Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 06 September 2026

YLKI Tolak Kenaikan Harga Elpiji 3 Kg

- Selasa, 09 Desember 2014 15:58 WIB
300 view
Bengkulu (SIB) - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YKLI) Bengkulu menolak keras rencana Pemprov Bengkulu untuk menaikkan harga eceran tertinggi (HET) gas elpiji subsidi ukuran 3 kilogram (kg) sebesar Rp 1.000/ tabung. Alasannya, jika HET gas elpiji 3 kg dinaikan Pemprov Bengkulu Rp 1.000/tabung, maka harga eceran bahan bakar strategis itu di tingkat pedagang pengecer akan melonjak dari Rp 17.000 menjadi Rp 20.000/tabung. Kondisi ini dipastikan makin memberatkan masyarakat, menyusul sebelumnya pemerintah telah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sangat memberatkan rakyat kecil karena harga-harga kebutuhan pokok yang terus melonjak.

"Kami tegas menolak Pemprov Bengkulu menaikkan HET gas 3 kg sebesar Rp 1.000/tabung. Alasanya, kalau HET dinaikkan harga eceran bahan bakar ini di Bengkulu akan melambung jadi Rp 20.000/tabung," kata Ketua YLKI Bengkulu, Ahmad Nurdin, Minggu (7/12).

 Ia mengatakan, tidak dinaikkan saja harga eceran gas elpiji 3 kg di Bengkulu sudah naik dari Rp 17.000 menjadi Rp 18.000/tabung. Bahkan, di beberapa kabupaten harga eceran sudah mencapai Rp 20.000/tabung. Tingginya harga gas 3 kg di beberapa kabupaten di Bengkulu karena angkos angkut dari Pertamina ke pangkalan meningkat setelah terjadi kenaikan harga BBM subsidi beberapa waktu lalu. "Saya berharap Gubernur Bengkulu membatalkan rencananya untuk menaikan harga HET gas 3 kg kalau merasa masih berpihak ke rakyat kecil," ujarnya.

Nurdin mengatakan, masyarakat Bengkulu jangan lagi dibebani dengan kebijakan tidak populer. Sebab, beban hidup masyarakat Bengkulu sekarang sudah berat akibat kenaikan harga BBM subsidi. Asisten II Pemprov Bengkulu, EdyWaluyo mengatakan, kenaikan HET gas elpiji 3 kg di Bengkulu baru wacana Pemprov Bengkulu saja dan belum ada pembahasan kearah itu. "Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir akan terjadi kenaikan HET gas elpiji 3 kg di Bengkulu.

Meski akan naik tentu diperlukan kajian yang matang dan dampak bagi masyarakat kecil," ujarnya. (SP/i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru