Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026
Natal di Tengah Pandemi

PGI dan KWI Sampaikan Pesan: Tetap Menjadi Saksi Belas Kasihan dan Kemurahan Tuhan

Redaksi - Minggu, 13 Desember 2020 11:16 WIB
828 view
PGI dan KWI Sampaikan Pesan: Tetap Menjadi Saksi Belas Kasihan dan Kemurahan Tuhan
Foto: dokpenkwi.org
Jakarta (SIB)
Setelah merilis tema Natal Nasional 2020 pada bulan Oktober 2020 lalu, kini PGI dan KWI menyampaikan pesan dan imbauan terkait perayaan Natal 2020 di tengah masa pandemi saat ini.

PGI dan KWI menyampaikan bahwa di tengah suasana pandemi virus Covid-19, suasana Natal akan menjadi sangat berbeda. Penyebaran virus telah banyak menyebabkan keprihatinan seperti banyak orang yang mengalami duka atas kehilangan orang terkasih. Begitu juga ada banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan anak-anak harus dipaksa belajar dari rumah.

“Pada tahun ini kita merayakan Natal dalam suasana prihatin karena wabah Covid-19 sedang melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia. Virus ini telah merusak berbagai sendi kehidupan manusia. Banyak keluarga berduka karena kehilangan sanak saudara. Banyak pula yang kehilangan pekerjaan. Anak-anak yang harus belajar di rumah kehilangan kesempatan untuk bergaul dengan teman-teman sebaya,” demikian tertulis dalam surat edaran PGI dan KWI.

Menyaksikan kondisi saat ini, PGI dan KWI menekankan bahwa semua orang adalah makhluk yang rapuh. Covid-19 dengan sangat mudah bisa menginfeksi tubuh siapapun. Meski begitu, ada satu hal yang membuat orang percaya tetap berdiri teguh yaitu mengetahui bahwa hanya Tuhan saja sebagai sumber pertolongan. Tuhan tidak membiarkan umat-Nya dikuasai roh ketakutan, melainkan kekuatan cinta yang memampukan setiap orang bertahan menghadapi masa-masa sulit dengan keyakinan dan kedamaian sepenuhnya.

Di tengah kondisi sulit ini, PGI dan KWI berpesan supaya semua umat Kristen bisa melihat dan merasakan kehadiran Yesus sebagai Sang Terang dalam kegelapan. Bahwa Tuhan senantiasa menyerati dan bekerja untuk mendatangkan pemulihan.

“Salah satu pesan penting yang perlu kita renungkan dan sadari bersama adalah bahwa penyertaan Allah dikisahkan sejak Perjanjian Lama. Penyertaan seperti itu tampak jelas dialami oleh Musa. Ketika diutus untuk memimpin umat Allah keluar dari tanah perbudakan menuju Tanah Terjanji, Musa takut menghadap Firuan untuk melaksanakan perutusan itu karena sadar akan kelemahannya. Tetapi Tuhan menguatkan hatinya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” (Kel 3: 10-14).”

Demikian dilanjutkan bahwa ketakutan yang sama juga dialami oleh Nabi Yeremia. Dia enggan menerima perutusan Tuhan karena ia masih muda dan tidak pandai bicara. Tuhan meneguhkan hatinya: “… kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janglah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau…” (Yeremia 1: 7-8). Penyertaan Allah juga memampukan JJusuf melampaui kecemasan dan kekhawatirannya, untuk menerima lahirnya Sang Imanuel dari rahim Maria tunangannya yang belum ia nikahi (Matius 1: 18-25).

PGI dan KWI menyampaikan bahwa Natal seharusnya adalah berita sukacita dan pewartaan kasih Allah bagi dunia. Kekuatan cinta dan penyertaan Allah harusnya menjadi sumber kekuatan yang memampukan orang percaya untuk menumbuhkan rasa setia kawan di tengah masyarakat dan mau rela saling melayani orang-orang yang terpinggirkan dan menderita.

“Pertanyaan yang mesti kita renungkan untuk menjadikan perayaan Natal aktual pada masa sekarang ini adalah: bagaimana Gereja menjalankan perutusannya dalam masyarakat, bangsa dan negara kita yang sedang menghadapi berbagai macam tantangan itu? Tentu dengan mengikuti Yesus Kristus, Sang Imanuel, ‘yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik….” (Kis 10: 38). Yesus yang sama ‘telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat milik-Nya sendiri yang rajin berbuat baik” (Tit 2: 14)”

Menutup pesan ini, PGI dan KWI menyampaikan supaya semua umat Kristen perlu menyadari kehadiran Tuhan bahwa di tengah masa pandemi ini. Umat Tuhan juga diharapkan bisa menjadi saksi tentang belas kasihan dan kemurahan Tuhan di tengah pandemi Covid-19 ini, dengan cara melakukan kebaikan bagi semua orang dan saling bertolong-tolongan menanggung beban sesama. (Jawaban.com/c)
Sumber
: Hariansib Edisi Cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru