media massa beralih ke media baru atau internet karena dianggap tidak terlalu lama dan praktis dalam sebuah penyampaian data dan informasi.
Maka tidak masuk akal kalau gereja tidak memanfaatkan kesempatan ini dalam meningkatkan pelayanannya kepada jemaat. Dengan demikian gereja harus merespon era ini dalam melaksanakan pelayanan secara maksimal kepada warganya. Sehingga mereka tidak menganggap bahwa gereja ketinggalan zaman dalam menjawab kebutuhan pelayanan.
Maka pertanyaannya sekarang ialah bagaimana gereja melayani di era digital ini. Era digital mengajak kita untuk menggunakan berbagai media yang dapat membantu pelayanan gereja dan memberi manfaat bagi warga jemaat. Era digital ini menuntut gereja untuk berbenah diri dan menciptakan berbagai bentuk pelayanan yang menyentuh segi kehidupan warganya. Kalau tidak, gereja semakin lama semakin ditinggalkan oleh warganya dan pindah ke gereja yang lain yang menyediakan program pelayanan berbasis digital. Mereka hanya terdaftar sebagai anggota jemaat namun pelayanan kerohanian diperoleh dari gereja lain. Karena dianggap pelayanan yang kurang berkualitas dan ketinggalan zaman. Baik ibadah, penyampaian firman dan penggunaan perangkat-perangkat ibadah masih tradisional yang tidak cocok lagi. Termasuk pelayanan kepada semua kategorial, anak-anak, pemuda dan terutama lansia.
Gereja yang kontesktual di era digital justru membangkitkan semangat pelayanan terhadap warga jemaat untuk menjawab kebutuhan kehidupan warganya. Sehingga warga merasakan manfaat dari gereja itu sendiri. Pelayanan gereja yang kontekstual di era digital ialah bagaimana pelayanan semakin baik dan menyentuh kehidupan warga secara langsung. Mulai dari anak-anak, dewasa hingga lansia dan jompo tidak luput dari perhatian gereja.
PELAYANAN SECARA ONLINE
Salah satu bentuk pelayanan gereja dalam era ini ialah pelayanan berbasis online. Artinya semua pelayanan gereja dapat disediakan dalam bentuk online. Mulai dari dokumen, warta, statistik, tata ibadah dan keuangan dan pemberitaan firman. Termasuk penyediaan data base bagi warga jemaat dari anak kecil hingga orangtua-lansia. Data base disusun secara personal bukan berdasarkan kepala keluarga (KK) untuk memudahkan pemantauan dan kontak langsung. Melalui pelayanan online ini warga jemaat dapat mengakses informasi dan bentuk pelayanan yang dilakukan gereja. Dapat dilihat oleh warga jemaat dimanapun berada termasuk kegiatan-kegiatan yang berlangsung. Gereja menyediakan berbagai informasi untuk diketahui oleh warganya. Hal lain pelayanan gereja yang perlu diperhatikan di era ini adalah menyangkut peribadahan. Misalnya ibadah-ibadah Minggu di gereja sudah harus tertata dengan baik, mulai dari perlengkapan ibadah, pelayan dan sarana yang memadai. Penyampaian firman Tuhan yang menumbuhkan keyakinan, harapan dan sukacita para pendengar harus diutamakan. Untuk merealisasikan ini perlu gereja memiliki situs (website) resmi sebagai media pendukung yang dikelola dengan baik.
MEMAKSIMALKAN PARTISIPASI JEMAAT
Kita menyadari bahwa kehadiran gereja di dunia ini harus memiliki visi dan misi yang jelas dan Alkitabiah. Misalnya "Menjadi berkat bagi dunia" (bnd. Kej. 12:1-3; Mat. 5:13-16). Visi ini juga dimiliki oleh banyak gereja di dunia ini seperti halnya gereja HKBP. Namun perlu dievaluasi hasilnya di lapangan apakah sesuai dengan yang diharapkan. Gereja menjadi berkat bagi dunia, itulah yang disebutkan Yesus dalam kitab Injil: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk (Mark. 16:15).
Hal itu dipertegas Yesus ketika naik ke sorga: "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8)". Artinya Injil Yesus Kristus harus ditransformasikan ke dalam berbagai bentuk sehingga menjadi berkat bagi dunia ini melalui visi dan misi gereja yang jelas.
Kemudian, gereja ada karena jemaatnya ada. Maka kekuatan yang paling besar di dalam gereja adalah warga jemaatnya. Maka gereja harus lebih banyak melibatkan warganya untuk ambil bagian dalam pelayanan. Keikutsertaan warga jemaat dalam pelayanan gereja bukan hanya sebagai 'song leader' dalam ibadah. Atau memberikan persembahan atau kewajiban kepada pembangunan gereja, bukan! Namun dalam banyak hal tentu warga jemaat memiliki potensi dalam pelayanan gereja termasuk mengambil keputusan menyangkut pelayanan. Potensi itu muncul ketika gereja merancang pelayanan yang baru sehingga warga jemaat yang bersedia dan memiliki kemampuan untuk pelayanan dapat dilibatkan. Baik pelayanan di bidang hukum, politik, sosial, budaya, pemberdayaan ekonomi, teknik informatika (IT), IPTEK dan bidang lain. Pemimpin gereja harus bekerja sama dengan warga jemaat untuk merealisasikan seluruh program yang dirancang. Jadi tidak hanya dikerjakan oleh pelayan penuh waktu dan pimpinan gereja semata.
Memang selama ini warga jemaat telah ikut berpartisipasi dalam melaksanakan pelayanan gereja. Namun di era digital ini perlu lebih dimaksimalkan lagi, itulah salah satu misi gereja: "Memaksimalkan partisipasi warga jemaat dalam membangun Tubuh Kristus (baca: Gereja)â€. Misalnya pelayanan gereja di bidang Koinonia atau persekutuan menjadi jantung gereja yang kontekstual. Persekutuan yang dimaksud bukan hanya dalam bentuk ibadah dan rutinitas dan seremonial saja tetapi Koinonia yang benar ialah menghadirkan kerajaan Allah di tengah-tengah dunia yang majemuk yang diterjemahkan secara benar. Koinonia bukan hanya persekutuan di antara sesama warga jemaat tetapi juga di luar jemaat (non Kristen). Bermitra dengan pemerintah, swasta, agama lain dan lembaga internasional. Maka sangatlah tepat jika warga jemaat dilibatkan dalam setiap aras pelayanan Koinonia dalam mensukseskan program-program tersebut. Persekutuan-persekutuan kecil di tengah-tengah gereja dapat lebih diberdayakan sebagai perpanjangan tangan gereja. Termasuk persekutuan marga-marga dan kelompok kecil di tengah-tengah masyarakat dan gereja harus disentuh sebagai pilar-pilar pelayanan. Pelayanan online bagi anak muda, remaja dan lansia melalui live streaming tetap dilaksanakan.
Maka pandemi Covid 19 saat ini sebenarnya memaksa kita untuk melakukan pelayanan online di era ini. Dengan memanfaatkan berbagai media digital yang tersedia dan bermutu. Penggunaan Youtube dan yang sejenisnya menjadi sarana pendukung bagi pelayanan gereja.
KERJASAMA YANG BAIK
Untuk melaksanakan pelayanan gereja yang kontekstual sebagaimana disebutkan di atas membutuhkan kerjasama di antara sesama pelayan dan pemimpin gereja dan warga jemaat. Kemudian masing-masing bidang pelayanan gereja melalui Koinonia, Marturia dan Diakonia hendaknya saling mengisi dan saling mendukung. Sehebat apapun program yang direncanakan kalau tidak didukung dengan kerja sama di antara pimpinan gereja hasilnya tidak maksimal. Bahkan pelayanan gereja akan kehilangan kendali dan tidak ada tujuan yang jelas.
Dengan demikian Gereja yang kontekstual akan menjawab persoalan kehidupan warga jemaatnya semaksimal mungkin di zaman ini berdasarkan AD/ART gereja itu. Dan yang paling penting diingat, gereja yang kontekstual di era ini tidak akan menghilangkan jati dirinya sebagai tubuh Kristus. Namun justru memberi warna tersendiri bagi dunia melalui pelayanan gereja, let the church be the church-biarkan gereja tetap gereja.
Maka sangat ketinggalan zaman jika gereja tidak memanfaatkan dan menganggap era digital ini bukan sebagai karunia Allah dalam kehidupan gereja. Gereja yang tidak menyesuaikan diri dengan era yang sedang berlangsung akan ditinggalkan oleh warganya. Jadilah gereja yang kontesktual di tengah-tengah dunia yang berubah-ubah (majemuk) melalui amanah dari Tuhan Yesus Raja Gereja (Mat. 28:16-20).a