Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 Juli 2026

Hadapi Pesawat Impor, PT DI Siapkan R80 dan N219

* Harga N219 Dibandrol Rp45 Miliar/Unit
- Jumat, 04 April 2014 18:44 WIB
850 view
Hadapi  Pesawat Impor, PT DI Siapkan R80 dan N219
Jakarta (SIB)- Maskapai tanah air saat ini lebih memilih beli dan menggunakan pesawat pabrikan dunia seperti Airbus, Boeing, ATR, Cessna hingga Bombardier. Pesawat tersebut dipakai melayani masyarakat Indonesia yang berpergian hingga pelosok negeri.

Padahal Indonesia memiliki pabrik pesawat yang bermarkas di Bandung, Jawa Barat yakni PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Apa respon PTDI atas kondisi tersebut?

Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisyahbana menjelaskan melihat potensi dan permintaan yang besar terhadap produk pesawat di Indonesia. PTDI saat ini tengah mengembangkan 2 varian pesawat sipil yang cocok untuk wilayah udara Indonesia.

Meskipun saat ini PTDI memiliki varian pesawat lama. Pesawat pertama yang sedang dikembangkan adalah N219. Pesawat baling-baling berkapasitas 19 penumpang ini mulai diproduksi massal pada tahun 2016. Untuk pengembangan N219, PTDI menggandeng industri komponen lokal.

"Itu pesawat yang kita kembangkan untuk sesuai penerbangan sipil. Itu kita kembangkan yang paling penting di 219 adalah kita membawa industri lokal untuk berbagung di 219," kata Andi kepada detikFinance di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (2/4/2014).

Andi menjelaskan saat ini beberapa maskapai tanah air telah menyatakan minat untuk membeli N219. Hal ini membuat PTDI optimis bahwa N219 akan terserap dan laku di pasaran.

"Kelebihan dari proyek sipil banyak. Karena order-nya banyak sampai 150 beda dengan pesawat militer," jelasnya.

Selain mengembangkan pesawat baling-baling berkapasitas 19 penumpang. PTDI bersama perusahaan milik mantan Presiden Indonesia yakni BJ Habibie, PT Regio Aviasi Industri (RAI) sedang mengembangkan pesawat baling-baling mesin turboprop berkapasitas 80 penumpang yang dinamai R 80.
Pengembangan pesawat R80 dilakukan untuk menyaingi pesawat ATR buatan luar negeri yang banyak dipakai  maskapai RI.

Meski belum berwujud purwarupa atau protototype, di dalam desain awal (conceptual design), R80 diracang lebih canggih dan berkapasitas lebih banyak daripada pesawat ATR.

"Saya rasa itu lebih baik karena R80 kita rancang bisa mendarat di lokasi dengan ATR bisa mendarat juga yakni dengan landasan 1.600 meter tapi membawa penumpang lebih banyak yakni 80 orang. Itu bisa lebih cepat, lebih lega dan lebih modern," katanya.

Pengembangan R80 akan dimulai pada tahun 2015. Proses pengembangan hingga lulus sertifikasi membutuhkan waktu 5 tahun. Diproyeksi, R80 akan diproduksi dan dipakai konsumen mulai tahun 2020.

Pesawat berkapasitas N219  ini nantinya dibanderol seharga US$ 4,5 juta atau setara Rp 45 miliar per unit. Harga ini dinilai relatif murah sehingga pesawat ini bakal laris di pasaran.

"Harga menarik. Harganya sekitar US$ 4,5 juta. Itu bisa dicapai dengan local content yang tinggi," kata Andi Alisyahbana.

Andi menerangkan harga pesawat N129 buatan PTDI dibandrol lebih murah ketimbang pesawat sejenis yang memiliki tipe yang tidak jauh berbeda karena PTDI mengutamakan komponen lokal. Komponen lokal yang dipakai sebanyak 60% sehingga mampu menjual produk pesawat dengan harga kompetitif.(dtf/c)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru