Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026

Menghayati Reformasi di Masa Pandemi

Redaksi - Minggu, 25 Oktober 2020 11:27 WIB
1.105 view
Menghayati Reformasi di Masa Pandemi
Foto dok
Pdt. Ro Sininta Hutabarat M.Th, Sekjen GKPI
Para Reformator telah tiada, namun semangat, keberanian, bahkan penderitaan, serta tulisan dan buku-buku mereka telah menjadi sejarah semangat dan pengharapan bagi Gereja. Di Kota Wittenberg 503 tahun yang lalu Kebangunan Reformasi dimulai, dan semangat reformasi bagi Gereja-Nya senantiasa memberi semangat baru di setiap pengharapan akan kebaikan.

Dan kita adalah umat yang dibebaskan oleh Anugerah Allah (Sola Gratia), yang memanggil kita untuk hidup dalam persekutuan dalam Kristus. Anugerah itu juga mengundang kita untuk hidup dan bekerja demi terwujudnya dunia yang adil, damai sejahtera. Suatu imperative teologis dari karya Allah Tritunggal dalam diri orang percaya untuk berpartisipasi dalam tugas perutusan Missio Dei di dalam dunia.

REFORMASI ADALAH KEHENDAK ALLAH
Sejak dahulunya YHWH senantiasa meninggalkan "remnant", sisa orang-orang percaya yang setia membangun Gereja-Nya. YHWH-lah yang senantiasa mereformasi Gereja-Nya. Pemimpin redaksi Reformasi Modern Michael Horton juga pernah mengatakan bahwa Gereja Reformed tidak me-reformasi dirinya sendiri, melainkan di-reformasikan oleh Kristus. Dan salah satu risalah reformasi Martin Luther yakni On the Freedom of a Christian yang juga merupakan privilege yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Kemerdekaan ataupun kebebasan juga diartikan sebagai suatu wujud keselamatan yang dinyatakan dan diperbuat oleh Allah melalui Anak-Nya yang Tunggal yang membebaskan umat-Nya dari belenggu dosa (Yoh. 3:16). Dan, kita semua adalah bagian dari orang-orang yang telah di-merdekakan oleh Tuhan. Itu berarti, pembebasan dari dosa bukan karena usaha atau upaya diri sendiri melainkan oleh karena Anugerah-Nya "Sola Gratia". Oleh sebab itu marilah kita setia memelihara nasihat serta ajaran-Nya dalam segala aspek kehidupan kita dengan tidak bersikap Antinomianisme.

Proses ini menegaskan kebenaran yang dimaksud juga dalam sebuah persekutuan gerejawi dari sudut pandang Lutheran dan bagaimana persekutuan hidup tidak untuk dirinya sendiri, tetapi melayani dan bersaksi di dalam dunia. Reformasi Gereja yang diperingati pada 31 Oktober 2020 tahun ini sudah berusia 503 tahun. Peringatan ini bukan sekedar perayaan kemenangan, tetapi meneguhkan pemahaman kita akan Allah yang kita sembah adalah Allah yang setia menyertai Gereja-Nya.

Dengan peringatan ini maka setiap Gereja, kiranya tetap berusaha pada upaya hidup iman yang benar, kepada Injil yang sejati dan kebenaran Firman Tuhan. Maka, dalam hal ini kita diingatkan pernyataan Luther bahwa kita harus selalu ingat bahwa sebenarnya kita adalah pengemis yang selalu harus mendapat belas kasihan.

Itu berarti reformasi tidak pernah selesai. Reformasi harus berjalan terus dalam kebenaran firman Tuhan. Itulah sebabnya dipakai istilah semper reformanda est secundum verbum Dei. Penyataan ini mengatakan Gereja Reformed tidak me-reformasi dirinya sendiri, melainkan di-reformasikan oleh Tuhan bukan kita. Kelihatannya sepele, tapi inilah esensi dari Kekristenan Protestan. Reformasi Teosentrik; Roh Kudus yang mereformasi Gereja melalui kekuatan kuasa firman.

DAMPAK REFORMASI
Pertanyaan terbesar saat ini sebagai manusia yang telah dimerdekakan oleh Tuhan adalah apa yang bisa kita hayati dalam kehidupan ketika diperhadapkan pada slogan "Ecclesia reformata, semper reformanda est secundum verbum Dei" terlebih di dalam situasi yang sedang kita hadapi khususnya pandemi Covid-19?

Hampir enam bulan ini gereja-gereja "ditutup", pelayanan-pelayanan sakramental dibatasi, bahkan tidak dapat dilakukan demi keselamatan bersama. Kegiatan pastoral online, katekese online dan kegiatan gereja lainnya juga dilakukan dan digalakan secara virtual hampir di setiap gereja. Harapannya, pada masa pandemi ini, supaya umat Allah tetap disapa, dan dilayani walaupun hanya secara virtual.

Tentu saja, ada yang hilang dengan model pelayanan demikian karena pelayanan pastoral atau persekutuan tidak dengan perjumpaan (face to face). Umat tidak lagi menghadiri Perayaan Ekaristi secara utuh. Semua hanya berada di dalam 'komuni batin', yang mungkin mereka sendiri tidak memahaminya. Tidak ada lagi pertemuan dari rumah ke rumah seperti halnya kebaktian kelurga, sektor, perkunjungan. Tentu ini bukanlah hal yang mudah untuk dilalui. Jika, memang begini keadaannya lantas apa yang harus dilakukan Gereja sekarang di tengah pandemi Covid-19 ?

MENGEVALUASI, MENGKRITIK DIRI SENDIRI
Berbicara mengenai konteks, tentu ada sekian banyak realitas yang dapat dihubungkan dengan apa yang disebut dengan konteks dalam berteologi. Tapi dari sekian banyak realitas itu, keberadaan wabah Covid-19 mendapat perhatian khusus dalam perkembangan teologi kontekstual saat ini.

Oleh sebab itu apa yang perlu dilakukan untuk mendapat perhatian sehubungan dengan konteks yang kita hadapi saat ini ? Terlebih lagi dalam usahanya Indonesia sebelumnya telah menerapkan sistem PSBB di beberapa bagian wilayah dan kini telah meng-upgrade sistem itu dalam sebuah era yang kita sebut dengan istilah New Normal-adaptasi hidup baru.

Maka, mengevaluasi diri dengan kritik yang sehat terhadap diri kita sendiri dirasakan perlu untuk semakin dibangun dan dijadikan prioritas pelayanan Gereja. Sebab dalam sitasi pandemi Covid-19 memaksa banyak gereja untuk memaksimalkan kemajuan teknologi. Selama ini teknologi selalu menjadi anak tiri. Hanya digunakan kalau tidak ada pilihan. Sekarang semua berlomba-lomba memaksimalkan teknologi yang menawarkan efisiensi dan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas penatalayanan di masing-masing Gereja. Dan tentunya hal ini juga dapat memperluasan area pelayanan.

Bagi gereja-gereja yang selama ini hanya terfokus pada pelayanan di panggung/mimbar, kini saatnya untuk menebarkan jalanya. Jika pelayanan hanya dibatasi pada pujian, musik, doa, dan kegiatan gerejawi lainnya, maka banyak talenta jemaat akan terbuang dengan sia-sia. Tidak semua orang diberi karunia yang berhubungan langsung dengan panggung. Para pelayan gereja harus berani keluar dari zona nyaman. Berbagai bentuk pelayanan di dalam maupun di luar gereja perlu ditawarkan. Jemaat perlu didorong dan diperlengkapi secara intensional.

Jemaat perlu dibekali dengan pemahaman dan panduan yang benar tentang penggunaan media sosial dalam pelayanan. Dan kini Gereja harus sesegara mungkin menata kembali fungsi dan perannya. Tentunya, bukan untuk 'gaya-gayaan' tetapi demi efektivitas dan efisiensi pelayanan dengan istilah smart and intelligent technology yang juga adalah bagian dari Gereja yang terus diperaharui dan Church is not out of Style and in fashion dengan beragam model pelayanan dan pewartaan online. Gereja masih akan terus hidup selama kita menyadari dengan sungguh bahwa keindahan dan keagungan semesta dan seluruh ciptaan adalah tanda jejak kaki Allah.

Tanggungjawab Pelayan
Di sisi lain, pelayanan masa pandemi, mengajak berpikir tentang 'personalitas' dan 'tanggung jawab' hamba Tuhan. Personalitas berbicara mengenai 'karakteristik' yang seharusnya ada di dalam diri setiap hamba Tuhan. Sedangkan 'Tanggung jawab' yang dimaksudkan adalah 'misi' sebagai upaya memberitakan kabar baik. Keduanya berhubungan langsung. Karakterisktik hamba yang baik akan berpengaruh secara signifikan terhadap pemberitaan 'kabar baik', yang dipaparkan dalam karakteristik seorang yang 'berhati hamba' dan 'berjiwa misioner' yaitu menjadi terang bagi kegelapan dunia melalui 'perbuatan baik'. Kemudian akan dibahas 'perbuatan baik' seperti apakah yang berdaya guna bagi konteks misi masa kini.

Para hamba Tuhan dan orang percaya diharapkan dapat melakukan peran preventif dengan membantu masyarakat mewujudkan ketentuan dan peraturan yang adil dan berpihak pada rakyat banyak. Tanggungjawab ini merupakan wujud kepedulian kita terhadap bangsa dan negara yang dilakukan dengan ikhlas dan dari hati nurani, bukan atas keterpaksaan. Segala sesuatu yang kiita perjuangkan adalah sesuatu yang diyakini adalah baik untuk kehidupan bangsa dan negara di masa sekarang dan di masa yang akan datang.

New Normal adalah peradaban baru. Semua sudah tidak pada normal yang lama dan secara alami beradaptasi guna membangun transformasi sosial. Oleh karena itu, jika disikapi secara positif, pandemi Covid-19 menjadi momentum besar bagi bangsa untuk melakukan transformasi besar dengan membangun budaya-budaya baru khususnya disiplin. "Disiplin-disiplin ini adalah salah satu cara merespons krisis yang awalnya adalah krisis medis berupa pandemi yang kemudian berdampak pada krisis sosial, ekonomi, politik dan lain-lain yang kemudian memaksa kita membangun budaya baru, tradisi baru berupa gaya hidup yang lebih sehat. Di era kenormalan baru yang perlu diperhatikan adalah membangun struktur pengetahuan dan kesadaran. Individu memiliki pengalaman soal kedisiplinan-kedisiplinan dan mereka tahu bahwa ketaatan berguna untuk menciptakan keselamatan. (a)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru