Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 Juli 2026

Ada Maskapai Penerbangan Murah, Penumpang Kapal Pelni Anjlok 50%

- Jumat, 11 April 2014 21:30 WIB
320 view
 Ada Maskapai Penerbangan Murah, Penumpang Kapal Pelni Anjlok 50%
Jakarta (SIB)- Merebaknya bisnis maskapai berbiaya murah atau low cost carrier pada awal tahun 2000-an membawa dampak negatif terhadap kelangsungan bisnis angkutan kapal laut penumpang untuk jarak sedang dan jauh. Seperti yang dialami Badan Usaha Milik Negara (BUMN) operator kapal yakni PT Pelni (Persero).

Penumpang Pelni pelan tapi pasti, mengalami penurunan jumlah penumpang, bahkan pada tahun lalu merupakan masa pahit dari Pelni. Meski memperoleh pendapatan Rp 2,4 triliun, namun perseroan masih merugi akibat penumpang minim tetapi beban operasional justru merangkat naik.

Tahun 2013, total penumpang hanya mencapai 4,5 juta per tahun, padahal sebelum beroperasinya penerbangan murah jumlah masyarakat yang menggunakan armada kapal laut mencapai 8 juta orang.

"Yang jelas, dulu 8 juta. Sebelum adanya penerbangan lcc atau low cost carrier di bawah tahun 2000. Sekarang menjadi 4,5 juta. Jauh banget," kata Direktur Utama Pelni Syahril Japarin saat sosialisasi penyesuaian tarif di All Seasons, Gajah Mada, Jakarta Pusat, Kamis (10/4).

Karena jumlah penumpang terus turun namun beban operasional justru bertambah, selanjutnya Pelni melakukan beberapa langkah. Syahril menjelaskan Pelni melakukan efisiensi pemakaian konsumsi BBM di kapal dengan menerapkan teknologi dari BPPT.

Pasalnya BBM menjadi penyumbang biaya terbesar yakni 55% dari total biaya. Selain itu, Pelni melakukan penertiban penumpang dan kargo gelap yang tidak membayar tiket resmi. "Kita lakukan efisiensi di semua lini. Pemakaian BBM di atas kapal mencapai 55% dari biaya keseluruhan," jelasnya.

Selain efisiensi, Pelni mengubah model bisnis. Pelni mulai menggenjot bisnis angkutan cargo atau barang.

Strateginya Pelni memodifikasi kapal penumpang miliknya sehingga bisa membawa kontainer, truk besar, bus dan tetap membawa penumpang. Porsi pendapatan dari sektor kargo diproyeksi menjadi 70% dan penumpang 30% di dalam 5 tahun ke depan.

"Kemudian kita perlahan masuk ke dunia kargo. Akhirnya angkutan Kargo akan lebih besar dariapda penumpang. Pelayanan kita perbaiki," sebutnya.

Saat ini, Pelni telah memodifikasi 2 unit kapal dari 22 unit kapal yang dimiliki agar bisa menjadi angkutan cargo. Kapal Pelni rata-rata berukuran besar karena mampu membawa 500-3.000 penumpang sekali jalan. Untuk modifikasi kapal, Pelni mengeluarkan dana Rp 100 miliar untuk setiap modifikasi kapal per unitnya.

Tarif Kapal Laut Kelas Ekonomi Bakal Naik

PT Pelni (Persero) berencana menaikkan tarif penumpang kapal laut dalam negeri untuk kelas ekonomi. Penyesuaian diusulkan rata-rata sebesar 20% yakni dari Rp 404,55 menjadi Rp 492,48 per orang per mil. Kenaikan ini baru dilakukan kembali setelah terjadi penyesuaian tarif yang terakhir pada tahun 2009 atau 5 tahun lalu.

"Kita selesaikan penyesuaian tarif. 2009 turun. Terjadi kenaikan tarif di 2007, kemudian 2009, penurunan tarif. Tahun ini kita usulkan kenaikan 20%," kata Direktur Komersial Pelni Daniel E Bangonan.

Untuk penyesuaian tarif ini, Pelni telah berkonsultasi dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) selaku regulator dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) selaku perwakilan konsumen.

"Proses ke Kemenhub sudah ada diskusi. Seperti apa beban operasional. Kerugian yang ditanggung," sebutnya.

Kenaikan tarif ini dilakukan karena meningkatknya beban operasional yang ditanggung perseroan. Pelni harus menanggung bertambahnya biaya akbat kenaikan harga BBM bersubsidi dan melonjaknya kurs.

"Penyesuaian tarif untuk menekan tingkat kerugian yang ditanggung Pelni. Kenaikan BBM subsidi Rp 4.500 menjadi Rp 5.500. Kenaikannya 22,3%. Kapal Pelni juga impor spare part dengan euro. Kurs berdampak signifikan terhadap kenaikan beban 28%," jelasnya.

Daniel menjelaskan komponen terbesar angkutan laut adalah bahan bakar sebanyak 55% dan biaya perawatan kapal sebesar 11%. Sehingga jika terjadi kenaikan harga BBM dan tarif tidak naik, maka Pelni bisa menanggung kerugian lebih besar.

"Komponen biaya bahan bakar mempengaruhi 55%, kedua adalah biaya maintenance 11%, biaya penumpang 8%, biaya asuransi 2%. Kapal Pelni yang cepat, akibatnya konsumsi BBM menjadi tinggi," paparnya. (detikfinance/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru