Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 30 Juni 2026

Tak Terkecuali, Ekonomi Asia Juga akan Melambat Tahun Ini

- Kamis, 07 Mei 2015 15:20 WIB
451 view
Tak Terkecuali, Ekonomi Asia Juga akan Melambat Tahun Ini
Jakarta (SIB)- Perekonomian global sangat bergantung terhadap pertumbuhan negara-negara di kawasan Asia dalam beberapa tahun terakhir. Akan tetapi melihat kondisi 2015, hal tersebut akan sulit terwujud dengan ekonomi Asia diperkirakan hanya akan tumbuh sekitar 4%.

Demikianlah diungkapkan Gunit Chadha, Co-CEO, Asia Pacific & Member of the Group Executive Committee, Deutsche Bank dalam seminar ekonomi oleh Institute of International Finance, di Hotel Ritz Charlton, Jakarta, Kamis (7/5/2015)

"Asia memang cukup atraktif dengan pertumbuhan bisa sekitar 4-4,5% pada 2015. Tapi itu tidak cukup kuat untuk mengangkat perekonomian global yang tengah dalam perlambatan," jelasnya.

Ia menyebutkan, beberapa negara seperti India, China, Thailand serta Indonesia memiliki permasalahan dari sisi neraca transaksi berjalan. Ini tentunya akan berujung kepada pilihan stabilitas dibandingkan harus menggenjot pertumbuhan.

"Negara-negara itu, India Thailand, China, dan Indonesia masih punya masalah pada transaksi berjalan, sehingga stabilitas itu menjadi lebih penting," kata Chada.

Untuk posisi sekarang, memang cuma India yang lebih baik. Pada pertengahan 2013 lalu, transaksi berjalannya defisit di atas 4%. Sedangkan sekarang sudah di bawah 3%. Ini adalah perkembangan bagus dan harus dilakukan secara berkelanjutan.

"Tapi tetap saja ini menjadi risiko yang harus diwaspadai," tegasnya.

Melakukan perubahan pada transaksi berjalan harus diarahkan kepada peningkatan ekspor. Namun dengan negara lain juga mengalami perlambatan, maka persoalan tersebut juga tidak akan menjadi mudah. Permintaan impor pada setiap negara akan ikut menurun.

Tantangan lain yang harus dilewati adalah sisi pengetatan moneter. Selama regulasi masih berpihak pada arah yang ketat, maka akan sulit untuk mengharapkan ekonomi dapat tumbuh lebih tinggi.

"Kita bisa lihat pada pertumbuhan kredit yang melambat, itu akibat adanya pengetatan," sebut Chada.


(Detik.com/A22)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru