Sebuah nyanyian yang kerap kali dikumandangkan dalam Kommunitas Taize yaitu nyanyian: “Ubi Caritas et amor, Ubi Charistas Deus ibies. Artinya : “Di dalam cinta dan kasih. Di dalam cinta hadirlah Tuhanâ€. Pujian ini mengingatkan dan meneguhkan umat percaya di manapun kita berada, apakah dalam situasi normal atau tidak normal apapun situasi yang menerpa kita, umat percaya diteguhkan bila cinta dan kasih hadir dalam situasi itu hadirlah Tuhan. Ini menunjukkan bahwa cinta kasih menjadi wujud dan symbol kehadiran Tuhan dalam perjalanan hidup manusia sepanjang masa.
Sejatinya cinta atau kasih ternyata bukan saja menjadi penanda Allah hadir tetapi juga memengaruhi dan mentransformasi hidup manusia menjadi lebih bermakna. Yohanes atau murid yang dikasihi Yesus menuliskan Injil ini agar dunia percaya bahwa Kristus itu adalah Mesias, dan orang yang memercai-Nya akan menikmati hidup bukan hanya hidup temporary melainkan kehidupan eternity (kekekalan, bnd. Yoh 20:31).
Penulis Injil ini menyebut “Sekarang Anak manusia dipermuliakan dan Allah mempermuliakan Dia†(ay. 31). Kata “sekarang†sering menunjuk arti yang kontras berbeda dengan yang situasi sebelumnya. Misalnya sebelumnya Petrus adalah penjala ikan tetapi sekarang dipanggil menjadi penjala manusia, sebelumnya Paulus adalah pembasmi orang percaya, tetapi sekarang justru menjadi duta Kristus. Onesimus sebelum ia percaya kepada Kristus, hidupnya tidak berguna, tetapi sekarang berguna karena dia sudah percaya kepada Kristus. Dengan kasih Kristus mengubah hidup umat menjadi bermakna untuk kemuliaan bagi Tuhan, dan sarana berkat bagi dunia di mana kita hidup dan berkarya.
Sekarang Anak manusia dipermuliakan dan Allah mempermuliakan Dia†(ay. 31).
Anak manusia dipermuliakan justru bukan dengan hal-hal tampilan lahiriah, bukan karena memiliki harta dan tahta yang hebat, melainkan terwujud lewat tindakan-tindakan sehari-hari, yang disisi dengan hidup merendahkan hati, hingga mau merendah bagaikan budak yang melayani tuannya dengan sepatuh-patuhnya. Kerendahatian ini menjadi teladan bagi kita. Kerendahatian ini merupakan mutiara yang indah dalam pertemanan dengan siapapun. Di mana ada rendah hati di situ ada kasih. Di mana ada kasih, di situ Allah hadir, menyertai dan memberkati kita.
Dalam ayat 33, Yesus menyebut : “bahwa Ia tidak lama lagi bersama dengan mereka. Sebab Ia akan pergi, di mana mereka tidak mungkin datang ke tempat ituâ€. Ini menunjukkan bahwa ada saat-Nya Yesus tidak bersama dengan para murid secara phisical / ragawi. Namun itu bukan berarti Yesus mau menelantarkan atau mengabaikan hidup para murid. Ada saatnya Yesus meninggalkan mereka secara ragawi, namun ada saatnya Yesus tetap bersama dengan mereka secara spiritual / secara rohani. Peneguhan Yesus ini menjadi kekuatan dan suka cita bagi orang percaya kini dan di sini. Sekalipun Yesus tidak bersama dengan kita secara ragawi, namun kebersamaan itu bukanlah berlalu begitu saja, melainkan tanda kebersamaan Ia tetap hadir yaitu di saat hidup yang kita jalani diisi dengan “tatanan baruâ€, yaitu perintah baru: “saling mengasihi†(ay. 34).
Kata mengasihi / agape (Yunani) merupakan identitas umat percaya di dunia ini. Dan tindakan mengasihi selalu baru, tidak pernah out of date dan tidak pernah expired / kedaluarsa. Setiap manusia rindu dikasihi, artinya tindakan mengasihi ini ternayta “need†/ kebutuhan kita bersama.
Pertanyaannya adalah bagaima kita melakoninya? Kita dapat melakoninya bila manusia menyadari sepenuhnya bahwa Kristus sudah lebih dahulu mengasihi kita (bnd. 1 Yoh 4:19). Kasih-Nya telah mengubah hidup kita menjadi hidup bermakna. Inilah pendorong dan kekuatan kita untuk saling mengasihi satu dengan yang lain. Kita mampu melakukannya bila Kristus berdiam dan tinggal di dalam kita. Sebab di luar Kristus kita tidak dapat berbuat apa-apa (bnd. Yoh 15:5 c).
Tatatan baru saling mengasihi bukanlah sebuah nasehat, bukan pula sebuah pilihan, serta bukan kondisional sifatnya tergantung kepada situasi, melainkan sebuah perintah baru, yang selalu relevan sepanjang masa. Dengan menghidupi perintah baru penanda kita adalah murid-murid Tuhan Yesus (ay.35).
Situasi yang kita hadapi saat ini secara khusus dengan penyebaran Covid 19 sangat berdampak luas dalam kehidupan dalam masyarakat. Bukan saja berdampak ekonomi, misalnya kehilangan pekerjaan, karena PHK, sulit mendapatkan pekerjaan, namun bisa berdampak dalam relasi kita dengan Tuhan surut, ada yang kecewa kepada Tuhan , karena situasi yang menerpa dalam keluarga, kita merasa Tuhan tidak perduli dengan kita lagi, Dia sudah menjauh dari kita. Tetapi satu hal yang kita imani Tuhan tidak pernah absen meninggalkan kita, Dia perduli, dan solider, bahkan Dia rela menghamba demi untuk kehidupan dan keselamatan umat. Semua ini adalah wujud konkrit kasih dan setia-Nya kepada dunia ini.
Perintah baru, hidup saling mengasihi terhadap sesama khususnya dalam menghadapi situasi Covid saat ini, menjadi peluang yang relevan untuk “menghadirkan Kristus†lewat solidaritas berbagi dengan sesama. Dalam keadaan suka dan duka tegtap menjadi kesemaptan untuk menularkan kasih dan kepedulian bagi sesama.
Pentingnya hidup bermakna dan berbagi di masa covid menjadi tugas dan panggilan nyata kita. Dengan sikap ini orang akan tahu bahwa kita adalah murid-murid Tuhan Yesus yang setia. Dan suka ciga bagi kita bahwa Allah akan mempermuliakan kita, dengan memberkati kita dan memberi kehidupan kekekalan bagi setiap orang yang setia.
Sebuah kesaksian sosok yang bernama Gandhi. Gandi sangat tertarik dengan Kekristenan dan ia mempelajari Alkitab dan ajaran-ajaran Kristus. Dia serius mempertimbangkan untuk menjadi seorang Kristen atau pengikut Kristus, namun karena sikap perilaku orang Kristen tidak hidup sesuai, tidak meniru, melakoni sikap Kristus, sehingga Ia mempertimbangkan menjadi pengikut Kristus.
Gandhi pernah berkata: "Saya tidak pernah menolak Kristus. Saya suka Kristus Anda. Tapi saya tidak suka dengan orang Kristen Anda." Ini menjadi cambuk bagi kita, ternyata sering kali kehadiran kita sebagai murid-Nya bukan membuat orang lain menjadi lebih dekat dan datang kepada Kristus sebaliknya menjauh dari Kristus. Tuhan ampunilah aku dalam dosaku ternyata aku sering melakoni bukan “hamba†/ murid Tuhan, sebaliknya “hama†Tuhan, yang mendukakan hati Tuhan. Sadarkan kami Tuhan bahwa kami hadir di dunia ini bukan sebuah kebetulan, melainkan sebuah panggilan untuk “menghadirkan Kristus†dalam realitas kekinian sehingga banyak lidah akan mengaku dan percaya Engkaulah Mesias, penyelamat dunia ini. Amin (c)