Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 03 Februari 2026

Sejuta Damai Dalam Kesederhanaan Natal

*Oleh: Pdt. Robert Sihombing M.Th
- Minggu, 28 Desember 2014 18:10 WIB
290 view
"Kesederhanaan-  akan menciptakan kebahagian... " (Andreas Susetya)
Benar dan sungguhkah demikian? Kalau benar dan sungguh, mengapa banyak pelaku kegiatan Natal (gereja dengan segala cakupan komunitasnya, seperti: instansi pemerintah dan swasta, arisan (Serikat Tolong Menolong) baik yang bersifat umum maupun khusus)  di bawah kolong langit ini menjauhinya, bahkan berupaya membuang kata sederhana dari rahim Natal yang sesungguhnya? Bukankah kini Natal yang sederhana  menjadi sesuatu yang gamang dan diasingkan dalam hidup gereja? Sebaliknya unsur-unsur  kemewahan seakan mendominasi alam pikiran kita ketika merayakan Natal? Berbagai argumentasi sering dimunculkan untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas. Tapi toh, hingga saat ini, Natal bergulir terus tahun demi tahun dengan segala citra kemewahan fisik yang ditampilkan dan seringkali tidak memberikan jawaban terhadap pencarian makna sebuah perayaan Natal yang digelar yakni: Damai.

Adalah sebuah realitas nan tak bisa dipungkiri, bahwa konsep hedonisme, materialisme telah merebak ke setiap sendi kehidupan manusia zaman modern ini.

Setiap orang seakan takut ketinggalan kereta dengan tidak mendapatkan bagian dari pemuasan hasrat dan nafsu indrawi dalam bentuk pemenuhan benda-benda, segala jenis material yang sebenarnya seringkali bukan sebagai kebutuhan pokok kehidupan sehari-hari. Tujuan sesungguhnya adalah untuk memenuhi tuntutan kenikmatan indrawi semata. Bahkan, gelombang hedonisme dan materialisme selalu diwejantahkan dalam bentuk  kemewahan, termasuk ketika merayakan Natal.

Fenomena Natal yang terpaku pada aras kemewahan sebenarnya telah menjadikannya menjadi sebuah show biz yang hanya menggelar dan melahirkan kesenangan duniawi, kenyamanan mata memandang dari apa gelaran kegiatan yang dipentaskan yang dilatari berbagai pernak-pernik Natal yang bisa menghebohkan dan membuat kita berdecak kagum, "wahhh".  Dengan demikian, sebenarnya yang terjadi adalah penguatan rasa fisik oleh Natal itu sendiri dan sudah pasti kehilangan rasa damai yang menjadi tujuan perayaan Natal sesungguhnya.

Dengan melihat fenomena Natal sekarang ini, tidak sulit bagi kita  untuk melihat apa pembeda yang jelas mengenai perayaan Natal setiap tahunnya antara ritual keagamaan dengan  pesta. Ritual keagamaan dimaksud adalah terkait dengan arti Natal sejak dirayakan pertama kali pada abad ke-2 kekristenan yang dirunut dari kisah kelahiran Yesus dalam Alkitab. Sedangkan pesta yang dimaksud adalah bagaimana menghadirkan sebuah acara dengan segala pernak-pernik dan asesoris yang mesti dibuat walau seringkali tak menggambarkan apa kandungan makna sesungguhnya pada setiap  acara Natal  yang digelar. Dengan kata lain, saat ini, perayaan Natal dan Pesta seringkali tidak memiliki perbedaan yang jelas. Keduanya sama-sama menjunjung dan memuliakan aspek-aspek material yang begitu mahal dan mewah hanya untuk menanamkan kesan artificial yang kuat dan keberhasilan panitia. Bila demikian halnya, mungkinkah makna Natal sesungguhnya masih bisa didapatkan pada setiap perayaannya? Atau mungkinkah Natal bisa dikembalikan kepada habitat aslinya yakni: kesederhanaan?
Merayakan hari ulang tahun Yesus mestinya meletakkan nilai kesederhanaan yang terkandung dalam jiwa dan roh Natal itu sendiri. Dia lahir dalam kesederhanaan yang dipilihNya dalam kesadaran. Dia ingin menempatkan diriNya dalam realitas  kehidupan manusia yang terjangkar pada komunitas gembala, petani dan orang-orang miskin yang tidak bisa mereka ubah dalam sekejap menjadi pemilik benda-benda serta membuat pernak-pernik Natal nan "wah" dan "mewah". Dia ingin, hatiNya terus berada dan melekat pada hati setiap manusia dalam kemiskinan yang masih menghimpit mereka agar melalui kelahiranNya mereka menjadi kaya. Kaya dalam rakhmat yang sengaja dibawa turun dari Sorga supaya mereka menjadi pemilik damai dan sukacita.

Natal sesungguhnya adalah kepemilikan hati Sang Anak yang lahir di tempat sederhana, bahkan sangat kumuh yakni: kandang domba.

Segala kesan mewah dan mahal tidak ditemukan di sana, kecuali bau pesing domba dan sisa-sia makanan yang sudak busuk dan berbau. Merayakan Natal bukan saja meredusir aspek-aspek fisik yang seringkali menjadi tujuan perayaan tetapi juga men "shortcut" segala yang berbau entertaint semata. Dengan kata lain, merayakan Natal adalah perjumpaan dengan Allah di pusat jiwa dan hati Yesus dalam kerelaanNya lahir di tempat sederhana. Bukankah ini sebuah kisah yang harus diadopsi secara terus-menerus di segala waktu dan zaman? Kisah kelahiran Sang Raja yang melepaskan atribut-atribut Sorgawi hanya demi kehidupan manusia dan keberlangsungan damai di bumi dan di sorga?

Dalam setiap perayaan Natal, kita seharusnya menemukannya. Tapi kenyataan  berbicara lain, bahwa kesederhanaan Natal sering tak ditemukan. Damai yang menjadi pesan sorgawipun hilang tak berbekas seusai Natal dirayakan. Yang tinggal adalah lelah, galau, kehampaan, ribut dan sejenisnya karena Natal ternyata telah bergeser dari substansinya sendiri. Bahwa perayaan Natal harus diposisikan pada jiwanya, di mana orang yang berulang tahun adalah Yesus, bukan manusia, bukan kita, bukan pejabat gereja. Maka sebenarnya kita harus menempatkan Yesus sebagai pusat perayaan, sebab Dia sendirilah yang berulang tahun dengan balutan lampin serta palungan yang menggambarkan betapa damai sorga ada dalam HUT-Nya yang sederhana.   Kesederhanaan Natal, perlu diwujudkan  dalam setiap acara Natal yang digelar, sebab hanya di sana kita menemukan pesan sorgawi nan sesungguhnya yakni: Sejuta damai sebagai karunia ilahi tak terperi untuk kita nikmati. Tahun ini semoga damai itu membersit dan membuncah di setiap rongga hati kita yang terdalam. (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru