Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Anggota DPD: Saatnya Warga Tradisikan Bercocok Tanam

- Senin, 21 Juli 2014 12:50 WIB
363 view
Anggota DPD: Saatnya Warga Tradisikan Bercocok Tanam
Ternate (SIB)- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Maluku Utara, Mudaffar Sjah meminta warga di daerah itu kembali mentradisikan bercocok tanam, terutama untuk pengembangan komoditas hasil bumi seperti cengkih, pala dan kelapa.

“Hasil dari bercocok tanam ini, sangat dirasakan oleh warga, terutama di Kabupaten Halmahera Barat, guna membangkitkan kehidupan masyarakat dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari,” katanya usai berkunjung di Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), Minggu.

Ia mengatakan, selama ini, masyarakat di Malut dikenal sebagai petani komoditas hasil bumi dan sudah banyak dijual ke berbagai kota besar di Indonesia.
Karena itu, dia berharap para petani terus menggiatkan diri dalam bercocok tanam, karena upaya tersebut bisa memenuhi kebutuhan keluarga masing-masing.

Namun, sejumlah petani pala dan cengkih di Jailolo. mengeluhkan turunnya sejumlah harga hasil bumi di pasaran Kota Ternate, sehingga mempengaruhi pendapatannya terutama pada Ramadan ini.

Seorang petani pala di Ternate, Asnawi mengatakan, harga biji pala yang sebelumnya Rp60 ribu per kilogram, kini turun menjadi Rp55 ribu per kilogram. Penurunan harga ini mempengaruhi pendapatan petani.

Begitu pula, untuk harga fuli yang sebelumnya mencapai Rp120 ribu per kilogram, sekarang anjlok menjadi Rp110 ribu. Turunnya harga biji pala dan fuli itu terjadi sejak dua pekan terakhir.

Turunnya harga komoditas pala dan fuli di berbagai pasaran di Kota Ternate, mengakibatkan para petani enggan untuk menjual hasil panen, meskipun saat ini mereka membutuhkan uang untuk kebutuhan Ramadan.

Ia berharap pihak terkait di daerah ini untuk segera melakukan langkah-langkah terkait agar harga komoditas perkebunan andalan Malut tersebut bisa tetap atau meningkat.

Sebelumnya, para pengusaha pengumpul pala dan hasil perkebunan lainnya di Malut selama ini disinyalir sering secara sengaja menurunkan harga pembelian dengan dalih permintaan dari luar Malut berkurang. (Ant/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru