Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, selama masa Adven ini kita berkonsentrasi pada misi beberapa tokoh penting dalam Kitab Suci sebagai pemeran kunci yang mempersiapkan manusia dalam menyambut kedatangan Sang Penyelamat. Salah satu dari tokoh penting itu adalah Yohanes pembaptis. Nama Yohanes pembaptis tidak lagi asing di telinga kita. Kita bahkan hampir hafal riwayat hidup dan perjuangannya. Yohanes (Yehohanan) berarti Allah berbelaskasihan. Ia dilahirkan saat usia orang tuanya sudah uzur. Yohanes tampil di padang gurun dalam kesederhanaan, kemiskinan dan hidup yang keras.
Oleh Nabi Yesaya ia dijuluki sebagai suara yang berseru di padang gurun untuk mempersiapkan dan meluruskan jalan bagi Tuhan. Ia meneriakkan metanoia (pertobatan) dan pembaharuan diri yang dilanjutkan dengan pembaptisan. Banyak orang dari segala penjuru, lapisan dan golongan yang datang untuk mendengar kotbahnya. Rakyat jelata, tokoh spiritual, tentara bahkan Herodes sendiri terkesima akan pewartaannya. Kata-kata Yohanes sering terlalu keras, tajam, menusuk, namun ia tidak pernah takut karena apa yang dikatakannya adalah benar. Ia juga tidak gentar menyebut para pemimpin spiritual para bangsa dalam zamannya sebagai keturunan ular beludak dan bahkan berani menegur Herodes. Ketika orang mengagumi dan mengira dialah yang sudah lama dinantikan itu, dengan rendah hati ia berkata: “Bukan aku. Di tengah-tengahmu Dia hadir namun tidak kamu kenal, membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Dia akan membaptis kamu dengan api dan roh. Biarlah aku semakin kecil dan Dia semakin besar. Alat penampi sudah di tangannya.†Yohanes menyadari dirinya ibarat pelita kecil untuk menyongsong fajar yang cerah.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, di atas seluruh kisah hidup dan perjuangan Yohanes pembaptis, hendaknya kita tidak hanya terlarut dalam keterharuan emosional. Tetapi, kita harus mampu merenungkan fungsi profetis dan suara kenabian yang didendangkannya. Kita harus menjadi pendengar yang mampu membuka hati dan telinga, walau kata-katanya akan menelanjangi bahkan mempermalukan kita. Dari mulut Yohanes tidak keluar kata-kata bernada eufemistis yang dipoles dengan gaya bahasa indah dan manis sekadar meninabobokkan dan mecipta suasana seakan tak ada persoalan. Dengan keras dan lantang ia menegur, menggugat stabilitas dan kemapanan. Yohanes tidak ingin suam-suam kuku, tak perlu menghitung-hitung sentimen pribadi, tidak ada udang di balik batu, apa lagi kata-kata klise. Sasarannya jelas yakni supaya segala bentuk dosa yang sudah menggunung diratakan, segala pemikiran dan tindakan yang bengkok diluruskan, segala jurang dan lembah perangai yang curang ditimbun.
Itulah suara seorang nabi. Utusan Allah tidak pernah membiarkan hati yang busuk merasa tenteram. Ia selalu menggugat, menggelitik dan mengkritik yang tidak becus dan tak beres. Yohanes tidak membiarkan orang hidup dalam kelaliman atau kepura-puraan sebatas penipuan yang menutupi segudang kejahatan dan kebobrokan. Keberanian dan ketulusan Yohanes untuk mengemukakan kebenaran harus dibayar mahal dengan nyawanya sendiri. Kepalanya dihidangkan dan dipertontonkan di atas sebuah talam. Itulah resiko yang harus dihadapi oleh Yohanes sebagai konsekuensi atas kenabiannya. Kebenaran, kejujuran, ketulusan memang sangat mahal dan makin lama menjadi barang langka.
Making a difference (tampil beda) menjadi semboyan hidup sejumlah orang yang tidak menginginkan statusquo, establishment dan kemapanan. Yohanes sungguh tampil beda bukan dari segi tatabusana dan tataboga. Perbedaan yang dia tawarkan sungguh membuka mata dan hati orang untuk semakin memperbaiki diri. Bukan juga sebatas trend-trend-an, tetapi menunjukkan perbedaan yang menantang, menggugat dan membuka mata akan suatu cara pandang, cara pikir dan pola hidup baru yang lebih otentik dan original.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, kita semua adalah nabi masa kini karena telah dipersatukan dengan Kristus. Oleh karena itu, mari menunjukkan diri sebagai nabi yang senantiasa menyerukan dan melakukan kebaikan di hadapan Tuhan dan sesama. Melihat teladan Yohanes Pembaptis, kita didorong untuk tidak hanya bertobat, tetapi juga menjalani kehidupan sehari-hari dalam kerendahan hati dan kejujuran. Kerendahan hati Yohanes Pembaptis nampak dalam sikapnya memperkenalkan siapa dirinya. Ia tidak mengatakan, “Aku anak Zakaria, seorang imam dari rombongan Abia…â€, untuk menunjukkan bahwa ia berasal dari keluarga terpandang. Tetapi yang dikatakannya adalah, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! (Yoh 1:23). Dia menganggap dirinya hanya sebagai suara. Lagi dikatakannya, “Aku membaptis kamu dengan air…, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya (Mat 3:11). Padahal, Yohanes Pembaptis sesungguhnya adalah tokoh yang penting, sebab padanya terangkum dua peran sekaligus, yaitu sebagai nabi terakhir dalam Perjanjian Lama dan sebagai nabi pertama yang merintis kedatangan Yesus dalam Perjanjian Baru. Yohanes juga memiliki keberanian untuk menyatakan apa yang benar dan salah, bahkan sampai mengiringnya pada kematian.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, baru-baru ini kita juga telah mengadakan Pilkada serentak dan dalam perhitungan sementara, beberapa media telah memberikan gambaran tentang siapa yang akan menjadi pemenang. Oleh karena itu, kita berharap dan seraya mendoakan, semoga para pemimpin yang akan menduduki kursi pemerintahan, mampu menunjukkan dirinya sebagai nabi yang mempersiapkan jalan kesejahteraan pada masyarakat. Semoga juga para pemimpin yang telah terpilih, mampu meneladani cara hidup Yohanes pembaptis yang rendah hati, jujur, tegas dan mampu membawa pembaharuan hidup pada masyarakat. Hendaknya perkataan Yohanes pembaptis: biarlah Ia semakin besar dan aku semakin kecil, bergema dalam hati dan sanubari para pemimpin.
Dengan demikian, para pemimpin mampu menunjukkan dirinya sebagai hamba (pelayan) yang rendah hati dan bukan sebagai raja yang harus dilayani dan gila akan harta duniawi. Melalui cara hidup ini, para pemimpin yang telah dipercayai oleh masyarakat, mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik serta mampu menjadi pelita kecil untuk menyongsong kemajuan yang besar. Amin! (c)
Sumber
: Hariansib Edisi Cetak