Berbagai cara yang dilakukan Yesus untuk menyampaikan suatu maksud dan tujuan. Ada yang to the point-secara langsung, tetapi ada pula yang secara tidak langsung: misalnya melalui kiasan, gambaran, perumpamaan, tekateki, peribahasa, simbol dan lain-lain. Inilah yang disebut Mashal (Ibrani) atau Parabole (Yunani). Yesus juga menggunakan suatu perumpamaan untuk menggabarkan dan menjelaskan tentang Kerajaan Allah.
Pada kedatangan Yesus yang kedua kali, Dia akan menjadi Hakim Agung yang mengadili bangsa-bangsa. Setiap orang akan memberi pertanggungjawaban akan apa yang diperbuat. Untuk itu Yesus menggunakan simbol sebagai tanda untuk membedakan milik Allah dari yang bukan milik Allah. Simbol domba mengacu kepada orang benar yang punya dalam Kerajaan Allah. Sedangkan simbol kambing menggambarkan mereka yang terkutuk dan mengalami hukuman kekal. Kelompok orang benar akan menerima hadiah yang telah disediakan Allah bagi mereka. Sebab, mereka telah melakukan sesuatu bagi salah seorang saudara Yesus yang paling hina dengan cara memberi makan, minum, tumpangan, pakaian, merawat yang sakit, memberikan penghiburan, dan lain sebagainya. Sedangkan kelompok orang terkutuk hanya menggugat dan protes terhadap Allah. Jawaban Yesus justru membungkam ketidakpuasan mereka.
Jika kita perhatikan bacaan hari ini, kita akan menemukan bahwa Firman Tuhan ini berada dalam konteks khotbah Tuhan Yesus tentang penghakiman terakhir pada akhir zaman. Bacaan Alkitab kita hari ini juga diawali dengan peristiwa Tuhan Yesus akan datang kembali di dalam kemuliaan. Ketika Ia datang kembali, maka semua bangsa akan dikumpulkan di hadapanNya, dan dipisahkan seorang demi seorang, mana yang termasuk kelompok domba akan ditempatkan di sebelah kanan dan yang masuk kelompok kambing akan ditempatkan di sebelah kiri. Apa dasar pemisahan tersebut? Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa orang-orang di kelompok domba telah memberi Tuhan makan ketika Ia lapar, memberi Tuhan minum ketika Ia haus, memberi Tuhan tumpangan ketika Ia menjadi seseorang yang asing, memberi Tuhan pakaian ketika Ia telanjang, melawat Tuhan ketika Ia sakit, dan menjenguk Tuhan ketika Ia berada dalam penjara, sementara orang-orang di kelompok kambing justru melakukan hal yang sebaliknya.
Apa yang Tuhan sampaikan itu pastinya akan membuat kita terkejut. Jangankan kita, orang-orang yang berada di kelompok domba saja heran dan bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, kapankah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Kapankah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Kapankah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?". Mereka sendiri juga merasa tidak pernah secara langsung memberi makan atau minum kepada Tuhan. Tetapi jawaban Tuhan dengan tegas dinyatakan dalam ayat 40 yaitu "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku".
Hal yang sama terjadi pada orang-orang di kelompok kambing, mereka juga mempertanyakan, "Kapan kami melihat Engkau lapar dan haus Tuhan? Kalau kami melihat Tuhan sedang lapar ya pastilah kami akan memberi Tuhan makanan kan?". Dan jawaban Tuhan sama persis dengan jawaban di ayat 40 tadi, yaitu "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku". Kita mesti menyadari bahwa keselamatan adalah anugerah Tuhan. Segala kebaikan yang kita lakukan ditujukan untuk memuliakan Allah dalam hidup kita (Ef. 2:8-10). Dengan kata lain, sudah seharusnya iman yang sejati melahirkan perbuatan nyata (bdk. Yak. 2:17, 26). Karena itu, mulailah memerhatikan sesama kita yang masih hidup kekurangan; berdoa bagi mereka yang masih berjuang dalam kelemahan diri; dan mengunjungi serta menghibur mereka yang sedang berduka (lih.Gal.6:10;2Ptr.1:7).
RENUNGAN:
Hari ini kita mengingat saudara-saudara kita yang telah meninggal. Hal ini mengingatkan kita juga bahwa hidup kita terbatas di dunia ini dan pada suatu waktu kita pun akan meninggalkan dunia ini. Kita selalu diingatkan"memento mory" ingat bahwa kita juga akan mengalami kematian. Dalam situasi dan kondisi kehidupan bangsa dan Negara kita sekarang yang sedang menghadapi Covid 19.
Kita harus mempunyai "sense of crisis"dengan hidup yang berbagi di dalam masyarakat . Kita tidak hendak larut dalam keadaan yang memprihatinkan ini. Mari kita masing-masing menginstropeksi diri kita sendiri. Ada tujuh dosa modern: yaitu kemakmuran tanpa kerja; kesenangan tanpa hati nurani; pengetahuan tanpa karakter; perdagangan tanpa moralitas; ilmu pengetahuan tanpa nilai kemanusiaan; ibadah tanpa pengorbanan; dan politik tanpa prinsip. Semuanya itu perlu kita tinggalkan. Apakah selama ini kita sudah berbuat baik kepada sesama? Apakah perbuatan kita sudah memuliakan Tuhan? Apakah kita sudah mengasihi orang-orang lain, yang mungkin berkekurangan, sakit, terlebih orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan? Jika kita sama sekali belum memiliki kasih seperti itu, patut kita renungkan, jangan-jangan sebenarnya kita sendiri belum merasakan kasih Tuhan dan belum menerima keselamatan dari Tuhan. Mari kita mulai hari ini berusaha untuk menjadi saluran kasih Tuhan bagi orang lain. Mengasihi orang lain sama seperti Tuhan juga lebih dulu mengasihi kita, sehingga ketika Tuhan datang maka kita akan masuk ke dalam kelompok domba, dan bukannya menjadi kelompok kambing. (a)