Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 13 September 2026

Kontroversi Penghargaan Kim Jong Un dan Misi Rachmawati Menyatukan Korea

- Rabu, 02 September 2015 12:21 WIB
282 view
Kontroversi Penghargaan Kim Jong Un dan Misi Rachmawati Menyatukan Korea
Jakarta (SIB)- Niat Rachmawati Soekarnoputri memberikan Soekarno Award untuk pimpinan Negara Korea Utara Kim Jong Un menuai kritik pedas. Namun kini ada kabar terbaru.

Ketua Yayasan Pendidikan Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri berniat memberikan Soekarno Award untuk Presiden Korea Utara Kim Jong Un. Ia kini mengaku ditunjuk sebagai Ketua Kehormatan Reunifikasi Korea untuk Asia Pasifik.

"Saya ditunjuk sebagai Ketua Kehormatan Reunifikasi Korea untuk Asia Pasifik jadi memang saya mendorong agar bangsa Korea ini bisa bersatu kembali," ungkap Rachmawati di Kampus Universitas Bung Karno, Jl Kimia, Jakpus, Senin (31/8).

Rachma mengatakan, beberapa negara yang dulu bertikai dan berpisah, kini bisa kembali bersatu. Ia pun ingin menjadi salah satu pihak yang mempersatukan Korea Selatan dan Korea Utara.

"Seperti halnya dengan Jerman, Vietnam, akhirnya bisa bergabung. Saya berharap Korut dan Korsel bisa bersatu lagi. Penunjukkan (ini) dari Korut tapi mereka (Korut dan Korsel) kan sudah ada bilateral juga, pembicaraan untuk reunifikasi," jelas Rachma.

Meski mendapat kecaman, Rachma tetap teguh untuk memberikan penghargaan untuk Kim Jong Un yang terkenal otoriter itu. Menurutnya, kecaman maupun stereotype tentang putra dari Kim Jong Il tersebut merupakan propaganda negara barat.

"Kita tetap jalan (pemberian penghargaan). Itu propaganda (negaray barat lalu menjelekkan Korut itu yang bilang melanggar HAM," tutur adik Megawati Soekarnoputri tersebut.

"Kami mendorong reunifikasi bangsa Korea, kami melihat konsistensi Kim Jong Un di dalam mempertahankan dalam kemandirian negaranya itu patut diapresiasi. Dia cucu dari Kim Il Sung, yang memiliki kedekatan dengan Presiden Soekarno," sambung Rachma.

Selain Kim Jong Un, ada beberapa pemimpin maupun mantan pemimpin negara yang juga akan diberi penghargaan. Rencananya pemberian Soekarno Award akan digelar di Hotel Borobudur pada 27 September 2015 mendatang.

Seperti mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, mantan Presiden Kuba Fidel Castro, Hugo Chavez dari Venezuela, Raja Abdullah II dari Yordania, dan King Mohammed VI dari Maroko. Ada pertimbangan tersendiri mengapa Yayasan Pendidikan Soekarno memberikan pengharhaan kepada tohoh-tokoh ini.

"Pemimpin-pemimpin ini anti imperialisme, ini perlu apresiasi kita-kita sebagai negara pencetus KAA yang kemudian menjadi gerakan non-blok. Ini harus diapresiasi. Kita harus jadi bangsa mandiri. Jangan keliru," terang Rachma.

Lalu apakah Kim Jong Un dan tokoh-tokoh yang mendapat Soekarno Award akan datang ke Indonesia untuk menerimanya langsung?

"Saya kurang tahu datang atau tidak, tapi kalau tidak (datang), perwakilan juga sudah cukup," tutup Rachma. (Detikcom/k)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru