Saudara-saudari terkasih, sangat menarik mendalami perikop Injil ini. Yesus mengibaratkan diri-Nya sebagai pokok anggur yang benar. Para murid diibaratkan dengan ranting-ranting dari pokok anggur itu. Ranting dan pokoknya harus menyatu. Kalau tidak, ranting tidak berarti apa-apa selain mati dan dibakar. Apa pesan Injil ini yang menjadi kabar sukacita bagi umat beriman?
Sejak awal Allah memanggil manusia untuk selalu dekat dengan-Nya. Panggilan Allah adalah panggilan kasih. Allah menciptakan manusia. Pengalaman jatuh mewarnai perjalanan hidup manusia. Ada saat-saat manusia mengalami krisis dalam berelasi dengan Allah. Akan tetapi, Allah tidak menghendaki umat-Nya menjadi binasa. Ketika manusia menjauh dari Allah, Allah memanggil manusia untuk bersatu dengan-Nya.
Allah mengutus Anak-Nya ke dunia untuk membawa semua orang kepada kemuliaan-Nya. Yesus berkarya di dunia untuk mewujudkan misi-Nya agar dunia mengenal Yesus sebagai Anak Allah. Yesus membawa keselamatan. Tandanya, orang buta dimelekkan matanya sehingga mampu melihat, orang lumpuh dibuatnya berjalan, orang kusta ditahirkan. Berbagai pengajaran dan karya yang dilakukan Yesus ditujukan untuk membawa manusia pada keselamatan yang ditawarkan Allah.
Agar warta keselamatan semakin menyebar ke seluruh dunia, Yesus memanggil para murid. Yesus memperlengkapi para murid dengan ajaran dan pola hidup yang khas. Yesus menekankan ajaran kasih dan penghayatan hidup atas ajaran utama tersebut. Yesus meyakinkan para murid bahwa Dia akan senantiasa menyertai mereka dalam menunaikan tugas pewartaan Kristus. Misi Kristus hendaknya prioritas para murid. Kekuatan para murid untuk mewartakan Injil adalah Kristus yang senantiasa hidup dan berkarya dalam diri mereka. Para murid tidak berarti apa-apa tanpa kekuatan Kristus yang senantiasa hadir dalam diri mereka untuk memberi kesaksian di tengah-tengah dunia.
Melalui pembaptisan, umat beriman telah dipersatukan dengan Kristus. Hubungan itu kekal dan tidak terhapuskan. Akan tetapi, sekalipun umat beriman telah dipersatukan dengan Yesus Kristus melalui pembaptisan, umat beriman harus tetap memperjuangkan relasi dengan Yesus Kristus agar hubungan itu tetap berlangsung baik. Kita tahu bahwa pembaptisan tidak menghapuskan kecenderungan manusiawi kita. Karena itu, kita harus mengusahakan hubungan kita dengan Yesus Kristus tetap baik sehingga kekuatan Yesus Kristus yang meraja dalam diri kita dan jangan sampai kecenderungan manusiawi kita yang berkuasa. Relasi yang baik dengan Tuhan akan menghasilkan buah, sedangkan relasi yang tidak baik akan kurang menghasilkan buah atau bahkan mati dan kemudian dibakar.
Masihkah kita meluangkan waktu untuk melihat hubungan kita dengan Tuhan di tengah-tengah kesibukan, keriuhan dan persaingan yang menjadi tanda kehidupan modern sekarang ini? Mendengarkan suara Allah dalam keheningan merupakan langkah nyata untuk meneliti hubungan dengan Tuhan.
Mendengarkan suara Allah berarti mendengarkan sapaan Allah bisa melalui orang-orang di sekitar kita, alam ciptaan dan bacaan-bacaan rohani. Sapaan itu akan sungguh menggema manakala kita membuka hati dan budi. Tanggapan kita adalah: tunduk kepada-Nya dan kemudian mengikuti Dia yang menyapa kita.
Yesus telah menunjukkan kasih-Nya kepada kita. Digerakkan oleh cinta Yesus itu, hendaknya kita juga mewujudkan kasih dalam hidup harian kita sebagai buah dari persatuan kita dengan Yesus Kristus. Pengalaman kita dikasihi Yesus akan menggerakkan kita untuk berbagi kasih dengan sesama. Seorang ahli psikologi mengemukakan bahwa orang yang mengalami kasih akan sangat mudah membagikan kasih kepada sesamanya. Allah telah mengasihi kita dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menebus kita dari perhambaan dosa. Sebaliknya, seseorang yang kurang mengalami kasih akan sulit pula untuk membagikan kasih kepada sesamanya.
Kasih yang kita wujudkan bukanlah kasih yang semu, melainkan kasih yang tulus. Kasih yang demikian pasti menuntut pengorbanan sebagaimana telah ditunjukkan Yesus Kristus dalam kisah sengsara-Nya menuju Golgota. Pelan tapi pasti, apabila kita mampu mewujudkan kasih yang tulus, maka sikap egois bisa kita ubah menjadi sikap solider. Kiranya persekutuan umat beriman menjadi wadah persemaian kasih yang bersumber dari Yesus Kristus. Kita berharap pula agar keluarga-keluarga kita tidak jemu-jemu mewujudkan kasih yang bersumber dari Kristus, sehingga anak-anak kelak semakin terbiasa menampilkan kasih dan semakin mudah membagikan kasih kelak dalam hidup bermasyarakat sebagai pengikut Yesus.
Memang harus kita akui bahwa tantangan para pengikut Yesus pada jaman sekarang bukanlah ringan. Berhadapan dengan kemajuan jaman semoga kita sebagai pengikut Yesus tidak mudah menyerah, tetapi tetap setia dan bertahan pada kehendak-Nya. Pengikut Yesus tidak perlu gentar untuk menaburkan benih-benih kasih pada jaman ini. Sebab, Yesus Kristus tetap menyertai orang-orang yang mengikut jejak-Nya. Semoga Tuhan memberkati segala perjuangan kita untuk menaburkan kasih-Nya di dunia! Amin.