Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026

Gawat! Virus Corona Bisa Ancam Ekonomi Global

Redaksi - Selasa, 28 Januari 2020 14:36 WIB
134 view
Gawat! Virus Corona Bisa Ancam Ekonomi Global
medanbisnisdaily.com
Virus Corona bisa ancam ekonomi global
Jakarta (SIB)
Wabah virus corona bisa menjadi ancaman ekonomi bagi negara Tirai Bambu. Dampaknya juga bisa meluas jika virus tersebut menyebar.

Dilansir Bizjournals.com, Senin (27/1), pasar keuangan Asia anjlok pada Kamis (23/1) lalu yang disebabkan penurunan tajam saham di China karena dampak dari virus corona.

Ketakutan semakin meningkat dalam dua hari belakangan. Pemerintah China mengambil tindakan untuk mengisolasi Wuhan, kota tempat sumber virus. Hal ini untuk mencegah korban jatuh lebih banyak.

Virus corona telah membuat ketidakpastian di China. Terlebih penyebaran virus bertepatan dengan liburan Tahun Baru Imlek yang biasanya meningkatkan jumlah perjalanan, belanja, dan pembelian hadiah.

Stasiun kereta api dan bandara juga sepi karena penumpang langsung mengubah rencana perjalanan meskipun ada libur selama sepekan.

Apakah virus corona sama menakutkannya seperti SARS yang menewaskan 800 orang pada 2003?
Masalah yang paling krusial sebenarnya adalah bagaimana nasib ekonomi di negeri Panda ini. Sebelum ada virus corona, ekonomi China bertahun-tahun jadi salah satu mesin pertumbuhan paling kuat di dunia. Ancaman virus ini bisa membuat pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi terhambat.

Pertumbuhan China pada tahun 2003 anjlok selama puncak epidemi SARS. Namun pulih kembali ketika perusahaan-perusahaan membangun pabrik di China dan kinerja ekspor menanjak.

Ekonomi China memang sudah tumbuh lebih besar dibanding 2003, tapi saat ini China sedang mengalami perlambatan pertumbuhan paling buruk dalam tiga dekade terakhir. Perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) menjadi pemicunya dan desakan agar pemerintah melepas ketergantungan perusahaan pada utang.

Untuk saat ini, dampaknya belum begitu terasa. Pihak berwenang tampaknya merespons lebih cepat terhadap wabah ini daripada yang terjadi pada tahun 2003. Jika dihitung dari jumlah korban, virus corona saat ini belum begitu mematikan dibandingkan SARS, tetapi sulit dideteksi.

"Ini akan tergantung pada bagaimana China terus transparan dengan pihak internasional," kata Peter Levesque, Managing Director Modern Terminal, operator pelabuhan di Hong Kong.

Pada tahun 2003, sektor yang paling terpukul adalah transportasi, ritel dan restoran. Sebenarnya, Wuhan sangat penting untuk perdagangan di China. Kota ini adalah pusat transportasi dan telah menjadi pusat pembuatan mobil untuk General Motors, Honda, dan lainnya, serta puluhan pembuat suku cadang mobil. Efek dari wabah ini terhadap negara lain menjadi hal yang tak kalah penting.

China telah mendorong konsumsi lebih banyak yang serupa dengan AS, sehingga ekonominya tidak hanya bergantung pada proyek-proyek konstruksi dan infrastruktur besar yang sering menerima pembiayaan pemerintah. Tapi perubahan itu membuat China lebih rentan terhadap peristiwa yang membuat masyarakat menahan belanja.

DAMPAK
Sementara itu, Direktur Riset Center of Reforms on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, virus corona berdampak berbahaya bagi perekonomian yang wilayahnya terkena dampak, khususnya di China itu sendiri.

"Kalau China itu dampaknya sangat besar, produktivitas daerah Wuhan otomatis akan terhenti. Kegiatan ekonomi akan terhenti di situ, otomatis akan mempengaruhi output pada daerah yang terdampak," kata Piter, Minggu (26/1).

Piter belum mengetahui seberapa besar virus ini akan berdampak bagi perekonomian Indonesia. Yang jelas, semua tergantung pada seberapa tanggap pemerintah Wuhan mengatasi virus ini. Semakin lama virus ini dibiarkan, semakin besar pula kerugian yang didapat.

"Kalau tidak bisa diatasi dengan cepat maka dampaknya lebih signifikan. Tapi kalau dalam waktu 2-3 bulan bisa diatasi maka dampaknya bisa diminimalkan," ucapnya.

Berikut sederet dampak virus corona terhadap kegiatan ekonomi.

HARGA MINYAK
Ganasnya serangan virus corona jenis baru yang menyerang China membuat harga minyak anjlok. Wabah virus corona dapat menurunkan harga minyak mentah sekitar US$ 3 per barel.

Bank investasi global yang berkantor pusat di New York, Goldman Sachs menilai virus corona dapat menyebabkan permintaan bahan bakar jet turun 170.000 barel per hari, dengan permintaan keseluruhan menurun 260.000 barel per hari.

Goldman memperkirakan pasar bahan bakar jet akan berdampak cukup besar jika wabah tersebut mengarah pada penurunan perjalanan udara regional.

Virus yang merebak itu membuat harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional saat ini sedikit di bawah US$ 65 per barel, sedangkan patokan Amerika Serikat (AS) minyak mentah West Texas Intermediate berada di kisaran US$ 58 per barel. Masing-masing keduanya turun lebih dari 2%.

TUTUP
Disneyland Shanghai memutuskan tutup sementara sejak Sabtu (25/1) lalu. Langkah itu diambil seiring merebaknya penyakit yang disebabkan virus corona.

Shanghai Disney Resort membuat pengumuman di situs resminya, yang mengatakan kebijakan itu diambil sebagai langkah antisipasi. Pengelola ingin memastikan kesehatan, serta keselamatan tamu dan juga para staff.

"Kami akan terus memonitor situasi dan akan terus berkomunikasi dengan pemerintah lokal. Kita akan umumkan lagi kapan pembukaan kembali dilakukan," tulis pengumuman itu lagi.

McDonald's juga memutuskan menutup restoran mereka di lima kota di China yaitu di Wuhan, Ezhou, Huanggang, Qianjiang dan Xiantao sejak Jumat (24/1) kemarin.

Juru Bicara Perusahaan, Barry Sum mengatakan kebijakan diambil demi mengantisipasi penyebaran virus corona agar tidak menginfeksi karyawan dan masyarakat.

Selain menutup toko, McDonald's juga memutuskan untuk menerapkan protokol kesehatan baru di daerah tersebut. Pihaknya mengharuskan semua restoran McDonald's memasang sistem dan mengukur suhu tubuh semua kru saat tiba di tempat kerja.

Tidak hanya McDonald's, penyebaran virus corona juga membuat Starbucks tutup. Manajemen menyatakan mereka telah menutup 90 toko di Hubei demi menghindari penyebaran virus corona.(detikcom/d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru