Sangat susah menerjemahkan kata "Manjomput Nasinurat" ke dalam bahasa Indonesia. Orang Batak pada umumnya mengerti apa yang dimaksud dan yang terkandung dalam kata tersebut. Namun untuk memudahkan para pembaca untuk mengertinya maka diberikan arti secara umum: "Memungut/mengambil yang sudah tertulis". Hal ini berkaitan dengan Pemilihan Pemimpin Gereja yang sedang berlangsung dimana para peserta sudah menetapkan sebelumnya siapa calon yang menduduki posisi sebagai Ketua atau siapa calon yang akan menduduki posisi Sekretaris Jenderal. Jikalau para calon sudah ditetapkan, maka peserta synode agung langsung memilih siapa orangnya yang dia anggap layak untuk menduduki posisi yang dimaksud.
Hal ini barangkali seperti yang pernah dilakukan oleh para rasul ketika mereka hendak memilih siapa yang akan menduduki jabatan: (Yunani: episkopoio) yang sudah kosong dimana Yudas Iskariot telah gantung diri karena merasa bersalah menjual Guru dan Tuhannya. Tindakan para rasul ini disebut dengan membuang undi. Membuang undi (Kis. 1:26) dalam bahasa Yunani disebut: edokan klirous autois, dalam terjemahan Authorized King James Version disebut: they gave lots). Barangkali dari kata "lot" inilah maka kita kenal dengan istilah: "lottere" (mengambil nomor). Untuk lebih jelasnya apa yang terjadi dimasa itu perlu mencantumkan ayat-ayat berikut yang diambil dari Kisah Para Rasul, demikian: "Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya." Lalu mereka mengusulkan dua orang: Yusuf yang disebut Barsabas dan yang juga bernama Yustus, dan Matias. Mereka semua berdoa dan berkata: "Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini, untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah jatuh ke tempat yang wajar baginya." Lalu mereka membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu" (Kis. 1:21-26).
Dari catatan Firman Tuhan di atas diketahui bahwa para rasul itu memilih (Batak: manjomput na sinurat) dengan membuat beberapa ktiteria yang harus dipenuhi untuk menjadi calon "episkopos" karena 12 rasul itu jenjang kerohaniwanan mereka disebut: "episkopos". Syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi calon episkopos (cal-pos) atau calon ephorus (cal-rus) atau calon bishop (cal-bis) atau apapun nama julukan pemimpinnya maka harus memperhatikan hal-hal berikut:
1. Si calon pemimpin (cal-pin) haruslah: "Seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus diangkat ke surga" (21-22a). Kata "datang berkumpul" dalam bahasa Yunani disebut: "synelthontes". Kata ini dibangun dari dua kata: "syn" artinya: sama-sama atau bersama - dan kata kerja "eltho", artinya datang. Jadi "syneltho atau "synelthontes" berarti datang bersama-sama dengan murid yang lain itu mengiring Tuhan Yesus Sang Guru mereka yang agung. Artinya dimana ada Yesus, para calon pemimpin (cal-pin) itu pasti sudah ada di sana di dekat-Nya. Ribuan orang yang datang kepada Yesus, tetapi hanya untuk meminta mujizat, hanya meminta untuk disembuhkan, hanya untuk memohon perutnya diisi karena lapar, dan lain sebagainya. Lalu ketika mereka sudah mendapatkannya, pergi dan meninggalkan Yesus sendirian seperti yang dilakukan oleh 10 orang kusta. Ketika mereka sudah sembuh dan ditolong oleh Tuhan Yesus, 9 orang kembali kepada habitatnya bahkan tidak sempat bersyukur kembali kepada Yesus. Hanya satu orang yang datang kembali (Yunani: synelthontes) kepada Yesus dan mengakui Dia sepanjang hidupnya sebagai Tuhan dan Juruselamatnya pribadi. Karena itulah jabatan kepemimpinan Gereja tidak boleh dilelang. Bukan karena mereka tidak pakar! Bukan! Namun apakah mereka (calon pemimpin) itu mampu tetap datang kepada Yesus (synelthontes) dalam suka-maupun duka, waktu tenang atau waktu susah? Dalam masa tugas (incumbent) atau purna tugas (pensiun)? Ada banyak Gereja pecah karena calon pemimpin tidak terpilih kembali. Di sini letaknya maka para rasul menetapkan kriteria pertama adalah: datang berkumpul (synelthontes) dengan Tuhan Yesus! Apapun yang terjadi, dipilih atau tidak terpilih, ia harus melayani Yesus dalam gereja-Nya.
2. Kriteria yang kedua adalah si calon pemimpin harus menjadi: Saksi Yesus Yang Bangkit. Kata-kata ini diambil dari Kis. 1:22b: "menjadi saksi tentang kebangkitan-Nya (Yunani: martyras tis anastaseos)". Kata "saksi" (Yunani: martys, kata kerjanya: martyreo) berarti ianya melihat dengan jelas, menyaksikan dengan jelas, tidak ditambahi, tidak dikurangi, mengalami atau merasakan dengan jelas siapa itu Yesus Kristus. Bukan katanya, seperti yang pernah dilakukan oleh para murid ketika Yesus bertanya kepada mereka: Menurut kalian, siapakah Aku! Lalu mereka menjawab: Kata si anu, katanya si ini, katanya si itu! (Mat. 16:13-16). Jawaban yang tak jelas! Karena mereka bukan atau belum menjadi saksi (Yunani: martys) yang sesungguhnya. Saksi (martys) yang sesungguhnya akan menjawab pertanyaan Yesus ini dengan pasti dan yakin karena ia melihat, menyaksikan dan merasakan sehingga mampu berkata: Engkau adalah Mesias! Bukan hanya berhenti menjadi saksi saja tetapi ada lanjutannya yang mendalam yaitu "Saksi akan Yesus yang telah bangkit" (Yunani: martyras tis anastaseos). Bukan saksi akan Yesus menurut Ensiklopedia, bukan saksi tentang Yesus menurut Tafsiran Masa Kini, bukan saksi akan Yesus menurut para theolog Barat! Tetapi saya sendiri mengalami bahwa Yesus itu bangkit dalam kehidupan saya. Pemimpin yang diharapkan dan dirindukan umat adalah pemimpin yang mampu membawa dan mempengaruhi seluruh umatnya (Yunani: poimnio)-nya menyaksikan Yesus yang bangkit ini sehingga menjadi motivasi bagi umat untuk melanjutkan estafet keyakinan Kristen itu dari generasi demi generasi sehingga dunia ini diselamatkan. Saya berharap Synode Agung Huria Kristen Indonesia Ke-61 yang berlangsung di Suka Makmur, Deli Serdang mulai tanggal 20-23 Agustus 2015, berjalan dengan baik sehingga menghasilkan pemimpin seperti yang dimaksud di atas. Dengan demikian bisa berkontribusi bersama dengan gereja-gereja yang lain untuk membangun bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia! Selamat Bersynode! Tuhan Yesus memberkati.