Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026

Pesan Natal yang Utama dan Pertama : Jangan Takut !

*Oleh: Richard Daulay
- Minggu, 21 Desember 2014 19:03 WIB
970 view
Ada dua jenis ketakutan. Takut kepada Allah dan takut kepada manusia. Takut kepada Allah adalah perintah Tuhan: Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan (Amsal 1: 7). Sedangkan takut kepada manusia adalah bisikan setan. Karena itulah Tuhan berfirman: Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka (Matius 10: 28). Orang yang takut kepada Tuhan, bisanya tidak takut kepada manusia dengan segala ancaman dan intimidasinya. Ingat Petrus dan rasul-rasul yang berani menantang para penguasa agama Yahudi, karena mereka dilarang berkotbah dalam Nama Yesus: Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia(Kisah Rasul 5: 29). Tetapi orang yang tidak takut kepada Allah, biasanya sangat takut kepada manusia, bahkan kepada manusia yang tidak berdaya. Ingat Raja Herodes, setelah mendengar dari orang Majus berita tentang kelahiran Yesus, sebagai raja orang Yahudi, dia langsung takut, panik, dan bereaksi secara berlebihan, sampai membunuh anak-anak di Betlehem  yang berumur dua tahun ke bawah.

"Berani karena benar, takut karena salah", demikian bunyi peribahasa. Artinya "kita tidak usah takut kalau tidak bersalah". Pesan Natal yang pertama dikumandangkan malaikat Tuhan  adalah: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa !" (Lukas 2:10). Mengapa pesan Natal yang utama dan pertama adalah "Jangan takut?"Karena ketakutan adalah musuh utama yang paling ditakuti oleh manusia.

Ketakutan mematikan potensi setiap pribadi. Ingat perumpamaan Yesus tentang "talenta" dalam Matius 25: 12-27. Ketika hamba penerima satu talenta itu dimintai pertanggungjawaban oleh tuannya, dia berkata: "Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menabur. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah..." (Matius 25: 24-25).

Ketakutan membuat manusia lemah, lumpuh, tidak berinisiatif, tidak kreatif dan tidak mau berjuang untuk sebuah prestasi. Ketakutan membunuh potensi besar yang telah Allah berikan kepada setiap orang. Tentang talenta berlaku prinsip: "Use it or loose it". Bandingkan dengan penerima dua talenta dan lima talenta, karena mereka adalah manusia yang tergolong "risk taker" dan bukan penganut "ilmu selamat", mereka mendapat apresiasi yang tinggi dari tuannya: "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar" (Matius 25: 21). Orang yang setia dalam perkara-perkara kecil, akan diberikan tanggung jawab yang lebih besar. Orang yang siap bekerja keras, melaksanakan tugas dengan baik, dan selalu siap mempertanggungjawabkan pekerjaannya kapan saja pun diminta, maka orang itulah yang akan menerima penghargaan dari Tuhan. Sebaliknya manusia, terutama pemimpin yang tidak menjalankan tugasnya dengan setia akan dicap sebagai hamba yang "jahat" dan "malas", akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap (Matius 25: 30).

Misi kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk memulihkan kondisi manusia sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. Yesus datang ke dunia untuk menjadi tebusan bagi dosa-dosa kita. Dia yang tidak mengenal dosa, rela mati bagi orang berdosa. Keselamatan yang Yesus kerjakan adalah keselamatan dari dosa dan hukuman dosa, agar manusia tidak hidup dalam belenggu ketakutan, tetapi manusia menjadi manusia yang bebas dan merdeka. Dosa dan ketakutan tidak berkuasa lagi dalam hidup setiap orang percaya. Kita tahu, bahwa sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, manusia tidak mengenal ketakutan. Ketakutan adalah buah dosa.Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, yang terjadi adalah manusia menjadi takut. Adam berkata kepada Tuhan Allah: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang, sebab itu aku bersembunyi" (Kejadian 3: 10). Yang terjadi di taman Eden ialah manusia mencuri, mengambil buah terlarang, dan melanggar hukum moral yang merupakan fondasi dari segala hukum positif di dunia. Manusia kalah terhadap godaan "ular" (Iblis),bahwa kalau manusia mengambil dan makan buah terlarang itu maka masa depan mereka pasti lebih cemerlang. Alkitab berkata: "Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian" (Kejadian 3: 6).

Awalnya manusia sudah diberikan kecukupan: pendapatan besar, tempat tinggal besar, termasuk tunjangan ini dan itujuga besar.  Tetapi Tuhan menetapkan aturan,  bahwa kendati ada kuasa, namun manusia (Adam dan Hawa) tidak boleh menyalahgunakan kekuasaan itu untuk mengambil segalanya. Tuhan sudah memberikan mereka taman Eden, kecuali pohon terlarang yang bukan hak mereka sebagai manusia.  Sayang seribu kali sayang, akhirnya sang Iblis dalam wujud ular menggoda Hawa termasuk Adam juga: Mengapa tidak mau menikmati semua kekayaan dalam taman Eden? Mengapa tidak mengambil-alih kepemilikan atas "pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat" yang ada di taman Eden? Mengapa tidak mau cepat kaya bila kesempatan terbuka? Mengapa tidak menggunakan kesempatan dalam kesempitan? Mengapa tidak menggunakan prinsip "aji mumpung"? Godaan seperti inilah yang mendorong banyak anak muda mengisap narkoba, mula-mula untuk sekedar ingin tahu bagaimana rasa narkoba. Godaan seperti inilah juga yang mendorong para pemain judi menghabiskan waktu di kasino dan meja judi, karena mereka, tanpa kerja keras, ingin cepat kaya. Itu juga sebabnya terjadi korupsi dan manipulasi di berbagai negara, pemerintahan, perusahaan, bahkan di dalam gereja juga. Sudah banyak pejabat negara yang masuk penjara. Sudah banyak koruptor yang ditangkap KPK. Di Korea dan di Amerikas, beberapa pepimpin Gereja, karena terlibat manipulasi pajak dan uang gereja, terpaksa masuk penjara. Mereka adalah orang-orang yang tidak takut kepada Tuhan, tetapi pasti sangat takut kepada manusia, dan sering bereaksi berlebihan terhadap sesama.

Godaan seperti ini tidak hanya datang kepada Adam dan Hawa. Godaan yang sama dialami oleh setiap manusia. Yesus sendiri juga pernah menghadapi godaan di padang gurun untuk menyalah-gunakan kuasanya menjadikan batu menjadi roti. Yesus menolak jalan pintas. Jalan Yesus adalah "via dolorosa" (jalan penderitaan). Bagi Yesus dan orang percaya "no crown without cross" (tidak ada mahkota tanpa salib). Iblislah yang selalu menawarkan jalan yang lebar dan jalan pintas yang sering dilakukan orang-orang yang jahat dan malas, seperti penerima satu talenta di atas.

Godaan yang sama juga sering datang kepada pemimpin negara dan pemimpin agama (baca: Gereja). Dari dulu hingga sekarang Iblis dan setan selalu menggoda Raja, penguasa, pemimpin negara termasuk pemimpin Gereja untuk bertindak dan berperilaku seperti Tuhan, atau setengah Tuhan. Reinhold Niebuhr (teolog Amerika) dalam satu kuliah Etika Politik, bertanya: Apakah negara milik Tuhan atau milik Iblis? Jawabnya ialah, bahwa negara adalah milik Tuhan, tetapi apabila negara dan pemerintah negara itu menganggap dirinya seperti Tuhan, maka negara dan pemerintahannya sudah menjadi milik setan.

Pemimpin Negara atau pemimpin Gereja, ketika sudah menganggap dirinya sebagai Tuhan atau "setengah Tuhan", maka pemimpin seperti itu adalah pemimpin yang sedang berkolaborasi dengan kuasa Iblis dan setan.  Pemimpin negara yang pernah mengklaim dirinya seperti Tuhan atau "setengah Tuhan"  yang tercatat dalam sejarah antara lain ialah: Kaisar-kaisar Romawi dan Hitler di Jerman. Demikian halnya pemimpin gereja di abad pertengahan juga sudah bertindak demikian. Apakah pemimpin seperti masih ada di sekitar kita, mari kita jawab bersama.

Dalam konteks dunia seperti digambarkan diataslah pesan Natal berkata: "Jangan Takut!" Perintah Tuhan yang paling banyak diulang-ulang dalam Alkitab adalah "Jangan takut!"Terdapat 366 kali ucapan "Jangan Takut!" di dalam Alkitab, cukup satu perintah setiap hari. Kepada Abraham, Musa, Yosua, Yeremia, Daniel, Maria, para Gembala, Simon Petrus,  Yohanes, Paulus, sampai kepada para misionaris segala zaman, perintah ini tetap relevan: "Jangan Takut, ... Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan..." (Lukas 2: 10-11). Kepada siapakah kabar baik ini ditujukan? Yang pasti bukan kepada Herodes di istana Yerusalem; bukan kepada Kaisar Agustus di kota Roma; bukan juga kepada Imam-imam kepala, ahli-ahli taurat di Kantor Pusat mereka di Bait Allah.

Kabar baik ini ditujukan kepada gembala-gembala yang tidak punya rumah untuk meletakkan kepala; para gembala yang sederhana, yang hidup apa adanya, bukan ada apa-apanya. Kabar baik ini ditujukan kepada mereka yang berada di bawah bayang-bayang kuasa para tuan tanah dan bangsawan yang kaya-raya. Kepada mereka yang dipinggirkan, yang tidak berdaya dan yang dikecilkan (the last, the least, the lost).

Kabar baik ini juga ditujukan kepada warga gereja, termasuk kepada para pendeta yang sedang berada dalam berbagai penderitaan dan bayang-bayang ketakutan karena masa depan yang tidak jelas. Tidak dapat disangkal, banyak pendeta di berbagai gereja, yang hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Banyak pendeta yang talentanya "mati" karena tidak berani menjalankan "talenta" dan panggilannya karena takut resiko. Tidak sedikit pendeta yang hanya berpikit tentang "sejengkal perut", dan lupa bahwa Tuhan seudah berfirman: Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah Tuan dan kamu hambaNya" (Kolose 3: 23-24). Saya melihat tidak sedikit pendeta yang sebenarnya punya potensi, tetapi karena "ketakutan" maka dia terpaksa layu sebelum berkembang. Talenta para pendeta hanya bisa berkembang bila prinsip ini dipegang: "Berani karena benar, takut karena salah". Tugas dan panggilan pendeta sebagaimana Yesus ajarkan adalah mengkotbahkan kebenaran melakukan kebenaran: "Jika ya, hendakah kamu katakan: ya, jika tidak, hendakah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat" (Matius 5: 37). Sayang, banyak pendeta yang mengaku diri hamba Tuhan, memilih diam ketika datang waktunya untuk berbicara menyatakan kebenaran. Tidak sedikit orang yang mengaku sebagai hamba Tuhan memilih sikap "menyembunyikan talenta" karena takut mengambil resiko dan takut menghadap tantangan. Pesan Natal berkata kepada semua orang "Jangan Takut!" Amen. (h)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru