Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 06 September 2026

Pemilu 2019, Golkar Akan Terjun Bebas Bila Aburizal Masih Ketua Umum

- Sabtu, 29 November 2014 15:27 WIB
194 view
Jakarta (SIB) - Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (FORMAPPI) Sebastian Salang memastikan, Partai Golkar akan terjun bebas bila Aburizal Bakrie terpilih kembali sebagai Ketua Umum Partai Golkar.

"Bila Aburizal terpilih maka raihan suara Partai Golkar pada Pemilu 2019, di bawah 10 persen," kata Sebastian, dalam diskusi bertajuk "Ketika Golkar Kalah dan Ricuh di Era Ical: Apa Selanjutnya", Jakarta, Kamis (27/11).

Hadir pembicara Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Golkar, yang juga tergabung dalam Poros Muda Partai Golkar TB. Ace Hasan Syadzily, dan Andi Sinulingga.

Lebih lanjut, dia mengemukakan, Pemilu 2019, berbeda dengan Pemilu sebelumnya. Karena Pemilu 2019, adalah Pemilu yang akan digelar serentak, Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres).

Karena itu, Pemilu 2019 dibutuhkan figur yang dapat menarik simpati masyarakat. "Aburizal bukan figur yang layak dijual untuk Pemilu 2019, karena saya tidak mengerti mengapa DPD Partai Golkar memilihnya," imbuhnya.  

Sebastian mengemukakan, kericuhan di Partai Golkar tidak bisa dipungkiri imbas dari pertarungan diantara Koalisi Merah Putih dengan Koalisi Indonesia Hebat. "Entah siapa yang memulai, dan memicu pertarungan tersebut, tapi akibat dari pertarungan tersebut berimbas dengan perpecahan di Golkar," tambah Sebastian.
Menurutnya, bukan hanya perseteruan kubu Agung Laksono dengan Aburizal saja yang terjadi, tapi perpecahan sebelumnya terjadi di partai PPP, antara kubu Suryadharma Ali dengan Romahurmuziy.

"Ada upaya elit partai di Partai Golkar dan PPP, yang ingin mengambill partai tersebut untuk kepentingan pribadi, dan kelompoknya," ungkapnya.

Dia menegaskan, alasan Ical, panggilan nama Aburizal ingin partai Golkar oposisi, dan di luar pemerintahan adalah alasan yang mengada-ada. Bahkan, lanjutnya, tanpa di luar pemerintahan selama ini Partai Golkar dapat mengkritisi Pemerintahan sebelumnya.

"Jadi tanpa di luar pemerintahan partai Golkar selama ini juga mengkritisi, dan apa yang ditampilkan Golkar belakangan ini tidak sehat dalam perkembangan demokrasi Indonesia ke depan," tukas Sebastian.

Dia mengemukakan, jangankan memilih Aburizal sebagai Ketua Umum kembali, dengan menempatkan Setya Novanto menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat sudah menjadi catatan sendiri bagi penilaian masyarakat.

Namun, dia mengakui, Partai Golkar adalah aset bangsa yang harusnya dikelola dengan baik. Karenanya, bila Golkar tidak dapat menyelesaikan konfliknya dengan dewasa, maka sebagai partai modern akan merugikan Indonesia.

Sementara, Wasekjen Partai Golkar TB. Ace Hasan Syadzily mengatakan, Ical adalah penyebab konflik di partai Golkar. Pasalnya, Golkar sebagai partai moderen dalam mengatasi tidak dengan demokratis, dan mengedepankan musyawarah mufakat. Sebaliknya, seperti perusahaan.

"Bahkan kalau ada yang tidak suka, tanpa melalui rapat main pecat seperti kader seperti Nusron Wahid, Yorrys Rahuwai, Agus Gumiwang Kartasasmita. Tapi Ratu Chosiyah (Gubernur Banten-red) yang jelas koruptor sampai saat ini masih Ketua DPP Partai Golkar," ujarnya. (G2/h)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru