Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 11 September 2026

BMKG: Kekeringan Akan Berlangsung Hingga September 2015

* Masyarakat Agar Hemat Menggunakan Air
- Minggu, 26 Juli 2015 20:12 WIB
864 view
BMKG: Kekeringan Akan Berlangsung Hingga September 2015
SIB/Ant/Dedhez Anggara
KEKERINGAN MELUAS: Seorang petani menanam biji palawija di areal sawah yang mengering di Indramayu, Jawa Barat. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Indramayu, Kekeringan yang melanda areal pertanian sudah mencapai 14.689 hektar dan teranc
Jakarta (SIB)- Adanya fenomena El Nino yang bertepatan dengan musim kemarau di Indonesia, membuat sebagian besar wilayah mengalami kekeringan. Namun, ini bukanlah kekeringan yang pertama kali.

"Sebelum ini yang paling dahsyat pada tahun 1997. Saat itu pemerintah sampai mengeluarkan status bencana alam," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Widodo Sulistyo, saat dihubungi Jumat (24/7) malam.

Ia menjelaskan karena kondisi yang terlalu keringnya pada 1997, banyak hutan yang terbakar dan membuat Indonesia menjadi perhatian dunia internasional. Hal ini karena asapnya menyebar ke negara-negara tetangga.

Meski kebakaran itu tak dipengaruhi langsung fenomena El Nino, tetapi kondisi udara yang kering serta curah hujan yang minim membuat kobaran api sulit dikendalikan. Selain itu, banyak sentra pertanian yang gagal panen karena distribusi curah hujan yang tidak memenuhi kebutuhan makanan.

Sebelum ini fenomena El Nino yang bertepatan dengan musim kemarau pernah terjadi tahun 2014. Namun, kondisinya tak sekering sekarang.

"Tahun ini belum separah 1997. Awal musim kemarau normal namun pengurangan curah hujan baru terasa pada Mei lalu," katanya.

Diperkirakan kondisi kekeringan seperti ini akan berlangsung hingga September. "Hingga saat ini kajian kita kondisi kering seperti sekarang akan berlangsung hingga Sepember di penghujung musim kemarau," pungkasnya.

Pengaruh El Nino
Tahun ini kekeringan di musim kemarau terasa lebih dari sebelumnya. Ternyata tahun ini ada penyimpangan iklim sehingga kekeringannya lebih terasa.
"Kemarau tahun ini berbeda karena ada penyimpangan iklim akibat adanya gangguan El Nino. Sehingga sebagian besar wilayah mengalami kekeringan dari biasanya," kata Sulistyo.

Akibat penyimpangan ini, Indonesia dilanda kekeringan yang lebih dibandingkan beberapa tahun terakhir.

Secara harfiah, El Nino berarti suatu gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di Samudera Pasifik sekitar equator (equatorial pacific) khususnya di bagian tengah dan timur (sekitar pantai Peru). Penyimpangan ini akhirnya berdampak penyimpangan kondisi laut hingga terjadi penyimpangan iklim.

Ia mengatakan kekeringan ini tak hanya dirasakan di Bogor dan Pulau Jawa tapi hampir sebagian wilayah Indonesia terlebih bagian timur. Namun, Bogor menjadi sorotan karena sebagian wilayah yang kerap hujan di musim kemarau, di tahun ini curah hujannya sangat minim.

"Normalnya dalam sebulan masih ada 1 atau beberapa kali hujan, namun tahun ini berbeda. Meski sempat terjadi gerimis, tapi itu pengaruhnya tidak signifikan," sambungnya.

Menurutnya, kekeringan adalah kondisi yang paling kering seperti ini akan berlangsung sepanjang musim kemarau atau hingga September bahkan bisa berkepanjangan hingga Oktober.

Meski beberapa kali langit terlihat mendung, tetapi beberapa faktor penunjang terjadinya hujan tidak terpenuhi seperti kondisi iklim yang lembab dan angin yang bertiup tenang.

Sebenarnya, kondisi kering ini juga terjadi di Jakarta. Namun, karena pasokan air masih terpenuhi, maka masyarakat tak terlalu merasakan. Masyakarat diminta menggunakan air lebih bijak setidaknya hingga akhir September atau awal Oktober.

"Masyarakat harus lebih efisien menggunakan air," pungkasnya (detikcom/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru