Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026
Renungan

Perayaan Anugerah Allah

- Minggu, 21 Desember 2014 19:04 WIB
388 view
Jika  sakit penyakit terus menggerogoti tubuh anda dan dokter berkata yang begini harus operasi dan biayanya sangat tinggi, mungkin saat ini saudara datang dalam keadaan putus asa, rasanya tidak ada lagi harapan, tidak ada lagi yang bisa menolong, hanya tinggal menunggu waktu saja. Saya ingin katakan pada saudara saat ini, ada yang lebih tinggi dari dokter, ada yang lebih berkhasiat dari obat, ada yang lebih hebat dari rumah sakit - itu namanya anugerah Tuhan. Terimalah anugerah itu sekarang dan lihat dunia ini segera akan dipulihkan kembali.

Kalaupun saat ini rumah tangga anda sedang berantakan dan keluarga terasa porak poranda - tidak ada lagi kerukunan dan keharmonisan, yang ada setiap hari ada kata-kata kasar yang saling menyakiti, pandangan mata yang curiga, amarah, kebencian dan kekecewaan satu dengan yang lain - jangan pernah menyerah, jangan biarkan Iblis menang dengan perceraian, tapi biarlah hari ini hati kita terbuka lebar sehingga kasih karunia Allah bisa turun dalam rumah tangga dan keluarga kita. Anugerah itu ibaratnya seperti terang kemuliaan Allah - Bangkitlah menjadi teranglah sebab kemuliaan Tuhan telah terbit atasmu. Kalau kemuliaan Tuhan terbit atas keluarga kita, maka kita akan melihat malaikat Tuhan bekerja dan memulihkan keluarga kita menjadi indah kembali.

Mungkin saja ditengah kegemerlapan natal yang dirayakan dimana-mana saat ini seolah orang Kristen sedang  sukacita dan kebahagiaan - namun, jika kita masih mengamati dan melihat kenyataan di sekeliling kita bahwa ada banyak orang yang kelaparan, ditimpa musibah, ada yang kena PHK (pemutusan hubungan kerja), ada yang kalah dalam mengikuti testing, ada teman atau keluarga atau kenalan kita kehidupannya semakin susah dan melarat, atau tidak mendapat jabatan atau tidak pernah dihargai kenaikan pangkatnya. Janganlah kita frustasi, mari kita doakan mereka supaya tetap teguh dan kuat kommitmennya kepada Kristus sebagai sumber pengharapan sejati.

Maria dan Elizabet adalah dua tokoh wanita dalam Alkitab yang dapat kita jadikan sebagai orang yang patut menjadi teladan iman kita pada saat ini. Lihat kehidupan Maria: pada awalnya dia adalah seorang gadis biasa yang sederhana dan polos. Tidak banyak orang yang mengenal dia, bukan berasal dari keluarga kerajaan yang punya kekuasaan besar atau kekayaan yang besar. Mungkin dia seperti kebanyakan dari kita yang hadir pada saat ini. Tapi perhatikan baik-baik: ketika dia mendapatkan anugerah Allah yang besar itu, hidupnya disertai Tuhan, langkah-langkahnya diatur oleh Tuhan, dan dia dipakai secara luarbiasa untuk melahirkan bayi Yesus, namanya harum dicatat dalam Alkitab, dan melalui hidupnya banyak orang-orang yang diberkati. Inilah Anugerah Allah yang besar itu.

Pertama kali Maria mendengar pesan anugerah yang disampaikan itu, Maria terkejut - Alkitab bahasa Inggris menulis Maria tertanggu, gelisah, takut, tidak mengerti. Ini adalah respon pertama kalau anugerah Tuhan turun atas hidup seseorang. Seringkali kita punya pandangan tersendiri tentang anugerah sehingga kita berpikir: kalau anugerah Tuhan turun, pasti yang ada hanyalah berkat, kemakmuran, dan kebahagiaan. Padahal Allah katakan: JalanKu bukan jalanmu, caraKu bukan caramu; sejauh langit dari bumi, demikian bedanya rancanganKu dengan rancanganmu.

Supaya Yusuf bisa mendapatkan apa yang sudah dijanjikan melalui mimpi (keluarganya tunduk dan menghormati Yusuf), terlebih dahulu Tuhan harus membawa dia ke Mesir. Proses menuju janji Tuhan yang luarbiasa itu terasa sangat menyakitkan bagi Yusuf: dia harus hidup jauh dari keluarga dan orang tuanya, dia dijual sebagai budak, dia difitnah dan diperlakukan tidak adil, dia ditipu dan dilupakan.

Mungkin saja respon Yusuf sama dengan Maria pada waktu pertama kali menerima anugerah Tuhan itu: Yusuf bingung, tidak mengerti, gelisah, takut. Akan tetapi karena dia tetap setia kepada Tuhan, maka apa yang sudah dijanjikan Tuhan diberikan dalam hidupnya - dalam sekejab nasibnya berubah menjadi orang besar yang berkuasa dan sangat berpengaruh, bahkan keluarganya tunduk kepadanya.

Jangan-jangan anda tidak menyadari bahwa situasi yang tidak menyenangkan yang sedang anda rasakan pada saat ini adalah jalan anugerah Tuhan. Jangan-jangan anda mengeluh, bersungut, dan menyalahkan Tuhan. Jangan-jangan anda mulai berpikir untuk pergi dan meninggalkan Tuhan. Jangan-jangan anda sudah mulai undur dalam pelayanan. Jangan-jangan anda lelah untuk berdoa, mendengar Firman, apalagi memberitakan Injil.

Hari ini dengarkan baik-baik: Janganlah jemu-jemu berbuat baik, karena kalau kita tidak menjadi lemah, maka kita akan menuai pada waktunya. Kesadaran akan anugerah Allah yang besar mengharuskan dan memampukan kita untuk menaati Allah dan kehendak-Nya.

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Lukas 1:38). Betapa indahnya kalimat ini! Akan tetapi, apakah Maria menyadari risiko ucapannya itu? Apakah ia tahu bahwa ucapan itu berarti bahwa ia siap dianggap berkhianat oleh Yusuf, bahkan siap dicap sebagai pezinah dan dirajam dengan batu? Apakah ia tidak takut kalau Yusuf menceraikannya? Tentu saja Maria tahu! Bila ia tahu, mengapa ia berani mengambil risiko sebesar itu?
Pertama, dia sadar bahwa ia mendapat kasih karunia dari Allah. Malaikat menyebut dia sebagai "yang dikaruniai" (1:28) karena ia menerima apa yang tidak pantas diterimanya. Ia akan mengandung Anak Allah yang Maha tinggi, Mesias dari keturunan Daud yang sudah lama dijanjikan itu (1:31-33). Ia sadar bahwa anugerahlah yang membuat Allah memilihnya.

Kedua, dia sadar bahwa kasih karunia Allah akan memampukan dia untuk hidup dalam ketaatan. Memang, ada banyak risiko yang akan dia hadapi, tetapi malaikat mengingatkan bahwa Roh Kudus akan menaungi dan melindungi serta memampukan dia (1:35). Dua alasan inilah yang mendorong dan memampukan Maria untuk menunjukkan ketaatan yang spektakuler.

Jika hari ini Allah hendak memakai seluruh hidup kita untuk melayani Dia, bukankah itu anugerah bagi kita, mengingat bahwa kita bagaikan sampah yang tidak berarti? Maukah Anda dipakai oleh-Nya sekalipun Anda harus melepaskan impian dan cita-cita Anda? Jika kita ragu-ragu apakah kita mampu melayani Dia, bukankah Allah akan menopang kita? Marilah kita melayani Dia dengan kekuatan yang akan Dia berikan.

Merayakan natal berarti kita mensyukuri tentang anugerah Allah (Yohannes 3:16). Oleh karena itu, perayaan natal adalah perayaan anugerah Allah sedang melanda dunia. Amin.! (Penulis, Berdomisili di Pematangsiantar/c)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru