Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 09 September 2026
Curhat

Pecah Sudah

* Riani Sartika Lumbanraja, Pematangsiantar
- Minggu, 19 April 2015 16:54 WIB
252 view
Pecah Sudah
Aku tidak tahu harus berbuat apa dan melakukan apa. Yang pasti, tiap kali si Abang datang dan mendekat aku harus merapat. Sejujurnya kuakui, aku mengagumi si Abang karena jagonya bidang ilmu.

Tetapi, jika sedang mengajar, bukan main keras dan fokus hingga menakutkan bagi orang seperti aku. Bahasa yang kadang tak biasa pun bisa keluar begitu saja.

Aku hanya bisa terdiam saat suara itu meninggi. Kalau dipaksa jujur aku takut kala nada bicaranya mulai berubah apalagi berubahnya sungguh terlalu. Lebih tepat memang kalau kukatakan aku takut kehilangan dirinya. Entah sejak kapan sindrom ini meyusup masuk sampai menembus ke dasar tulang. Rasa itu menyusup perlahan-lahan dan selalu bermain santai di relung-relung hati yang sudah tidak kosong. Beberapa bulan terakhir saat kutatap wajahnya untuk kesekian kali kusadari bahwa Togu yang kukenal sekian tahun ini bukanlah dirinya. Lidah seakan kaku untuk melempar tanya. Tiba-tiba saja timbul niat untuk menyudahi semua.

Terlalu lelah hati bertahan dalam cinta yang rapuh. Namun, rasa apa yang menyelimuti gundah ini, tak ada langkah yang membawaku mampu beranjak dari perih ini. Aku  sudah terlalu tak mampu untuk pergi. Ada ikatan yang tak akan mungkin bisa kulepaskan. Ini telah lama menjerat, dia sengaja memasang pasung itu di hati. Bagaimana hati mengalah dalam kepedihan begitulah hal yang harus kumengerti.

Tetapi, jika ditanya lebih dalam lagi, aku memiliki rasa lain. Aku suka dengannya. Tetapi, apakah layak aku menyukainya dengan rasa lain tersebut? Si Abang itu guruku. Tak sekadar guru tapi masih punya hubungan keluarga. Tak sekadar famili tapi punya tautan kandung.

Tetapi, di saat mana aku ingin menjauh karena hubungan kelaurga itu, di situlah aku merasa ingin semakin dekat.

Pernah aku tersadar dan menyatakan pada si Abang, buat apa melanjutkan perasaan yang ada di hati masing-masing karena pada akhirnya akan kandas, tapi si Abang bersikukuh ingin tetap berjalan alami. 

Akhirnya, aku pun menyerah. Aku harus menjaga suasana hatinya sebisa  mungkin, semampuku, sekuat yang kubisa. Aku takut hatinya terluka meski hatiku harus dikorbankan. Aku tak mau ketulusan-ketulusan yang kuucap hanyalah rangkaian-rangkaian kata yang tak bermakna. Aku tahu  sebenarnya dia sering mengukir maaf di udara dengan sengaja agar aku tak dapat melihat apalagi mendengarnya.

Pertemanan antara aku dan si Abang makin jauh. Sejauh itu pula ketakutanku pada waktu, yang kuakui akan memisahkanku dengannya.

Suatu kali, abangku mengetahui kami berdua-duaan. Si Abang bersandiwara tapi abangku mendesak sebab sudah banyak yang memberitahu bahwa aku dan si Abang sudah selalu bepergian.

Atas permintaan si Abang, aku merahasiakan hubungan yang selama ini dijalani. Tetapi, ketika si Abang menyerah dan bersedia menyudahi semuanya, justru aku yang tak bisa menerimanya.

Dengan ragam langkah si Abang menjauhiku bahkan rela meninggalkan pekerjaan sebagai guru pembimbing. Yang paling menyiksaku, aku sama sekali tak bisa berkomunikasi dengannya. Cuma suara dari privat number yang  pernah menyinggahiku. Si Abang berpesan bahwa rasa sayangnya tidak akan lekang meski raganya menghilang dari tatapku. Tangisku pun pecah... (c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru