Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 30 Januari 2026

Ritel Raksasa Ambruk: Banyak Toko Ditutup, Karyawan Kehilangan Pekerjaan

Robert Banjarnahor - Selasa, 18 Maret 2025 09:33 WIB
38 view
Ritel Raksasa Ambruk: Banyak Toko Ditutup, Karyawan Kehilangan Pekerjaan
detikFinace
Ilustrasi Ritel Tutup
Jakarta(harianSIB.com)

Raksasa ritel mode asal Amerika Serikat (AS), Forever 21, resmi mengajukan kebangkrutan pada Minggu. Keputusan ini diambil setelah perusahaan mengalami penurunan penjualan akibat menurunnya jumlah pengunjung mal serta meningkatnya persaingan dari pengecer daring.

Dilansir dari Reuters, Senin (17/3/2025) dan dikutip dari CNBC Indonesia, Forever 21 menyatakan akan mengecilkan operasional toko fisiknya. Secara bersamaan, perusahaan juga akan menjalankan proses penjualan dan pemasaran untuk sebagian atau seluruh asetnya. Langkah ini sejalan dengan pengumuman sebelumnya yang menyebutkan rencana PHK terhadap 700 karyawan.

Jika penjualan berhasil, Forever 21 mengatakan akan beralih dari penghentian operasi penuh untuk memfasilitasi transaksi kelangsungan usaha. Perusahaan tersebut juga mengatakan toko dan situs webnya di AS akan tetap buka dan terus melayani pelanggan, dan toko internasionalnya tidak akan terpengaruh.

Secara aset, menurut pengajuan ke pengadilan kebangkrutan di Distrik Delaware, Forever 21 mencatatkan estimasi asetnya dalam kisaran US$ 100 juta (Rp 1,63 triliun) hingga US$ 500 juta (Rp 8,1 triliun), dengan kewajiban dalam kisaran US$ 1 miliar (Rp 16,3 triliun) hingga US$ 10 miliar (Rp 163 triliun). Pengajuan tersebut juga menunjukkan kreditor dalam kisaran 10.001 hingga 25.000.

Didirikan di Los Angeles pada tahun 1984 oleh imigran Korea Selatan (Korsel), Forever 21 pada puncaknya populer di kalangan pembeli muda yang mencari pakaian bergaya namun terjangkau. Pada tahun 2016, perusahaan tersebut mengoperasikan sekitar 800 toko di seluruh dunia, dengan 500 di antaranya berada di AS.

Saat ini, Forever 21 dimiliki oleh Catalyst Brands, sebuah entitas yang dibentuk pada tanggal 8 Januari melalui penggabungan pemilik Forever 21 sebelumnya, Sparc Group, dan sejumlah perusahaan lainnya seperti, JC Penney, Simon Property Group, dan Authentic Brands Group (ABG).

Ketika Catalyst Brands dibentuk, perusahaan tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka 'menjajaki opsi strategis' untuk Forever 21. Sementara itu, ABG akan terus memiliki merek dagang dan kekayaan intelektual Forever 21, yang dapat terus berlanjut dalam beberapa bentuk.

CEO ABG Jamie Salter tahun lalu menyebut akuisisi Forever 21 sebagai "kesalahan terbesar yang saya buat".(*)

Editor
: Robert Banjarnahor
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru