ADA dua agenda nasional yang menjadi perhatian publik di sektor ekonomi di tengah-tengah krisis akibat aabah pandemi Covid-19 saat ini, khususnya yang terkait dengan prospek investasi sektor lintas pertanian atau agrobisnis berupa rencana pembangunan dan pengembangan kawasan sentra pangan (food estate) di Sumut khususnya Humbang Hasundutan.
Pertama, pertemuan strategis antara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menkomarves) RI Luhut Binsar Pandjaitan (LBP), dengan Menteri Pertanian (Mentan) RI, Syahrul Yasin Limpo, pada Juli 2020 lalu yang membahas agenda Lumbung Pangan melalui Super Prioritas Program Pertanian (SP3) di lahan khusus berkualifikasi tinggi dengan komoditas tertentu.
Kedua, pertemuan Menkomarves LBP dengan Menlu Cina (RRT) Wang Yi di Danau Toba Parapat pada 12 Januari lalu yang membahas kerjasama dan rencana investasi di Kawasan Danau Toba, dalam hal ini rencana pembangunan Pusat Sains Teknologi Horti dan Herbal di kawasan terintegrasi yang meliputi Kabupaten Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan Pakpak Bharat.
Kedua agenda ini adalah sinyal terang untuk pengembangan pembangunan ekonomi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba, untuk mendorong perwujudan Humbang Hasundutan sebagai 'lumbung pendapatan' melalui parade investasi Food Estate yang telah dicanangkan pemerintah dalam hal ini Presiden Joko Widodo bersama Menkomarves LBP dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, pada pencanangan dan penetapan areal pusat hortikultura (food estate) di Humbang Hasundutan pada 27 Oktober tahun lalu.
Sinyal Investasi
Pada saat penandatanganan proyek infrastrukur 2021 oleh Presiden Joko Widodo bersama Menteri PUPR yang berlangsung secara virtual nasional pekan lalu, khususnya di Kantor BBPJN Sumut, sudah terdapat langsung data sinyal investasi awal dari belasan perusahaan maupun konsorsium bisnis dari kalangan swasta dan pemerintah.
Calon investor itu antara lain tujuh perusahaan swasta, yaitu: PT Indofood yang akan investasi pada lahan food estate (FE) seluas 310 hektare. PT Calbee Wings 15 hektare, PT Champ 250 hektare, PT Agro Galica, PT Agro Indo Sejahtera, PT Karya Tani Semesta, dan PT Nusa Tani Maju Bersama.
Sementara, dari kalangan pemerintah antara lain, rencan investasi oleh: Dirjen Hortikultura seluas 250 hektare, Balitbang Kementan 15 hektare, serta perusahaan lainnya 15 hektare.
Sinyal lainnya yang terasa mendukung investasi Food Estate Humbang Hasundutan ini adalah gerakan pihak Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Provinsi Sumatera Utara, yang siap mendorong sejumlah pebisnis mancanegara untuk ikut investasi dan ekspansi bisnis sektor terkait agribisnis dan Hortikultura antara lain dari Inggris, Malaysia dan negara Kawasan Timur Tengah (SIB 19/1).
Sinyal lain lagi adalah peluang investasi nasional yang dicetuskan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Pusat, Bahlil Lahadalia belum lama ini, tentang 16 perusahaan asing (PMA) dari sejumlah negara memproyeksikan ekspansi bisnis industrinya ke Indonesia pada tahun ini, dengan potensi total nilai investasi sebesar USD 7,5 miliar atau berkisar Rp 100 triliun lebih. Ekspansi dengan peluang membuka lapangan kerja untuk 88 ribu lebih tenaga kerja atau buruh ini, diproyeksikan akan mengalir ke daerah Sumut untuk sektor agribisnis dan hortikultura dengan produk hilir untuk komoditi ekspor ke Cina, Hongkong, Jepang dan Korea Selatan.
Kesiapan Humbang Hasundutan sebagai sentra kawasan pangan (Food Estate-Industri) ini memang sangat didukung faktor geografis dan topografis alam yang selama ini merupakan kawasan hortikultura tropis. Agendanya, kawasan FE ini akan dikembangkan secara terintegrasi dengan total seluas 62.042 hektare di 4 kabupaten: Humbang Hasundutan (24.225 hektare), Tapanuli Tengah (12.655 hektare), Tapanuli Utara (16.833 hektare), dan Pakpak Bharat seluas 8.329 hektare.
Pada areal lain di antara FE blok Utara dan FE blok Selatan juga sedang dipersiapkan lokasi Kebun Raya seluas 1.154 hektare untuk Taman Tematik, Taman Koleksi dan Agrowisata terpadu. Selain itu, juga disiapkan lokasi untuk Taman Sains Teknologi Horti dan Herbal Center (TST-H2C) seluas 500 hektare sebagai pusat riset, rekayasa, dan pengembangan bibit unggul hortikultura dan tanaman herbal.
Lalu, di antara Kebun Raya dan tepian Danau Toba dengan akses bandara internasional Silangit juga disiapkan lokasi seluas 1.000 hektare untuk etalase pertanian modern (Center of Excellence Agriculture Practices-CoE) tepatnya di sekitar Desa Ria-Ria, Kecamatan Pollung.
"Pembangunan Food Estate di Humbang ini langsung mendapat respon dari berbagai pihak, terbukti sinyal dari sejumlah investor yang langsung menyatakan siap. Untuk ini kita juga langsung menyiapkan infrastruktur berupa pembangunan jalan dan jembatan pada delapan jalur dari dan ke lokasi FE," ujar Ir Slamat Rasidi Simanjuntak, Kepala BBPJN Sumut, kepada pers di kantornya, pekan lalu.
Bersama stafnya Kepala Satker Wilayah-II KSPN Danau Toba, Ir Alfian Batubara, dia menegaskan prospek ekonomi kawasan Danau Toba sebagai objek wisata atau destinasi yang berbasis budaya dan pertanian, dinilai akan tumbuh menggeliat dan berkembang lebih cepat dengan konsep dan resep bisnis pariwisata berbasis agribisnis dan hortikultura seperti Food Estate tersebut.
Lumbung Pendapatan
Baru-baru ini pula, Menkomarves LBP telah mengutarakan, sebagian kawasan Food Estate di Humbang tersebut, telah ditanami komoditi bawang dan kentang serta produk tani lainnya sebagai awal pengolahan lahan-lahan FE tersebut.
Selama ini pula, Humbang atau kawasan Tapanuli memang dikenal bahkan terkenal sebagai sentra Hortikultura dengan aneka produk pertanian lokal bernilai ekonomi tinggi serta berkualitas ekspor baik berupa produk rempah-rempah, pangan, sayur-mayur, dan tanaman pertanian lainnya.
Sejumlah produk tradisional yang dikenal di pasar komersial selama ini antara lain haminjon, arimonting, andaliman, bawang Batak, kemiri dan lain sebagainya. Potensi ini sesungguhnya menunjukkan Kawasan Danau Toba sebenarnya memang butuh gerakan ekonomi wisata berbasis lingkungan dan pertanian, dengan fokus penekanan pada gerakan bisnis hortikultura atau agribisnis. Danau Toba bukanlah objek untuk bisnis industri yang selama ini ditengarai akan merusak alam seperti penebangan hutan untuk lahan atau semacamnya.
Artinya kawasan Danau Toba itu butuh gerakan ekonomi yang berbasis atau misi pemeliharaan alam atau pelestarian lingkungan, yang saat ini tampak dengan gerakan serta safari pengembangan produk-produk hortikultura dan agrowisata terpadu melalui program food estate ini.
Terlebih, keterpaduan produk ini akan menjadi lebih majemuk dengan kehadiran Kebun Raya berupa Taman Bunga Nusantara yang juga telah dicanangkan Presiden Jokowi bersama LBP pada September 2016 lalu.
Hal ini, kelak tentunya akan mendorong publik dan investor dari berbagai pihak di daerah atau negeri ini untuk berpaling dan fokus untuk membangun serta mengembangkan kawasan Danau Toba dengan konsep dan misi penghijauan alam secara terpadu di bidang flora (aneka bunga). Sehingga, Sumut khususnya Humbang Hasundutan ini akan menjadi lumbung pendapatan ekonomi Sumut yang 'berwarna-warni' plus 'harum semerbak' karena terkombinasi antara komoditi pangan, tanaman herbal (obat-obatan plus), produk pertanian sehari-hari seperti sayur-mayur dan aneka buah-buahan, serta berbagai jenis rempah.
Untuk skala kecil dan jangka pendek prospek ekonomi dari FE ini adalah tumbuhnya minat masyarakat lokal untuk usaha tanam massal aneka buah-buahan produktif di sepanjang jalan lingkar Danau Toba atau Pulau Samosir, usaha depot bunga tropis pada setiap gapura atau halte antar desa pada lintas destiansi Danau Toba, budidaya atau tambak ikan air tawar pada lokasi atau zona khusus perikanan di perikanan di perairan Danau Toba, usaha kebun mangga atau kemiri dengan model bentukan 'kampung mangga' atau 'huta gambir' (kampung kemiri) di desa-desa tertentu, halte ikan bakar pada sejumlah rest area pada sejumlah lintasan dari dan ke Humbang atau kabupaten sekitarnya.
Peluang pendapatan lainnya dari lumbung food estate ini adalah produksi ikan kemasan dari berbagai jenis ikan air tawar setempat, misalnya seperti produk ikan crispy Pora-pora yang sempat populer selama ini. Peluang lainnya di sektor UKM adalah produksi minuman khas Batak atau 'lapo nira' sebagai warung khas khusus menyajikan minuman berbahan baku produk pangan lokal, atau resto apung di perairan danau untuk belanja jajanan hasil bumi dan air Danau Toba.
"Selain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lintas sektor dan agribisnis dengan misi jangka panjang untuk pelestarian alam, juga untuk memposisikan kearifan lokal masyarakat (local wisdom) kembali sebagai komitmen menjaga alam dan lingkungan sekitar Danau Toba, gerakan ini secara langsung juga akan melestarikan nilai seni budaya yang abadi sebagai instrumen wisata yang bernilai ekonomi tinggi," ujar Maranti Tobing senioren Pariwisata Danau Toba dari North Sumatera Tourism Board (NSTB) kepada penulis belum lama ini. (M04/a)
Sumber
: Hariansib edisi cetak