Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 03 Februari 2026

Partisipasi Gereja Mensejahterakan Umat

(Yeremia 29:1-7)
Redaksi - Minggu, 15 November 2020 11:53 WIB
910 view
Partisipasi Gereja Mensejahterakan Umat
Foto Dok/Pdt. Sunggul Pasaribu,STh,M.PAK
Pdt. Sunggul Pasaribu,STh,M.PAK
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan.
Pandemi Covid-19 telah mengakibatkan kondisi ekonomi, kesehatan, pendidikan, hubungan sosial, hubungan diplomatik mengalami keterpurukan yang maha dahsyat. Hal ini ditandai dengan meningkatnya angka kematian, menurunnya aktivitas perdagangan dan perekonomian, pembatasan jumlah dan jam kerja di semua lini pemerintahan, perusahaan dan perbankan berakibat terhadap pengangguran (PHK), beribadah, belajar dan beraktivitas dari rumah. Hingga sekarangpun kita masih merasakan geliat ekonomi yang stagnan.

Hal seperti yang kita alami sekarang ini juga pernah dialami bangsa Israel yaitu kemerosotan ekonomi dan moral menimpa mereka ketika berada di pembuangan Babel selama 70 tahun. Bedanya, mereka terbuang karena dosa terhadap Tuhan, Allah, yang semula mereka yakini sebagai satu-satunya Tuhan namun belakangan mereka mengingkari janji untuk tetap setia dan taat menyembahNya.

Yeremia hidup di zaman yang paling buruk dalam sejarah Israel atau Yehuda. Setelah kerajaan Israel terbelah dua, kerajaan Yehuda akhirnya mengikuti Israel dalam penyembahan berhala dan merosotnya moralitas. Raja berganti-ganti dan setelah sempat dijajah Mesir, Israel dikalahkan Babel dengan rajanya Nebukadnezar. Nebukadnezar membawa hampir seluruh orang Israel termasuk Daniel ke Babel. Pada ayat 1 disebutkan yang dibawa ke Babel yaitu imam-imam, nabi, dan rakyat. Raja Nebukadnezar mengangkat raja Yoyakhin untuk memerintah Yehuda, tapi setelah 3 bulan raja itu memberontak dan Nebukadnezar kembali menyerang dan membawa semua pegawai istana, pemuka-pemuka, tukang dan pandai besi (ayat 2). Semuanya diangkut termasuk semua orang yang bisa berperang dan meninggalkan orang-orang lemah yang dipimpin raja yang plin plan. Raja Zedekia. Raja ini juga dipandang jahat di mata Tuhan (2 Raj 24:19-20).

Yeremia adalah nabi yang tinggal di Yehuda. Ia hidup di lingkungan yang jahat. Disitulah ia menyatakan kebenaran meskipun mendapat tekanan dari penguasa dan penduduk Yehuda. Yeremia juga menghadapi nabi-nabi palsu yang memberikan harapan palsu bagi masyarakat. Akibatnya, Yeremia mengalami banyak penderitaan seperti dipukul, dipasung, diancam dibunuh, dipenjara dan dilecehkan. Pernyataan nabi palsu Hananya bin Azur yang menubuatkan Babel akan hancur dan Yehuda akan kembali ke Yerusalem dalam 2 tahun disenangi orang-orang dalam pembuangan.

Namun Tuhan masih tetap mengendalikan kehiduapan mereka di tengah pembuangan Babel tersebut. Pesan Tuhan yang disampaikan nabi Yeremia melalui suratnya dari Yerusalem kepada Bangsa Israel di Babel, dikatakan ; “Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang! Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yeremia 29:5-9).

Surat ini berisikan kepastian dan perintah yang berasal dari Tuhan. Melalui surat itu, memastikan bahwa umat yang diangkut dalam pembuangan ke Babel, akan tinggal di sana dalam waktu yang cukup lama yaitu tujuh puluh tahun!. Untuk itulah Tuhan memerintahkan mereka untuk membangun kehidupan di sana. Tuhan mengingatkan umat untuk berhati-hati terhadap nubuat para nabi palsu dan mimpi-mimpi para juru tenung. Mereka diminta oleh Tuhan untuk lebih taat pada perintah-Nya. Jika taat, Tuhan menjanjikan damai sejahtera dan hari depan yang penuh harapan. Di atas semua itu, Tuhan berjanji kepada mereka bahwa mereka akan dikumpulkan kembali untuk dikembalikan ke tempat dari mana Tuhan telah membuang mereka.

Sejahtera kota adalah suatu keadaan yang menggambarkan adanya hidup yang aman, makmur dan tenteram. Jadi usaha mensejahterakan kota bukan hanya tanggungjawab pihak tertentu saja, melainkan menjadi tanggung jawab bersama dengan segenap elemen bangsa, termasuk warga gereja dalam panggilan iman untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah, dalam bentuk ketentraman, kemakmuran dan rasa aman.

Gereja terpanggil untuk mengambil bagian secara bertanggung jawab dalam mewujudkan kesejahteraan bersama, yaitu kesejahteraan masyarakat dan warga jemaat. Mari kita hadirkan damai sejahtera Allah melalui sikap dan tutur ucap serta perbuatan yang menjadi berkat. Hendaknya gaya hidup dan karakter yang berpola pada keteladanan Kristus, menuntun kita menjadi berkat, mulai dari keluarga, jemaat, masyarakat dan para pelayan gereja, setiap talenta, karya, jerih juang dan kerja yang dianugerahkan Tuhan bagi kita.

Sebagai warga negara, kita terpanggil dalam memajukan kota di berbagai bidang : ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, politik, budaya, kerukunan umat beragama dan menopang aspek-aspek yang menyatukan kehidupan berbangsa dan bernegara, yang berlandaskan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Inilah bentuk keteladanan gereja dan orang percaya kepada dunia ini di tengah pandemi Covid-19 dewasa ini. Semoga. Amin.! (c)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru