Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 09 September 2026
Peringatan 60 Tahun KAA

PM Mesir Ingin Belajar Menata Permukiman Kumuh dari Jakarta

- Sabtu, 25 April 2015 16:01 WIB
335 view
PM Mesir Ingin Belajar Menata Permukiman Kumuh dari Jakarta
Jakarta (SIB)- Penataan kawasan kumuh menjadi ruang terbuka hijau di bantaran Waduk Pluit, yang terbilang sukses, ternyata terdengar juga ke telinga para petinggi negara-negara yang ikut dalam Peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke 60 tahun.

Perdana Menteri Mesir, Ibrahim Mahlab secara khusus berkunjung ke Taman Kota Waduk Pluit dan Rumah Susun Sewa Sederhana (Rusunawa) Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara pada Kamis (23/4). Dia inginan belajar dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menata permukiman kumuh menjadi ruang terbuka hijau (RTH) dan melihat kondisi tempat tinggal warga yang direlokasi dari bantaran Waduk Pluit.

Tiba di Taman Kota Waduk Pluit pada Pukul 14.00 WIB, Ibrahim yang mendapat pengawalan ketat dari pengamanan internal, Paspampres, dan puluhan personil TNI dan Polri langsung menuju sebuah tenda yang sudah dipersiapkan di tengah-tengah area taman.

Dibantu dengan seorang penerjemah bahasa, Ibrahim langsung mendengarkan pemaparan terkait Waduk Pluit yang dijelaskan oleh Wali Kota Jakarta Utara Rustam Effendi dalam bahasa Indonesia dan kemudian diterjemahkan oleh penerjemah. Sesekali Ibrahim menanyakan sesuatu perihal apa yang disampaikan Rustam.

"Is there a problem when you moving the peoples in these land before," ujar Ibrahim dengan nada penasaran, Kamis (23/4) sore.

Rustam menjawab tidak ada persoalan berarti dalam relokasi penduduk yang dulunya menempati Kampung Taman Burung, yang sekarang sudah menjadi taman yang dilengkapi fasilitas olah raga.

"Kalaupun ada masalah, hanya masalah sikap dari penduduk yang meminta dicarikan lokasi pemindahan dan kita sudah menyediakan Rusunawa untuk mereka," jawab Rustam.

Rustam menjelaskan bahwa Ibrahim sangat tertarik dalam penataan slum area di sekitar Waduk Pluit, penanganan banjir, dan bagaimana penanganan warga yang rumahnya ditertibkan.

"Tadi beliau juga menanyakan soal Satpol PP, ukuran waduk, kapasitas rusunawa, dan hal-hal teknis lainnya, memang sepertinya beliau ingin belajar dalam hal menata ruang kota menjadi lebih baik," tutup Rustam.

Ibrahim kemudian berjalan ke tepian waduk untuk melihat kedalaman waduk tersebut, sesekali ia menunjuk ke arah waduk dan bergumam dalam bahasanya. Kemudian ia juga menyempatkan diri untuk berfoto bersama dengan pejabat terkait di lokasi tempat dipasangnya spanduk ucapan selamat datang yang telah disiapkan sebelumnya.

Usai berfoto, Ibrahim langsung menuju Rusunawa Muara Baru dengan dikawal beberapa mobil Patwal, dan Paspamres. Iringan kendaraan berjalan perlahan, sesekali Ibrahim membuka kaca jendela dan mengamati sejumlah lahan di Sisi Barat dan Timur Waduk Pluit yang baru saja dibongkar. Ia juga mellihat ratusan bangunan semi permanen yang masih berdiri di Kali Gendong Bantaran Waduk Pluit.

Setibanya di Rusunawa Muara Baru, Ibrahim langsung menyapa warga yang sudah berkerumun rapi di halaman belakang halaman Blok 10 Rusunawa.
"Hello mister, how are you today," ujar seorang ibu berteriak dengan lafal yang kental dengan logat Betawi.

Ibrahim hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke arah kerumunan warga. Kemudian ia duduk disebuah sofa yang sudah dipersiapkan untuk mendengarkan pemaparan dari Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintahan DKI Jakarta, Ika Lestari Aji.

Ika menjelaskan bahwa di Jakarta ada dua tipe rusun di DKI Jakarta, yakni Rumah Susun Milik (Rusunami) dan Rumah Susun Sewa (Rusunawa), namun saat ini Pemprov DKI sudah tidak membangun Rusunami.

"Di Jakarta saat ini terdapat 35 blok dengan jumlah 3.366 unit rusunami, sedangkan untuk rusunawa kita memiliki 135 blok dengan jumlah 14.039 unit, tahun 2015 ini Pemprov DKI akan membangun 2.443 unit rusunawa dengan melibatkan pihak pengembang properti untuk menjalankan kewajiban CSRnya," ujar Ika.

Menurut Ika, saat ini ada 6 perusahaan developer yang akan membangun 5.900 unit di tiga lokasi di DKI Jakarta, yakni, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara.

"Pemprov DKI sendiri memiliki target membangun 50.000 unit rusun dari tahun 2013-2017, yang saat ini pencapaiannya baru 50%, sisanya kita harapkan bisa dicapai dalam dua tahun ke depan," lanjut Ika.

Ika memaparkan bahwa kedepannya pembangunan Rusun akan diintregasikan dengan fasilitas Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi dengan mengutamakan pemberdayaan masyarakat rusun dan tidak sekedar pada pembangunan fisik.

"Kami akui bahwa saat ini ada persoalan air, kami baru bisa mensupply 70% dari jumlah penghuni Rusunawa Muara Baru, namun ke depannya akan kami tingkatkan hingga seluruh penghuni bisa menikmati air bersih," kata Ika.

Mendengar penjelasan tersebut, Ibrahim sempat mengerutkan dahi, dan menanyakan letak fasilitas klinik, kios, dan sekolah yang dipaparkan oleh Ika.
"Where is the facilities that you explain before," tanya Ibrahim.

Ika langsung menjawab bahwa fasilitas tersebut belum sepenuhnya dibangun karena Rusunawa tersebut baru selesai dibangun akhir 2014 lalu dan akan segera dibangun oleh pihak pengembang.

"Kalau idealnya di sebuah rusunawa sudah ada sekolah, tempat ibadah, kios warga, sarana tempat olah raga, rumah duka, namun di Muara Baru ini baru akan kita siapkan fasilitas sosial tersebut, kedepan pembangunan rusunawa akan langsung dibangun secara terintegrasi dan tidak terpisah seperti saat ini," tandas Ika.

Ibrahim kemudian sempat melihat sebuah contoh unit rusunawa yang sudah ditempati warga, dan unit Blok 10, Lantai 1, nomor 115 yang dihuni Fatimah (27) menjadi tujuannya.

"Saya ditanya apakah saya nyaman disini, terus bayarnya berapa, ya saya jawab saja nyaman pak, bayarnya Rp 234.000 sebulan," ujar Fatimah.
Fatimah yang baru 4 bulan menempati unit rusunnya mengaku dipindahkan dari rumah gubuknya di Blok A, RT16/RW17, Kelurahan Penjaringan yang sudah ditempatinya sejak 2002 lalu.

Mengandalkan penghasilan suami yang berprofesi sebagai pedagang ikan di Pelabuhan Muara Baru, Fatimah mengaku kerasan tinggal di rusunawa tersebut.

"Semuanya sih nyaman dan baik, hanya kualitas airnya saja yang perlu ditingkatkan, soalnya air dari keran berbau dan keruh, jadi untuk konsumsi kami masih membeli air isi ulang dan air jerigen untuk mandi dan mencuci," tutup ibu dua anak tersebut.

Saat jurnalis hendak menanyakan sesuatu pada PM Mesir yang sudah menyelesaikan kunjungannya pada Pukul 15.00 WIB, beberapa petugas keamanan nampak berupaya menghalangi. Pihak keamanan tersebut mengatakan bahwa Ibrahim sudah harus segera menuju lokasi hotel tempat ia menginap dan bersiap untuk mengikuti acara penutupan Konferensi Asia Afrika (KAA) serta mengikuti jadwal kegiatan terakhir di Bandung. (SP/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru