Ada dua yang"harus" dalam firman Tuhan sebagaimana kita dengar dalam Ulangan 18:9-14 ini: menghindarkan dan meningkatkan. Harus yang pertama, "harus menghindarkan" yaitu menghindarkan diri dari kekejian. Harus yang kedua, "harus meningkatkan", yaitu meningkatkan kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan. Keduanya tidak bisa ditawar-tawar. Tidak bisa dikompromikan. Tuhan sendiri yang mengatakannya. Hanya saja, tujuannya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri.
Kita mulai dengan melihat harus yang pertama: harus menghindarkan diri dari kekejian. Pada ayat 9 dikatakan, "Apabila engkau sudah masuk ke negeri yang kepadamu oleh Tuhan, Allahmu, maka janganlah engkau belajar berlaku sesuai dengan kekejian yang dilakukan bangsa-bangsa itu". Kekejian yang dimaksudkan di sini adalah mempersembahkan anak laki-laki atau perempuan sebagai korban. Praktek mempersembahkan anak laki-laki atau perempuan dalam api terjadi di Kanaan pada masa itu. Mereka mempersembahkan anak sulung kepada dewa kesuburan Molokh (lihat Ulangan 12:31). Betapa kejinya mereka mengorbankan manusia, anak sendiri pula, kepada dewa.
Perlu sangat kita tekankan bahwa yang paling berharga di rumah kita adalah manusia, bukan barang, bukan harta, bukan cita-cita dan sebagainya. Mengapa? Karena manusia berharga di mata Allah. Apa yang berharga bagi Allah harus kita hargai. Satu-satunya Anak yang dikorbankan untuk kebaikan kita adalah Yesus Kristus, Anak Allah, untuk keselamatan kita. Kita dan anak-anak kita dan seisi dunia ini. Firman Tuhan ini juga menyadarkan kita akan tugas panggilan kita merawat kehidupan, bukan hanya kehidupan kita pribadi tetapi juga kehidupan sesisi rumah kita dan bahkan yang tidak terjangkau kita secara fisik. Dunia kita masih dicemari tindak kekejian dengan mengorbankan orang lain untuk kepentingan dan kesenangan diri sendiri. Kekejian seperti ini harus bebas dari orang-orang percaya. Lebih dari itu, tugas kita untuk menolong orang-orang yang dikorbankan untuk tujuan ekonomi, politik bahkan agama sekalipun.
Selain kekejian mempersembahkan anak sebagai korban (dalam konteks masa kini mengorbankan sesama manusia untuk kepentingan diri sendiri) yang harus dihindarkan adalah keterikatan kepada kuasa kegelapan. Dalam firman Tuhan ini kuasa kegelapan berkaitan dengan "pelaku" dan "pengguna". Kedua-duanya harus dihindari. Pelaku yang dimaksudkan di sini sebagaimana kita lihat pada ayat 10-11 adalah petenung, peramal, penelaah, penyihir, pemantera. Pengguna sebagaimana disebutkan dalam ayat 11 adalah yang bertanya kepada arwah atau kepada roh, yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati. Semua ini adalah kekejian bagi Tuhan yang harus dihindarkan.
Satu hal yang sangat memprihatinkan kita sebagai orang Kristen pada saat ini adalah masih adanya (bakan terkesan meningkat jumlahnya) orang yang terikat pada kuasa kegelapan (okultisme).Ada beberapa tempat di Indonesia ini yang ramai dikunjungi orang, termasuk orang Kristen melakukan ritual kuasa kegelapan. Mereka melakukannya supaya disegani orang, supaya bisa naik jabatan, supaya dapat jodoh, supaya bisnis lancar dan sebagainya. Padahal, usia kekristenan sudah ratusan tahun dan tingkat pendidikan semakin baik. Para pelaku atau penyedia jasa okultisme ini malah layaknya sudah seperti sebuah bisnis yang laris pada saat ini. Praktek-praktek kuasa kegelapan seperti ini harus kita hindari, sebab semuanya itu adalah kekejian bagi Tuhan.
Dari beberapa sumber yang dapat kita temukan menyatakan bahwa mereka yang terlibat kuasa kegelapan (berdukun atau memiliki jimat dan sejenisnya) biasanya diikuti oleh sikap dan perilaku buruk juga seperti gampang tersulut amarah, berpikir dan berperilaku cabul, suka mencuri atau korupsi, tidak hidup tenang dan sebagainya. Artinya, okultisme tidak hanya merusak diri sendiri tetapi juga bisa menjadi sumber petaka dan derita bagi orang lain. Itu jugalah sebabnya mengapa kita semua harus bebas dari keterikatan terhadap kuasa kegelapan. Orang Kristen adalah terang dunia. Terang yang memberi kehidupan, tuntunan dalam menjalani hidup, enerji dalam menekuni tanggung jawab.
Harus yang kedua adalah “meningkatkan kesetiaan kepada Tuhan". Dalam ayat 13 dikatakan, "Haruslah engkau hidup dengan tidak bercela di hadapan Tuhan Allahmu."Kata "tidak bercela" di sini biasanya digunakan untuk syarat ternak persembahan yang dipersembahkan kepada Tuhan. Jadi, hidup dengan tidak bercela di hadapan Tuhan adalah yang percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Menempatkan Tuhan sebagai yang pertama dan terutama dalam hidup. Meminta petunjuk dari Tuhan yang hidup bukan kepada roh-roh orang mati. Meminta kekuatan dari Tuhan bukan dari dukun atau petenung. Mempersembahkan hidup untuk Tuhan, bukan mengorbankan orang lain.
Akhirnya, firman Tuhan ini mau menegaskan bahwa Tuhan saja cukup dan kecukupan dalam hidup ini datang dari Tuhan. Tidak berarti bahwa kalau kita setia kepada Tuhan maka jalan hidup kita akan selalu lurus dan mulus saja. Kuasa iblis masih ada di sekitar kita. Waspadalah, iblis tidak takut dan takluk kepada manusia, ia hanya takut dan takluk kepada Tuhan yang diam dalam diri dan menjaga orang percaya. a