Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 11 September 2026

Komaruddin: Pola Pikir Kebhinekaan Harus Diubah

- Kamis, 06 Agustus 2015 16:35 WIB
98 view
Komaruddin: Pola Pikir Kebhinekaan Harus Diubah
Jakarta (SIB)- Cendekiawan muslim Komaruddin Hidayat mengatakan sudah saatnya bangsa Indonesia mengubah pola pikir tentang kebhinekaan, tidak lagi terpaku pada kesatuan dari perbedaan suku, agama ataupun budaya di Tanah Air.

"Bhinneka Tunggal Ika itu mesti dibaca ulang. Kebhinekaan harus dilihat dari sisi keberagaman, perbedaan dalam hal keunggulan sumber daya masing-masing daerah," kata Komaruddin dalam perbincangan dengan Antara mengenai 70 tahun Kemerdekaan RI di Jakarta, Rabu (5/8)

Komaruddin menjelaskan, setiap daerah di Indonesia memiliki keunggulan masing-masing, ada yang memiliki kekayaan alam namun sedikit SDM, ada pula yang sebaliknya.

Karena itu, kebhinekaan di Tanah Air hendaknya diwujudkan dengan menjadikan daerah sebagai pusat-pusat peradaban dan kemajuan ekonomi sesuai kekhasan wilayah tersebut.

"Jadi bukan lagi tentang kebhinekaan etnis. Tujuannya untuk menjunjung keekaan (kesatuan) sebagai bangsa dan negara, yang akan membangun kebanggaan," kata pria yang pernah menjabat sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Komaruddin melanjutkan perbedaan-perbedaan etnis serta budaya di Indonesia adalah kekayaan sekaligus potensi konflik, walaupun secara politik dan adminstratif persoalan perbedaan ini sudah selesai pada tahun 1945, sejak Pancasila dan UUD 1945 disahkan.

Namun kenyataannya, hingga saat ini ketika umur Kemerdekaan Indonesia hampir menginjak 70 tahun, kekerasan dan kericuhan atas nama agama, suku dan lain-lain masih saja terjadi.

Menurut pria yang merupakan doktor filsafat barat dari Middle East Techical University di Turki ini, hal tersebut disebabkan karena perbedaan itu, atau kebhinekaan etnis, belum disertai dengan kesejahteraan dan keadilan.

"Perbedaan-perbedaan itu harus menjadi modal yang dikapitalisasi dan diikat dengan kesejahteraan, pendidikan serta keadilan. Ketika itu tercapai, kebhinekaan etnis, agama di Indonesia bukan lagi menjadi sumber konflik melainkan sumber kekayaan budaya dan itulah keindahan Indonesia," tuturnya. (Antara/k)
    

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru