Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026
Lolos dari Covid-19, Divonis Kanker Paru

Nats Mazmur 91 : 16 Beri Muzizat pada Ev Rajamin Sirait

Redaksi - Minggu, 24 Januari 2021 10:09 WIB
1.987 view
Nats Mazmur 91 : 16 Beri Muzizat pada Ev Rajamin Sirait
Foto: Dok/FB
Gembala Senior Christ of Grace Church Ps Ev Rajamin Sirait SE MA bersama istri, Ibu Gembala Shinta B Pasaribu. 
Medan (SIB)
Gembala Senior Christ of Grace Church Ps Ev Rajamin Sirait SE MA beroleh mujizat. Sembuh dari kanker paru tanpa pengobatan lazimnya dunia medis. “Saya tidak kemoterapi. Mengandalkan doa, bersumbu atas keyakinan bahwa Tuhan -- melalui putranya, Yesus Kristus, itu baik. Tapi harus taat anjuran dokter,” ujarnya. Satu dari sejumlah dokter yang menanganinya adalah Dr Netty Damanik.

Rabu (20/1), ia keluar dari rumah sakit, menyudahi sembilan kali opname. Dari hasil rongent terakhir, flek di parunya mengecil ke titik noktah. “Puji Tuhan. Saya sudah sembuh. Puji Tuhan, tidak ada dampak mengonsumsi obat-obat yang begitu banyak. Sekeranjang...” ujarnya.
***
Ps Ev Rajamin Sirait tidak tahu kapan virus masuk ke tubuhnya. Hari-harinya dilalui seperti biasanya. Mengerjakan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga. Melayani-Nya dari kota sampai ke pelosok. Saat-saat itulah ia bertemu dengan sejumlah orang ketika mengabarkan isi Alkitab.

Jemaatnya bilang, fisiknya terlihat beda. Terkesan lemah. Bobot tubuh pun menurun. Tetapi ia tak peduli. Mungkin karena terlalu forsir. Kurang istirahat. Tetapi persoalan jadi serius ketika Mei 2020 batuk-batuk.

Saat itu virus corona sedang galak-galaknya memangsa manusia. Ia swab karena demam. Meski hasilnya negatif tapi dadanya semakin berat. Bahkan ketika batuk, ke luar darah.

Bersamaan dengan itu, nafsu makan kurang. Indera penciumannya menyusut. Ciri-ciri tersebut menguatkan dugaannya positif Covid-19. Tetapi, swab dan swab, tetap negatif.

Satu rumah sakit (RS) di Jakarta memvonisnya mengidap kanker. Meski menerima, tapi ia dan keluarga tak yakin. Soalnya, selama ini paling ketat menjalankan pola hidup sehat.

Jangankan merokok atau minum alkohol, keluyuran malam saja, tidak. Pukul 22.00 WIB sudah di rumah. Berkumpul dan berdoa bersama istri dan anak-anak. Kalaupun lambat tidur dikarenakan menyiapkan bahan khotbah dan menelaah nats-nats Alkitab.

Keyakinan bahwa tubuhnya sehat, runtuh! Dokter dari RS di Jepang melaporkan hasil analisis yang dijadikan rujukan second opinion. Sah, Ps Rajamin Sirait menderita kanker. “Saya tidak kalut. Seusai berdoa, saya kabarkan pada keluarga,” kenangnya. Atas saran keluarga, demi antisipasi menularkan pada orang lain, ia bersedia dirawat.

Dalam pergumulan, ia dituntun-Nya untuk mengulang Mazmur 91: 16 yang sudah dihapalnya. “Janji-Nya, bila panjang umur saya akan dikenyangkan-Nya dan diperlihatkan-Nya keselamatan. Keselamatan yang hakiki,” tegasnya.

Dalam perawatan, antara tidur dan tidak, Ps Rajamin Sirait menjalankan aktivitas seperti sedia kala. Berkhotbah dan melawat orang banyak. Ia merasa beroleh mujizat tapi hati kecilnya berkata, tak pantas dengan mujizat tersebut.

Ia ingat Mazmur 121: 7 bahwa Tuhan akan menjaga nyawa manusia yang percaya. Saat itulah kebesaran-Nya datang dan datang lagi.

Di jeda perawatan dan harus opname, Ps Rajamin Sirait terus berkhotbah. Virtual dan off line. Ia tak khawatir bila langkahnya tersebut membuat usianya berhenti. Selain nats di atas, ia paham betul isi Yesaya 53 : 10 tentang lanjut usia. “Yang pasti, semua saya serahkan pada-Nya,” tekadnya.

Jika diminta berkhotbah, Ps Rajamin Sirait ‘istirahat’ opname. Setelah mengisi kebaktian, kembali masuk ke RS. Mujizat datang lagi. Ia merasa tubuhnya semakin ringan dan dadanya tak sesak. Tidak batuk lagi. “Saya disembuhkan oleh kuasa-Nya,” pastinya.
Meski demikian, ia minta setiap individu wajib patuh protokol kesehatan. Tidak saja pada masa pandemi Covid-19 dengan 3M namun di seluruh aktivitas. (R10/f)

Sumber
: Hariansib edisi cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru