Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 25 April 2026

Sektor Pertanian Relatif Bertahan di Masa Pandemi Covid-19

Redaksi - Sabtu, 26 September 2020 13:18 WIB
444 view
Sektor Pertanian Relatif Bertahan di Masa Pandemi Covid-19
pixabay
Ilustrasi pertanian
Medan (SIB)
Kalangan dunia usaha di daerah ini menilai sektor pertanian saat ini relatif masih tampak bertahan sebagai bisnis yang prospektif, termasuk di masa pandemi Covid-19. Indikasi antara lain semakin banyak produk pertanian berupa sayur-mayur, buah-buahan dan produksi ternak seperti telur ayam dan itik yang dijual pada lapak-lapak bebas di sepanjang jalan di sejumlah lokasi kota ini.

Praktisi bisnis perkebunan kopi Maranti Tobing dan pengelola kebun jeruk di Tanahkaro Drs Sarjani Tarigan, secara terpisah menyebutkan para praktisi bisnis pertanian dari kalangan usaha menengah kecil dan mikro (UMKM) sebenarnya masih optimis memprediksikan perubahan dan perkembangan prospek di masa Covid-19 ini. Selain karena sifatnya produksi multi-yielding (produksinya tergantung komoditi), juga karena merupakan investasi yang (relatif) lebih aman dibanding sektor lainnya.

“Kalau misalnya prospek produk kopi saat ini anjlok karena turunnya permintaan dari kalangan café-café di luar negeri akibat pandemi Covid-19, maka perlu diantisipasi dengan komoditi yang lebih cepat berproduksi dan dibutuhkan konsumen. Misalnya dengan melakukan tanaman tumpangsari di areal kebun atau lahan pertanian utamanya. Artinya, sambil menunggu produk kopi laku kembali, ya kita tanam buah-buahan atau sayuran. Produksinya lebih cepat dan pasti laku di pasaran,” katanya kepada SIB, Jumat (25/9).

Hal senada juga dicetuskan Sarjani Tarigan, yang menegaskan sejumlah indikasi yang signifikan sebagai wujud positif prospek bisnis pertanian di masa Covid-19 ini, antara lain berupa munculnya kios-kios dadakan di area pinggir jalan yang menjajakan sayur-mayur dan buah-buahan segar, tidak hanya di kawasan dalam kota, tapi juga di sepanjang jalan antar kota seperti Medan-Berastagi, Medan-Pematangsiantar dan lainnya.

Selain itu, sambil menunjukkan fakta order pesan sayur dan buahan segar pada satu perusahaan jasa kurir online, dia juga menyebutkan indikasi lain bahwa sektor pertanian masih tampak bertahan di masa Covid-19 ini adalah maraknya transaksi pesan antar aneka sayuran segar dan buah-buahan secara online.

“Lihat saja di lapangan, dagangan hasil pertanian kecil ini kian merambah area publik, tidak lagi terpaku pada area dagang resmi seperti pasar-pasar. Bagi konsumen pun, ini mengutungkan karena bisa langsung belanja tanpa harus turun dari mobil atau terjebak di areal parkir. Beli gula dan telur pun kini bisa di pinggir-pinggir jalan,” ujarnya.

Namun, Maranti dan Sarjani tetap berharap agar prospek usaha pertanian primer seperti kopi bisa pulih lagi setelah lewat Covid-19, agar permintaan produk kopi Sumut ke sejumlah pasar di luar negeri kembali menggeliat. Pekebun dan eksportir kopi asal Samosir yang kini ekspansi membuka kebun dan pabrik kopi Arabika di Bandung dengan merek ‘Tobing Estate’ itu pun berharap agar bisa kembali menembus pasar ekspor ke Malaysia, Korea dan juga Australia (Sidney), yang telah terlaksana selama ini.

Dia juga berharap, pulihnya arus permintaan produk buah durian asal Sumut ke sejumlah daerah lain di Indonesia yang sudah sempat menggunakan jasa kargo udara maupun ekspansi bisnis makanan olahan (kemasan kaleng) ke konter-konter antarkota.

Soalnya, pasca kebijakan stimulus ekonomi di masa pandemi Covid-19, sebenarnya tampak gejala membaik terhadap prospek bisnis sektor UKM dan pertanian, baik secara nasional maupun secara lokal di Sumut, walau masih terasa ada kendala yang menyangkut birokrasi dalam perolehan bantuan bagi petani dan pelaku UKM. (M04/f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru