Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 07 September 2026

Pengamat: Indonesia Harus Bangga dengan Prestasi SAR

- Rabu, 31 Desember 2014 10:04 WIB
572 view
Jakarta (SIB)- Dosen Universitas Pertahanan Prof Salim Said mengatakan Indonesia harus bangga dengan keberhasilan tim gabungan pencarian dan penyelamatan yang telah menemukan lokasi jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 dalam waktu relatif singkat.

"Sebelumnya saya sudah cemas pesawat itu tidak bisa ditemukan. Namun, melalui televisi, kita semua melihat bagaimana kerja keras tim SAR yang memang patut dipuji," kata Salim Said dihubungi di Jakarta, Selasa.

Mantan duta besar Indonesia untuk Republik Ceko itu mengatakan seluruh pihak harus memberikan apresiasi kepada seluruh komponen tim pencarian dan penyelamatan seperti Badan SAR Nasional, TNI Angkatan Udara, TNI Angkatan Laut dan lain-lain.

Apalagi di tengah bantuan tim pencarian dan penyelamatan dari negara-negara lain yang juga berdatangan, ternyata tim gabungan dari Indonesia berhasil menemukan serpihan pesawat tersebut terlebih dahulu.

"Itu menunjukkan tim SAR kita hebat, tidak kalah dengan negara lain," ujarnya.

Terkait kejadian naas yang menimpa pesawat tersebut, Salim mengatakan seluruh pihak harus bersabar menunggu hasil investigasi. Penyebab kecelakaan akan diketahui setelah kotak hitam pesawat ditemukan.

"Apakah disebabkan faktor cuaca, gangguan di dalam pesawat atau kesalahan manusia, bisa diketahui setelah kotak hitam ditemukan. Kita harus bersabar," tuturnya.

Badan SAR Nasional telah mengonfirmasi bahwa serpihan pesawat yang ditemukan pada Selasa pagi adalah bagian dari pesawat QZ8501 yang hilang kontak dengan pusat pengendali lalu lintas udara pada Minggu (28/12).

Serpihan pesawat tersebut ditemukan di kawasan Selat Karimata, sekitar 110 mil laut barat daya dari Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Pesawat QZ8501 berjenis Airbus A320-200 dengan registrasi PK-AXC membawa 155 penumpang terdiri atas 137 orang dewasa, 17 anak-anak, dan satu bayi. Selain itu, juga terdapat dua pilot, empat awak kabin dan satu teknisi.

Operasi pencarian dan penyelamatan serta investigasi terkait serpihan yang ditemukan di lokasi masih berlangsung.

Indonesia Dipuji Dunia

Serpihan pesawat AirAsia QZ8501 berhasil ditemukan di perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, pada pencarian hari ketiga yang dipimpin oleh Basarnas. Operasi pencarian ini disebut sebagai pencarian tercepat sepanjang sejarah tragedi penerbangan dunia.

Media asing, Wall Street Journal (WSJ), seperti dikutip pada Selasa (30/12), menyebut bahwa Indonesia memiliki kemampuan pencarian dan penyelamatan paling terdepan di antara negara-negara Asia.

Kemampuan ini, menurut pengamat asing yang dikutip WSJ, didapat dari pengalaman atas insiden pesawat dan kapal feri yang terjadi sebelumnya.

"Indonesia memiliki banyak pengalaman dengan bencana," tutur Greg Waldron yang merupakan managing editor dari publikasi industri FlightGlobal untuk wilayah Asia.

Waldron menambahkan, tim investigator Indonesia memiliki hubungan mendalam dengan lembaga-lembaga yang menyelidiki insiden penerbangan dunia, termasuk US National Transportation Safety Board (NTSB), sehingga penyelidikan yang dilakukan akan sangat menyeluruh.

WSJ kemudian mengutip insiden pesawat Lion Air pada 13 April 2013 lalu di Bali. Meskipun tidak ada korban tewas, sebut WSJ, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah merilis laporan selang sebulan, atau pada Mei 2013. Kemudian laporan awal insiden jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 pada Mei 2012 lalu, yang menewaskan 45 orang juga dirilis pada Agustus 2013, selang beberapa bulan saja.

"Indonesia sebenarnya memiliki kendaraan laut tak berawak yang bisa melakukan navigasi di dalam gelombang laut besar," ucap Mark Martin dari Martin Consulting yang merupakan perusahaan konsultan penerbangan independen.

"Jika pesawat jatuh, saya yakin akan bisa dilacak dengan cepat dan upaya evakuasi akan berjalan sukses," imbuhnya.

Sementara itu, beberapa saat setelah pengumuman hilangnya AirAsia QZ8501, otoritas Korea Selatan (Korsel) berterima kasih kepada pemerintah Indonesia atas informasi yang cepat. Terdapat tiga WN Korsel, yakni seorang pendeta bersama istri dan bayinya di dalam pesawat tersebut.

Pada hari ini, Selasa (30/12) atau selang dua hari setelah kejadian, tim pencari yang dipimpin Basarnas berhasil menemukan serpihan pesawat AirAsia QZ8501 serta mengevakuasi 3 jenazah penumpang. Temuan ini mengkonfirmasi bahwa pesawat jenis Airbus A320 ini memang jatuh ke laut.

"Ini adalah proses pencarian yang tercepat, dalam tiga hari kami sudah bisa menemukan itu," sebut Kadispen TNI AU, Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto saat ditemui di Lanud Halim Perdanakusuma, Jaktim, Selasa (30/12).

Dunia mencatat insiden penerbangan paling buruk di dunia yang menimpa pesawat Air France dengan nomor penerbangan 447 rute Rio de Janeiro menuju Paris, yang hilang kontak pada 1 Juni 2009 lalu. Pesawat jenis Airbus A330 ini jatuh di Samudera Atlantik dan menewaskan 228 penumpang serta awaknya.

Serpihan besar dan dua jenazah penumpang berhasil ditemukan di tengah lautan selang 5 hari setelah kejadian, atau pada 6 Juni 2009, oleh kapal militer Brasil. Sedangkan kotak hitam pesawat ini baru ditemukan pada Mei 2011, atau nyaris 2 tahun setelahnya di dasar Samudera Atlantik. (Ant/detikcom/d)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru