Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026

Pembaharuan yang Dikerjakan Roh Kudus

Oleh: Pdt Dr Victor Tinambunan, MST
Redaksi - Minggu, 01 November 2020 10:32 WIB
10.711 view
Pembaharuan yang Dikerjakan Roh Kudus
Foto dok/Pdt Dr Victor Tinambunan MST
Pdt Dr Victor Tinambunan MST
"Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasihNya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmatNya oleh pemandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,…"
(Titus 3:4-5)

1. Pembaharuan Pribadi
Surat Titus dimaksudkan untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah. Ia menasihatkan agar umat sehat dalam iman (1:13). Paulus memperingatkan bahwa "bagi orang najis dan bagi orang yang tidak beriman suatu pun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis" (1:15). Ajaran sesat biasanya diikuti oleh perbuatan jahat; iman yang sehat membuat hidup berbuah lebat.

Sehubungan dengan itu, secara khusus dalam pasal 3 Paulus menegaskan ulang dan meyakinkan Titus dan orang percaya bahwa kemurahan Allah sudah nyata. Keselamatan telah terjadi (3:4). Ia menyebut pemandian kelahiran kembali (baptisan) dan pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (ay 5).

Keselamatan oleh kemurahan Allah itu diterima melalui 'pemandian kelahiran kembali'.Yang dimaksud dengan 'pemandian kelahiran kembali' adalah baptisan, bukan sebagai tambahan, lanjutan, pelengkap atau baptisan ulang. Baptisan juga melambangkan dikuburnya manusia lama dan bangkitnya manusia baru bersama-sama dengan Kristus (Rm 6:3-9). Ini sama dengan kelahiran kembali dalam Titus 3:5. Gereja reformasi menekankan makna babtisan sebagai masuknya yang dibaptis itu menjadi anggota 'keluarga Allah'. Karenanya, baptisan adalah peristiwa sukacita.

Yang perlu mendapat perhatian dalam kaitan keberadaan kita yang sudah dibaptis dan menjadi anggota keluarga Allah antara lain adalah : Kita diundang oleh Allah. Kita dilayakkan oleh anugerahNya. Kita hendaknya menyesuaikan diri kepada kehendak Allah, tidak sebaliknya Allah yang menyesuaikan diri dengan rencana dan keinginan kita.

2. Pembaharuan Gereja
Dalam bahasa Yunani ada dua kata untuk 'baru' yakni neos (baru menurut batasan waktu) dan kainos (baru menurut sifat dan hakekatnya). Sebuah gedung gereja baru adalah neos tetapi orang yang dahulu berdosa dan sekarang berada dalam jalan kesucian hidup adalah kainos (orangnya tetap, hidupnya berubah atau menjadi baru).Yang menjadi masalah ialah, jika orang beribadah dalam (gedung) gereja baru tetapi kehidupannya tetap pada pola hidup lama tanpa pembaharuan.

'Pembaharuan' yang dikerjakan oleh Roh Kudus (ay 5) berkaitan dengan kainos. Roh Kudus bekerja membaharui orang percaya. Orang yang sudah menerima pemandian kelahiran kembali (baptisan) itu perlu dibaharui oleh Roh Kudus agar dapat bertumbuh dalam iman dan pada usia dewasa mau dan mampu meninggalkan hidup yang lama dan menjalani hidup secara baru. Yang dibaharui oleh Roh Kudus juga terpanggil melakukan pembaharuan seirama dengan pembaharuan yang dilakukan oleh Roh Kudus. Jadi, pembaharuan gereja tidak terutama dengan penampilan luarnya (gedung gereja yang semakin besar, jumlah koor yang semakin banyak, saldo kas yang semakin banyak -meskipun semuanya ini tidak salah). Pembaharuan gereja terutama dalam hal kesetiaannya kepada Tuhan: dari persekutuan dan kebersamaan yang mengandalkan pendekatan psikologis belaka menjadi sungguh-sungguh berakar dalam kasih; dari orientasi kemegahan penampilan fisik menjadi orientasi kesaksian dengan kesederhanaan; dari arogansi kelompok ke kerendahan hati dan persaudaraan dengan semua orang; dari semangat memanfaatkan orang untuk diri sendiri ke penyerahan diri untuk kebaikan orang lain; dari pengagungan orang-orang 'berjasa' ke pengagungan Kristus; dari penyembahan mamon ke penyembahan Tuhan.

3. Pembaharuan di Tengah Pergumulan Dunia Masakini
Gampang, mudah dan enak! Begitu kira-kira kesan sepintas membaca ayat di atas. Betapa tidak. Seolah-olah Tuhan yang melakukan semuanya dan manusia bisa tinggal diam dan 'terima siap'. Kita perhatikan misalnya dari kata-kata yang terdapat dalam ayat tersebut: kemurahan Allah, kasihNya, menyelamatkan kita, rahmatNya, pembaharuan yang dikerjakan Roh Kudus. Semuanya sudah lengkap, semuanya sudah dilakukan Allah. Manusia seolah tidak perlu berbuat sesuatu lagi. Apalagi, dengan menyebut 'bukan karena perbuatan baik yang kita lakukan' (ay 5). Seolah-olah perbuatan baik tidak penting dan menentukan.

Untuk menjelaskan hal ini marilah kita simak apa yang dikatakan dalam ayat 8: "…mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik". Untuk apa lagi? Bukankah semuanya sudah dikerjakan Allah? Jawabannya ialah: manusia bukan robot yang dilengkapi dengan remote control yang diformat tanpa pilihan bebas.

Benar bahwa penyelamatan Allah adalah sebagai peristiwa yang nyata dalam sejarah hingga pada hari yang kita jalani ini dan menuju kesempurnaannya pada akhir zaman. Tetapi orang-orang yang sudah diselamatkan oleh anugerah Allah terpanggil melakukan pekerjaan baik, termasuk pembaharuan dalam semua ranah kehidupan. Tugas panggilan ini terutama kita emban di tengah aneka persoalan dan pergumualan dunia. Makin banyaknya orang yang dirasuk dan dirusak oleh roh-roh zaman yang mengemuka dalam berbagai kecanduan dan kelekatan pada narkoba, materi, hasrat duniawi dan yang membuat keheningan dan kejernihan kian mustahil. Terlalu banyak orang yang hidup hanya dengan kepalanya saja (ada pula yang tidak menggunakan kepala sama sekali). Makin banyak orang yang senang menyantap apa yang disodorkan oleh berbagai media yang berisi mimpi, provokasi dan penyubur cinta diri.

Di tengah keadaan dunia seperti itu, kita perlu mengembangkan daya pengenal karya Tuhan, menghidupkan rasa kagum akan karya Allah serta memberi jalan demi suburnya firman Tuhan bertumbuh dan berbuah lebat dalam kehidupan jemaat dan masyarakat.

Gereja dan orang percaya yang sudah dibaharui oleh Roh Kudus terpanggil menyatakan pembaharuan yang dikerjakan Roh Kudus itu dalam berbagai tindakan konkret. Gereja dan orang percaya harus berjuang melawan roh kerakusan, hedonisme, materialisme, konsumerisme yang sering (bahkan biasanya) diraih manusia dengan jalan kekerasan dan ketidakadilan. Gereja dan orang percaya terpanggil merawat kehidupan. Dalam perjuangan seperti ini tidak ada jalan yang mulus dan lurus saja. Dalam sejarah kita temukan begitu banyak para saksi kebenaran yang menanggung siksa. Itu berarti bahwa Gereja dan orang percaya harus siap memikul salib. (f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru