Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 11 September 2026

PMDN Butuh Dukungan Perbankan

- Rabu, 05 Agustus 2015 13:35 WIB
402 view
 PMDN Butuh Dukungan Perbankan
Jakarta (SIB) - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, nilai investasi atau penanaman modal asing (PMA) di Indonesia sepanjang lima tahun terakhirnya masih paling besar ketimbang investasi yang bersumber dari penanaman modal dalam negeri (PMDN). Kebijakan perbankan terkait kelonggaran suku bunga kredit diharapkan bisa merangsang naiknya jumlah investasi yang bersumber dari PMDN.

Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM, Azhar Lubis mengatakan, sebagian besar investor asal Indonesia hingga kini masih banyak menggantungkan sumber modalnya dari perbankan.

Tanpa dukungan perbankan, Azhar mengutarakan, investor asal Indonesia sulit untuk meningkatkan jumlah investasinya di Tanah Air. "Kalau ada akses modal, realisasi investasi dalam negeri bisa naik," ujar Azhar di Jakarta, Minggu (2/8).

Azhar mengemukakan, kebijakan perbankan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang di antaranya memberikan kelonggaran kredit diharapkan bisa merangsang para investor dalam negeri untuk menanamkan modalnya. Dengan memberikan kelonggaran pemberian kredit, Azhar melanjutkan, diharapkan bisa menurunkan suku bunga. "Kalau suku bunga turun, berarti sebagian besar PMDN yang sebagian sumber modalnya dalam negeri itu bisa akses," ujar Azhar.

Investasi Asing

Catatan BKPM selama lima tahun terakhir, investasi asing di Indonesia selalu lebih besar ketimbang investasi dalam negeri. Pada semester I/2015, realisasi investasi asing mencapai Rp 92,2 triliun, sedangkan investasi dalam negeri Rp 42,9 triliun.

Kepala BKPM, Franky Sibarani mengungkapkan, realisasi investasi asing dan dalam negeri sejak 2010 hingga Juni 2015 secara umum terus meningkat setiap tiga bulan. "Terlihat kenaikan angka realisasi yang signifikan. Dari segi nilainya menuju ke tingkat yang lebih stabil dan tinggi," ucapnya.

Namun, Franky memaparkan, dari segi realisasi investasi asing masih lebih besar ketimbang dalam negeri. Untuk triwulan II/2015, ia melanjutkan, peningkatan investasi dalam negeri sebesar 12,3 persen, sedangkan investasi asing meningkat 18,2 persen dari periode sebelumnya tahun 2014.

Investor Jepang, misalnya. Salah satu industri komponen mobil asal Jepang akan memperluas bisnisnya di Indonesia. Dengan nilai investasi US$ 72 juta, perusahaan komponen mobil asal Negeri Sakura itu menargetkan peningkatan kapasitas produksi hingga 47 persen.

Tidak hanya itu, salah satu pengusaha Jepang berencana menjadikan Indonesia sebagai basis produksi popok bayi. Nilai investasi yang disiapkan untuk memperluas bisnis popok bayi di Indonesia mencapai US$ 8,1 juta dan rencananya mulai produksi pada kuartal I/2016.

Investor dari negara lain juga mulai memperluas lini bisnisnya di Indonesia. Malaysia, misalnya, mulai menanamkan modalnya di sektor infrastruktur. Bila sebelumnya fokus berbisnis di industri pengolahan kelapa sawit, Malaysia kini berbisnis antara lain di infrastruktur jalan tol.

Selain infrastruktur jalan tol, Franky menyebutkan, Malaysia menanamkan modal di bidang telekomunikasi. Pada semester I/2015, Malaysia adalah negara terbesar yang menanamkan modalnya di Indonesia dengan nilai investasi US$ 2,6 miliar. "Malaysia sudah mulai bergerak ke sana," ujar Azhar.

Salah satu tol yang merupakan investasi Malaysia adalah Tol Cikopo-Palimanan (Cipali). Di sektor telekomunikasi, Malaysia menyuntikan dana di XL Axiata, provider telepon XL.

Setelah Malaysia, negara lain yang juga menanamkan modalnya cukup besar di Indonesia adalah Singapura (US$ 2,3 miliar), Jepang (US$ 1,6 miliar), Korea Selatan (US$ 0,8 miliar), dan Amerika Serikat (US$ 0,6 miliar). (SH/h)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru