Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 09 September 2026

Edy Rahmayadi: "Saya Mati Berdiri Kalau Tak Didampingi Pers!"

- Jumat, 24 April 2015 19:04 WIB
4.395 view
Edy Rahmayadi:
Medan (SIB) - Pangdam I Bukit Barisan Mayjen TNI Edy Rahmayadi, Kamis, (23/4), di Serambi Kehormatan Kodam I/BB mengadakan silaturahim dengan insan pers dan lintas organisasi. Dalam pertemuan tersebut, selain dihadiri unsur pengurus PWI Sumut seperti Drs HM Syarir, Zul Marbun dan Anuar Erde, Ketua KPID Sumut Abdul Haris Nasution SH MKn, juga dari unsur lembaga swadaya masyarakat termasuk aparat penegak hukum seperti Kakumdam Kol CKm A Zebua, Kapendam I/BB Kol Inf Enoh Solehuddin.

Semua persoalan yang mengemuka, khususnya terkait dengan kewilayahan empat provinsi - Sumut, Sumbar, Riau dan Riau Kepulauan - dipaparkan oleh mantan Pangdivif I Konstrad tersebut. Meski bergaya humor,  berdiri dan tak enderal bintang dua itu disorot soal sikap emosionalnya ketika menghadapi warga yang mengklaim sebagai pemilik lahan, di loaksi - yang kini populer dengan sebutan Kebun Puskopad / Puskop Kartika A Bukit Barisan. "Kalau soal itu, aduh... saya tidak mau perwira saya jadi korban lagi karena sudah 6  dicopot. Saya pertaruhkan jabatan demi mempertahankan aset... Itu bukan saja aset Kodam tapi Dephankam yang dikelola Kodam," ujarnya.

Mantan Danyon Raiders 100/PS itu kemudian menjelaskan rinci plus slide melalui proyektor asal-muasal lahan perkebunan dimaksud. Menurut data, sejak sebelum menjadi militer bahkan sebelum lahir, wilayah yang diklaim pihak luar dimaksud, sudah dikelola Kodam yang waktu itu Kodam II Bukit Barisan.

"Saya sekarang curhat, lahan itu diswakelola dari uang prajurit. Tapi setiap pengukuran, pasti berkurang. Prajurit yang meskinya menikmati hasil, gigit jari. Sekarang, untuk menghindari hal yang tak diinginkan, dipagar dan penghuni yang tak sah, maaf... dimohon pergi! Pergi pun diberi sangu kok."

Dalam kaitan sosialisasi guna menjelaskan ke publik secara rinci, lanjut Edy Rahmayadi, pihaknya minta pers, LSM untuk bertindak dan berlaku jujur sesuai hukum dan mengedepankan nurani. Katanya, dua pekan belakangan ini, pribadinya menjadi bulan-bulanan pemberitaan yang kurang proporsional. "Saya tidak apa-apa. Diserang macam-macam, menerima tapi jangan memberi peluang terjadi konflik horizontal, antarmasyarakat saling curiga. Itu tak baik," tandasnya sambil mengatakan di situlah peran pers. "Saya bisa mati berdiri kalau tak didampingi pers! Apalagi sampai dimusuhi! Orangtua saya sampai marah pada saya karena pemberitaan itu, tapi belakangan membenarkan sikap saya!"

Mengenai lakunya yang marah-marah saat memakai pakaian dinas lengkap, Pangdam I/BB mengatakan semua berlangsung spontan. Alasannya, sebagai orang Medan dan pejabat, marwahnya dipermalukan karena sudah dua bulan warga menginap di jalan depan DPRDSU tapi tidak ditertibkan. Akibat aksi nginap itu, lalu-lintas terganggu. Apalagi lokasinya berhadapan dengan Lapangan Benteng yang digunakan sejumlah pihak untuk kegiatan positif dan berketapatan Presiden Joko Widodo hendak menghadiri acara di lokasi serupa. "Waktu saya marah, di samping saya ada Pangarmabar, jenderal bintang dua Angkatan Laut, Gubsu, Kapoldasu, Danlantamal I Belawan, Pangkosek Hanudnas III Medan, DPRD. Kalau saya... sudahlah, maklumlah dengan unjuk rasa seperti itu..."

Edy Rahmayadi berharap agar pers berlaku profesional dan berimbang dalam memberitakan karena tujuannya mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun Sumut ke depan. "Saya ini orang Medan. Berpikir untuk membangun ke depan yang terbaik dan bukan semata untuk saat ini! Ntar, 4 tahun lagi saya pensiun,  pun jadi masyarakat biasa, tapi taat hukum!" (r9/w)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru