Pandemi Covid-19 sudah terjadi sejak Maret 2020 yang lalu hingga saat ini. Tentunya kita bertanya-tanya, kapankah Pandemi ini akan berakhir? Berbagai himbauan harus dilaksanakan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Di samping himbauan itu, pemerintah juga mengusahakan memulihkan perekonomian. Itu sebabnya, mau tidak mau pemerintah menghimbau agar kita memulai kebiasaan atau kenormalan yang baru (new normal). Tentunya mengubah kebiasaan dengan tiba-tiba agak sulit untuk dilakukan. Merubah haluan memang agak sulit dilakukan untuk semua kalangan, baik di tingkat anak-anak, remaja dan juga orangtua.
Memaksimalkan pelaksanaan himbauan pemerintah tersebut, selalu diinformasikan atau disuarakan melalui mass-media. Pemberitaan itu bukan hanya di awal ketika virus itu terdeteksi/diketahui, namun hingga saat ini dan untuk jangka waktu yang panjang yang belum dapat ditentukan. Artinya, usaha dan perjuangan itu harus ditindak-lanjuti hingga vaksin ditemukan sesegera mungkin. Namun dalam situasi sulit ini (dengan kebiasaan baru), bagaimana sikap orang Kristen atas pandemi Covid-19 itu? Apakah kita juga perlu merubah haluan mengenai sikap sehari-hari? Dari berbagai sikap orang Kristen yang sesungguhnya, ada beberapa yang harus kita prioritaskan di masa-masa sulit ini, yaitu:
a.Kepatuhan kepada Allah tanpa rasa takut
Tokoh-tokoh Alkitab berdasarkan panggilan Allah selalu diceritakan bahwa mereka sering menghadapi tantangan, ancaman dan masalah. Namun mereka menunjukkan sikap patuh atau setia kepada Allah tanpa rasa takut. Tantangan atau kesulitan itu bukanlah penghambat bagi mereka untuk setia. Justru kesulitan dijadikan sebagai alasan untuk meminta kekuatan dan penyertaan Allah dalam hidup mereka. Kesetian itu akan mendatangkan berkat dan menjauhkan kutuk atau pencobaan. Mengapa mereka patuh kepadaNya? Tentunya karena mereka benar-benar mengenal dan percaya kepadaNya. Mereka yakin bahwa janji penyertaan itu akan selalu ada. Demikian juga halnya kepada kita sekarang, penyertaan itu tetap kita rasakan.
Salah satu tokoh Alkitab yang patuh kepada Allah tanpa rasa takut yaitu Abraham. Dia setia atas panggilan Allah walau sangat sulit diterima secara logika manusia dengan perintah: "Pergilah dari negerimu, sanak saudaramu, rumah bapamu ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu" (Kejadian 12:1). Sebelum panggilan tersebut, kehidupan Abraham tergolong sudah mapan, namun kesetiaannya dia rela meninggalkan itu semua dan pergi sesuai perintah Allah. Perintah Allah yang lain adalah untuk mempersembahkan anak tunggalnya sebagai korban bakaran bagi Allah. Secara rasional sangat sulit dilakukan (hal itu adalah tantangan). Tetapi atas kepatuhan itu, Abraham tetap melakukan tanpa rasa takut. Demikian juga sikap orang Kristen atas Pandemi Covid-19 itu agar selalu menunjukkan kepatuhan atau kesetiaan kepada Allah. Kesetiaan akan mendatangkan berkat, keselamatan dan kesembuhan. Itulah yang diharapkan setiap insan di bumi ini. Sebagaimana pemerintah adalah utusan atau wakil Allah, demikian juga kita setia (memberlakukan) anjuran pemerintah dalam memutus rantai penyebaran covid-19 itu.
b.Dinamis
Dinamis merujuk kepada segala sesuatu atau kondisi yang terus-menerus berubah, bergerak secara aktif dan mengalami perkembangan berarti. Artinya, jikalau pun kita menghadapi kesulitan atau masalah, kita harus mampu mengambil hikmah (makna positif) dari setiap peristiwa. Kita boleh mencatat dan merenungkan apa-apa saja dampak positif dari pandemi Covid-19 itu. Contoh: bagaimana keharmonisan rumahtangga kita di era ini? Apakah keharmonisan itu meningkat atau semakin menurun? Inisiatif apa saja yang harus kita perbuat dalam hal bertahan hidup? Langkah apa yang harus kita kerjakan untuk menstabilkan ekonomi dihubungkan dengan era industri 4.0? Apakah kita menyerah pada takdir? Apakah kita over protective sehingga harus mengurung diri di rumah (lock down)? Oleh karena itu kita perlu mengambil hikmah adalah sikap setiap orang Kristen di segala situasi.
c.Peduli
Dampak dari Pandemi ini tentu dirasakan oleh setiap orang. Oleh karena situasi inilah sikap peduli terhadap yang lain harus ditingkatkan. Saling berbagi, saling membantu adalah sikap orang Kristen yang sesungguhnya. Sikap itu memang sudah banyak dilakukan bahkan dimuat dalam berbagai media. Jangan hanya mementingkan diri kita sendiri, karena kita tidak mampu hidup sendiri tanpa orang lain. Kita adalah mahkluk sosial.
Sebagaimana Allah peduli atas semua ciptaan-Nya, demikian juga kita peduli terhadap sesama dan ciptaan Allah lainnya. Sikap peduli ini tidak memiliki batas, tidak hanya sesama suku, agama, ras dan budaya tetapi bagi setiap insan ciptaan Allah di permukaan bumi ini. Sikap kepedulian (jika diibaratkan dengan ukuran kecil atau besar) pasti akan berdampak luas. Sikap itu pasti tidak akan sia-sia.
d. Komitmen Sosial
Salah satu anjuran pemerintah adalah jaga jarak (physical distancing). Bukan berarti kita harus hidup secara individual. Justru di situasi ini, kita harus memiliki komitmen sosial karena kita adalah makhluk sosial. Bagaimana kita berinteraksi sosial di era sosial distancing? Hal ini memerlukan kemampuan dalam menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Bersosial di era digital berdasarkan perkembangan IPTEK. Mau tidak mau kita harus bersama-sama menjalaninya. Muda atau tua harus memiliki komitmen sosial yang tinggi. (d)