Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 11 September 2026
Memperkuat Ketahanan Nasional

Indonesia Butuh Badan Cyber Nasional

- Sabtu, 06 Juni 2015 14:01 WIB
236 view
Indonesia Butuh Badan Cyber Nasional
Jakarta (SIB) - Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Budi Susilo Soepandji menegaskan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan Badan Cyber Nasional dalam memperkuat ketahanan nasional.

Pasalnya, kejahatan-kejahatan Cyber merupakan kejahatan strategis yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

"Perlu dipahami, yang dibutuhkan sekarang adalah langkah nyata dan konkret membentuk Badan Cyber Nasional untuk memperkokoh sistem ketahanan nasional," ujar Gubernur Lemhanas Budi Susilo Soepanji dalam acara penutupan Simposium Nasional Cybersecurity di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (4/6).

Soepanji memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Simposium Nasional Cybersecurity yang dinilainya dapat memberikan gambaran dan langkah untuk membentuk Badan Cyber Nasional.

"Ini sebagai momentum Indonesia memperkuat ketahanan bangsa dan kedaulatan negara," katanya.

Soepandji menungkapkan ranah cyber sangat rentan tindakan illegal baik negara, kelompok, atau individu. Selain itu, katanya modus cyber crime terus meningkat dengan dampak yang merugikan ekonomi, politik, budaya, dan pertahanan.

"Indonesia secara parsial punya itu (sistem keamanan atas serangan cyber), tetapi belum terorganisair secara solid sehingga kita belum sepenuhnya kuat dalam ranah siber mulai mekanisame sampai implikasinya," tandasnya.

Badan Cyber Nasional, lanjut Soepandji harus mampu mempersiapkan kekuatan di semua lini. Kata dia, badan ini harus menjadi badan inti untuk situasi krisis.
"Diharapkan badan ini mempunyai respon yang responsif terhadap berbagai ancaman khususnya di ranah cyber," pungkas Soepandji.

Sementara sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menilai penting Badan Cyber Nasional mengantisipasi serangan pada sektor bisnis yang penting dan memiliki nilai kompetisi. Rudiantara menyebutkan beberapa sektor yang rawan dari risiko penyerangan siber di antaranya yaitu, sektor migas, perbankan dan telekomunikasi.

"Misalnya sektor migas, jika ini ada yang meretas mitra pemerintah di sektor minyak, akan menghajar perekonomian RI. Belum nanti ada perbankan, minyak dan telekomunikasi," kata Rudiantara.

Namun, dia mengakui salah satu kendala pembentukan lembaga Cyber Nasional adalah egosektoral setiap lembaga yang mempunyai persepsi yang berbeda terkait Badan Cyber Nasional. Simposium Nasional Cybersecurity, kata Rudiantara merupakan upaya untuk menyamakan persepsi terkait badan ini.

Kemenkominfo, katanya akan aktif mengundang beberapa pihak untuk duduk bersama membahas penanganan risiko serangan siber. Dalam simposium, lintas lembaga dimintai gagasan seputar penanganan serangan sampai badan siber.

"Kami undang berbagai pihak, kita duduk bareng, bicarakan itu," tandasnya. (SP/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru