Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 06 April 2026

Wali Kota Terpilih New York Serukan Boikot Starbucks di Tengah Mogok “Red Cup Rebellion”

Redaksi - Senin, 17 November 2025 18:17 WIB
774 view
Wali Kota Terpilih New York Serukan Boikot Starbucks di Tengah Mogok “Red Cup Rebellion”
Foto Dok/AP
Wali Kota New York terpilih, Zohran Mamdani. Ia menyerukan boikot Starbucks

New York (harianSIB.com)

Aksi mogok besar-besaran pekerja Starbucks di seluruh Amerika Serikat pada perayaan "Red Cup Day", Kamis (13/11/2025), mendapat dukungan terbuka dari Wali Kota New York terpilih, Zohran Mamdani. Ia menyerukan boikot Starbucks dan meminta warga ikut menekan perusahaan agar kembali ke meja perundingan dengan serikat pekerja.

Aksi yang disebut "Red Cup Rebellion" itu dilakukan ribuan barista yang tergabung dalam Starbucks Workers United. Serikat pekerja menilai manajemen Starbucks tidak beritikad baik dalam negosiasi perjanjian kerja bersama, bahkan dituduh melakukan praktik anti-serikat.

Kepada lebih dari 1,1 juta pengikutnya di media sosial, Mamdani menulis imbauan tegas. "Pekerja Starbucks di seluruh negeri melakukan pemogokan karena praktik ketenagakerjaan yang tidak adil. Selama pekerja mogok, saya tidak akan membeli Starbucks dan saya mengajak kalian bergabung. Tanpa kontrak, tidak ada kopi," tulisnya, Kamis (13/11/2025).

Juru bicara tim transisinya mengatakan sikap Mamdani sejalan dengan komitmen kampanyenya yang proburuh. "Warga New York dapat berharap Wali Kota terpilih akan berdiri tegas bersama kaum pekerja," ujarnya pada hari yang sama.

Baca Juga:
Dukungan serupa datang dari sejumlah tokoh nasional, termasuk Senator Patty Murray dan anggota Kongres Alexandria Ocasio-Cortez, yang mendesak perusahaan segera melanjutkan perundingan.

Sementara itu, Starbucks menyatakan aksi mogok tidak berdampak signifikan terhadap operasional. Perusahaan mengklaim 99,9 persen gerai tetap buka dan bahkan mencatat "Hari Cangkir Merah Terkuat" sepanjang sejarah. "Kami kecewa serikat memilih mogok. Kami siap bernegosiasi kapan saja," kata manajemen dalam pernyataan tertulis, Kamis (13/11/2025).

Starbucks juga menyebut bahwa mereka menawarkan "pekerjaan terbaik di ritel" dengan total upah dan tunjangan rata-rata lebih dari 30 dolar AS per jam.

Di sisi lain, para barista menegaskan aksi mereka bukan untuk menjatuhkan perusahaan. "Saya ingin Starbucks sukses karena penghidupan saya bergantung padanya. Kami bangga dengan pekerjaan kami, tetapi lelah diperlakukan seolah tidak berarti," kata seorang barista, Dachi Spoltore, usai aksi di New York.

Hingga kini, kedua pihak belum mencapai titik temu. Serikat pekerja menyatakan siap memperpanjang aksi bila perusahaan tak membuka ruang negosiasi. Konflik ini diperkirakan masih akan terus bergulir dan menjadi perhatian publik, terutama di kota-kota besar tempat jaringan Starbucks beroperasi luas.(**)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Singgah ke Starbucks Terbesar di Dunia di Shanghai
Starbucks Indonesia Donasi Kemanusiaan ke Gaza
Tak Terima Namanya Jadi Merek Rokok, Starbucks Gugat Perusahaan Sumatra Tobacco Trading Company
Limosin Tabrak Kerumunan Orang di New York, 20 Orang Tewas
Tuntut Pembayaran Gaji, Ratusan Honorer RS Pirngadi Mogok Kerja
Faber Simanjuntak Terpilih Koordinator DPC Serikat Pekerja Danamon Medan
komentar
beritaTerbaru