Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

2013, Barang Palsu Rugikan Negara Rp 65,1 Triliun

- Jumat, 18 Juli 2014 15:34 WIB
408 view
 2013, Barang Palsu Rugikan Negara Rp 65,1 Triliun
SIB/ ANTARA FOTO/HO-Muhammad Soleh/ed/mes/14
DISTRIBUSI MINYAK GORENG: Managing Director Sinar Mas, G. Sulistiyanto (kiri) bersama Bupati Belitung Timur, Basuri Tjahaja Purnama (kedua kiri) melayani penjualan minyak goreng di Kecamatan Manggar, Belitung Timur, Kamis (17/7). Sinar Mas mendistribusika
Jakarta (SIB)- Peredaran barang palsu di Indonesia selama 2013 telah merugikan negara sebesar Rp 65,1 triliun. Kerugian ini meningkat dari jumlah sebelumnya di tahun 2010 sebesar Rp 43,2 triliun.

"Dalam kurun waktu lima tahun, pemalsuan meningkat 1,5 kali," kata Eugenia Mardanugraha, peneliti dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia di Jakarta, Rabu.
Barang palsu yang banyak beredar di Indonesia di antaranya adalah perangkat lunak (software), kosmetika, obat-obatan, pakaian, aksesoris dari kulit, makanan dan minuman, serta tinta printer. Produk tersebut beredar secara massif sehingga menimbulkan kerugian di sektor pajak dan upah kerja.

Menurut data penelitian tim Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) dan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, akibat pemalsuan, dalam setahun produk domestik bruto menguap Rp 65,1 triliun, pendapatan pajak berkurang Rp 424 miliar, dan pekerja kehilangan upah atau gaji sekitar Rp 3,4 triliun. "Penyebabnya bisa bermacam-macam, dari penegakan hukum sampai ketidaktahuan produsen dan pembeli barang," ujar Ketua MIAP Widyaretna Buenastuti di kesempatan yang sama.

Widya mengungkapkan bagi produsen, faktor profit menjadi alasan utama mengapa banyak produsen yang memproduksi barang palsu, begitu pula yang dilakukan oleh pedagang. Sementara itu, harga produk palsu yang lebih murah menjadi pilihan para pembeli ketimbang membeli yang asli.

Dari hasil penelitiannya, Widya memaparkan produk palsu yang paling banyak beredar dan dibeli masyarakat Indonesia adalah tinta printer, yaitu 52,2 persen. Produk palsu yang banyak dinikmati juga yaitu pakaian sebesar 39,6 persen, aksesoris kulit 38,8 persen, dan perangkat lunak 33,1 persen. Survei dilakukan 591 responden di Jabodetabek dan Surabaya untuk melihat tanggapan masyarakat terhadap peredaran barang palsu. (Tempo.co/i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru