Apakah dalam hidup ini ada hal yang pasti? Ada. Tetapi hanya satu! Apa itu? Bahwa kita semua akan mati. Hanya itu yang pasti.
Segala sesuatu lainnya serba belum pasti. Memento mori!Demikianlah bunyi sebuah peribahasa Latin. Artinya: Ingatlah, Anda akan mati! Apa perlunya kita dingatkan bahwa kita akan meninggal dunia? Bukankah kita sudah tahu? Benar, kita sudah tahu. Tetapi di dalam kenyataan, kita sering pura-pura tidak tahu. Atau lebih tepat tidak mau tahu. Buktinya kita tidak mau berpikir atau berbicara tentang kematian. Nama untuk kematian ini pun banyak: maut, mati, meninggal, berpulang, mangkat, gugur, tewas, menghembuskan nafas terakhir, berhenti untuk selamanya, mendiang, dan lain sebaginya.
Sebuah kenyataan ada bukan untuk ditutupi, melainkan untuk dihadapi, termasuk kematian. Lihat bagaimana pemazmur mengemas atau merumuskan memento mori . Tulisnya,"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana"(Mzm.90:12).Memento mori dikemasnya sebagai sebuah permohonan. Ia memohon kepada Tuhan untuk belajar "menghitung hari". Ungkapan "menghitung hari' berarti menyadari bahwa hari-hari kita terdiri dari sebuah jumlah yang terbatas. Oleh sebab itu, pemazmur memohon agar ia mampu bersikap bijak dengan hari-hari yang terbatas itu. Ia memohon agar ia belajar menjalani hidup ini secara bijak. Inilah sikap pemazmur terhadap kematian. Ia tidak menjauhkan diri dan juga tidak mendekatkan diri pada kematian. Yang diperbuatnya adalah menghadapi kematian dengan cara menjalani hidup secara bijak pula.
Alkitab mengisahkan kepada kita mengapa sampai mengalami kematian, dan perlu direnungkan bagaimana seharusnya kita menyikapinya sebagai orang beriman.
1. Manusia mati karena dosa, dan tak seorangpun yang dapat berkuasa atas hari kematian.
2. Kematian Kristus membuka pintu perdamaian antara kita dengan Allah dan oleh kurban Kristus kita dapat memperoleh keselamatan dan hidup yang kekal.
3. Kematian ini dikalahkan oleh kebangkitan Kristus.
4. Atas pengorbanan Kristus itu, maka bagi orang percaya, kematian adalah seperti jatuh tertidur (fallen asleep), sebab kita mempunyai pengharapan akan kebangkitan dan hidup yang kekal.
5. Namun demikian, sebelum kita memperoleh kehidupan kekal, segera setelah kematian kita akan diadili.
6. Kematian juga dapat berarti mati secara rohani karena dosa, dan kita membutuhkan pengampunan dari Tuhan untuk menghidupkan kita kembali secara rohani.
7. Kematian terhadap diri sendiri adalah jalan menuju kekudusan.
8. Jika kita hidup di dalam Kristus, maka kematian adalah suatu keuntungan.
9. Kematian orang dikasihi Tuhan berharga di mata Tuhan.
10. Yesus berpesan agar kita tidak takut menghadapi kematian.
Ada dua peristiwa yang paling besar dampaknya dalam hidup seseorang, yaitu "kelahiran" dan "kematian". Karena kelahiranlah maka kita ada di dunia, belajar dan bekerja, melakukan ini dan itu, menjadi begini dan begitu. Kalau dulu kita tidak dilahirkan, saat ini kita tidak ada. Sejajar dengan itu, karena kematianlah maka kita tidak akan ada lagi di dunia, tidak bisa belajar dan bekerja lagi, tidak bisa melakukan ini dan itu, tidak bisa lagi menjadi begini dan begitu. Kelahiran ada di belakang kita, pada hal kematian masih ada di depan kita. Kita masih dapat berbuat sesuatu untuk memberi arti pada kematian kita. Bagaimana pula Anda menilai hidup yang akan Anda akhiri ini? Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading; artinya orang dikenang dari perbuatannya semasa hidupnya.Apa sumbangsih Anda yang berguna bagi dunia? Apa perasaan Anda dalam menilai hidup yang akan Anda akhiri ini? Maksudnya, dalam keadaan bagaimana kita meninggal dan dengan sikap serta perasaan -perasaan apa kita meninggal?
Kematian berimplikasi dua kejadian yang sangat besar. Implikasi pertama adalah bahwa kita akan meninggalkan segala sesuatu yang ada pada kita. Kita tidak tahu,'kapan';"di mana"; "bagaimana" kita meninggalkan dunia ini. Kita akan meninggalkan sanak keluarga, kerabat dan sahabat kita, semua pekerjaan kita, semua kedudukan kita, semua harta benda kita dan sebagainya. Implikasi kedua adalah bahwa kita akan pergi menghadap Tuhan. Perhatikan perasaan Paulus,"Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan…"(2 Tim.4.8). Lebih berguna bila sejak sekarang, selagi masih segar bugar, kita mulai memperhitungkan dan mengolah segala perasaan dan pikiran kita. Dengan kata lain:mulai menyiapkan diri menghadapi kematian. Menyiapkan diri menghadapi kematian adalah memberi isi kepada hidup yang sedang kita jalani supaya kelak pada waktu hidup berakhir, hidup kita mempunyai arti dan meninggalkan arti.
Tuhan Yesus menolong kita untuk belajar percaya tentang arti hidup. Konteks belajar yang dipergunakan oleh Yesus adalah Marta yang menghadapi kematian Lazarus sebagai kenyataan yang keras. Ceritanya terdapat dalam Yohanes 11:1-44. Perhatikan kata"belajar percaya"dalam ayat 15. Inti ajaran Yesus adalah:"…barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati"(ay.25-b). Artinya:baik dalam keadaan hidup maupun sesudah meninggal dunia, hubungan kita dengan Tuhan tetap berlangsung. Hidup adalah wujud hubungan yang utuh dan damai dengan Tuhan. Hidup adalah menerima dan rahmat Tuhan, dan hal itu tidak berakhir pada kematian,melainkan berlaku terus setelah kita meninggal dunia. Sebab itu, kematian bukanlah kehilangan segala sesuatu sebab rahmat Tuhan tetap berlaku. Yesus menjelaskannya dengan pengalimatan lain,"…setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya".(ayat 25-c). Apakah jaminannya? Yesus menjamin,"Akulah kebangkitan dan hidup…"(ay.25-a). Jaminannya adalah diri Yesus sendiri. Itulah ajaran Yesus kepada Marta. Apakah Marta mengerti? Rupanya tidak. Siapa yang bisa mengerti ajaran yang begitu mendalam? Tetapi apakah Marta percaya? Ia menjawab,"Ya, Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias…"(ay.27). Apakah yang dipercaya Marta? Bukan sebuah ajaran, melainkan seseorang, yaitu Mesias. Marta tidak mengerti ajaran-Nya, tetapi ia percaya kepada Sang Pengajar. Kita percaya bahwa Kristus adalah kebangkitan dan hidup, sehingga kita bisa mempercayakan kepada Dia apa yang akan terjadi dengan hidup kita sesudah kematian.
Percaya seperti itulah yang bisa membuat kita meninggal dunia dengan damai. Memang kita akan melepas semua pelukan yang kita cintai di dunia ini, namun kita akan kembali ke pelukan Kristus. Ia menunggu. Ia tersenyum. Ia merentangkan kedua tangan-Nya lebar-lebar. Lalu Ia memeluk kita dengan erat dan hangat. Dalam percaya kepada Kristus, kita bisa meninggal dunia dengan tenang. (Pdt Dr Luhut P Hutajulu/a)