Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 Juli 2026

RI Impor Gula dan Garam dari Malaysia Hingga Belanda

- Selasa, 08 April 2014 13:44 WIB
583 view
RI Impor Gula dan Garam dari Malaysia Hingga Belanda
Jakarta (SIB)- Impor gula pada bulan Februari 2014 dilaporkan naik dari bulan sebelumnya. Untuk jenis gula pasir, impornya tercatat 8.436 ton atau US$ 4,5 juta. Naik dari Januari yang sebesar 5.220 ton atau US$ 2,7 juta.

Demikianlah data laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, Senin (7/4/2014).

Gula pasir diimpor dari Thailand dengan 6.975 ton atau US$ 3,5 juta, Australia 1020 ton atau US$ 681 ribu, Selandia Baru 240 ton atau US$ 172 ribu, Malaysia 200 ton atau US$ 113 ribu dan Jerman 1,1 ton atau US$ 21 ribu.

Sedangkan gula tebu, impornya naik dari bulan Januari yang sebesar 212 ribu ton atau US$ 100,2 juta menjadi 280 ribu ton atau US$ 131,9 juta pada Februari 2014.

Asal impor adalah dari negara Brazil dengan 115 ribu ton atau US$ 53,8 juta, Thailand dengan 141 ribu ton atau US$ 67,8 juta dan Australia sebesar 24 ribu ton atau US$ 10,3 juta.

Sementara itu, Indonesia juga mengimpor garam. Meskipun pada bulan Februari 2014 ada sedikit penurunan. Dilaporkan impor sebesar 218 ribu ton atau US$ 9,4 juta. Turun dari Januari yang sebesar 278 ribu ton atau US$ 13,4 juta.

Garam impor berasal dari Australia sebesar 217 ribu ton atau US$ 9,3 juta, India 169 kg atau US$ 1260, Selandia Baru 72 ton atau US$ 29 ribu, Belanda 268 ton atau US$ 69 ribu dan akumulasi negara lainnya 550 kg atau US$ 709.

RI Impor Bawang Merah Hingga 14.000 Ton

 Pada  Februari 2014, impor bawang merah dilaporkan melonjak drastis dibanding bulan sebelumnya. Tercatat impor komoditas tersebut mencapai sebesar 14.135 ton atau US$ 6,4 juta. Naik sekitar 55% atau 7.888 ton dari bulan Januari yang sebesar 6.247 ton atau US$ 3,1 juta.

 Bawang merah impor tersebut berasal dari Thailand dengan 7.944 ton atau US$ 3,7 juta, India 4.299 ton atau US$ 1,6 juta dan Vietnam 2.071 ton atau US$ 1,1 juta.

Sementara itu untuk bawang putih, impornya turun tipis. Februari adalah 26.614 ton atau US$ 19,4 juta dan Januari 30.734 ton atau US$ 22,2 juta.

Keseluruhan impor bawang putih pada bulan tersebut berasal dari Tiongkok. Sebelumnya, di bulan Januari Singapura ikut memasok bawang putih untuk Indonesia.

Cabai, impornya tidak jauh berbeda dari bulan sebelumnya. Untuk cabai kering tumbuk, impor pada bulan Februari 2014 adalah 1581 ton atau US$ 1,9 juta. Bulan Januari impor sebesar 1.149 ton atau US$ 1,5 juta.

Asal cabai kering tumbuk adalah dari India dengan 1133 ton atau US$ 1,3 juta, Tiongkok 381 ton atau US$ 410 ribu, Thailand 8 ton atau US$ 106 ribu, Malawi 14 ton atau US$ 17 ribu, Australia 4,8 ton atau US$ 27 ribu dan negara lainnya total 39 ton atau US$ 25 ribu.

Sedangkan jenis cabai awet sementara, impor pada bulan Februari 213 ton atau US$ 211 ribu. Turun dari Januari yang mencapai 563 ton atau US$ 576 ribu. Impor hanya dilakukan dari Thailand pada Februari.

Impor Kedelai dari AS

Indonesia masih cukup bergantung kepada kedelai impor. Setiap bulannya, bahan baku tahu dan tempe ini rutin diimpor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Impor kedelai pada  Februari  mencapai 199 ribu ton atau US$ 113,8 juta. Angka tersebut naik dari bulan sebelumnya. Di mana tercatat pada Januari, impor kedelai hanya sebesar 150 ribu ton atau US$ 86,1 juta. Sementara akumulasi dalam dua bulan tersebut adalah 348 ribu ton atau US$ 200 juta.

Negara asal dari kedelai impor tersebut cukup beragam. Paling besar, impor dilakukan dari Amerika Serikat (AS) dengan besaran 195 ribu ton atau senilai US$ 111,8 juta.

Kemudian adalah Malaysia yang sebesar 1084 ton atau US$ 706 ribu, Ukraina dengan 1082 ton atau US$ 557 ribu, Ethiopia dengan 650 ton atau US$ 325 ribu, Kanada dengan 407 ton atau US$ 230 ribu dan akumulasi negara lainnya 171 ton atau US$ 146 ribu.

Produk pangan lainnya yang masih diimpor adalah jagung. Dilaporkan impor jagung pada bulan Februari 2014 sebesar 153 ribu ton atau US$ 37,1 juta. Turun dari bulan Januari yang sebesar 216 ribu ton atau US$ 52,3 juta.

Paling besar, jagung diimpor dari Brazil dengan volume 76 ribu ton atau US$ 17,6 juta. Kemudian adalah India dengan 67 ribu ton atau US$ 16,2 juta. Kemudian adalah AS sebesar 38 ton dan akumulasi negara lainnya 404 ton atau US$ 306 ribu.

Selain itu, Indonesia juga mengimpor minyak goreng dari negara luar. Impor pada Februari 2014 adalah 1.547 ton atau US$ 2 juta. Turun dari Januari yang mencapai 1.913 ton atau US$ 2,4 juta.

Negara pemasok minyak goreng tersebut adalah Malaysia 1241 ton atau US$ 1,6 juta, Thailand 56 ton atau US$ 73 ribu, Singapura 63,6 ton atau US$ 86 ribu, Australia 125,6 ton atau US$ 165 ribu dan AS 223 kg atau US$ 3510. (Dtf/w)

Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 8 April 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru