Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 26 September 2026

Guncangan IHSG Dipicu Isu Kepercayaan, Ekonom Soroti Peran MSCI dan Mundurnya Petinggi BEI-OJK

Nelly Hutabarat - Selasa, 03 Februari 2026 21:08 WIB
769 view
Guncangan IHSG Dipicu Isu Kepercayaan, Ekonom Soroti Peran MSCI dan Mundurnya Petinggi BEI-OJK
CNN Indonesia/Muhammad Falah Nafis
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan hasil pertemuan dengan penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Senin (2/2) sore.

Medan(harianSIB.com)

Pasar saham Indonesia mengalami tekanan hebat dalam dua pekan terakhir hingga 3 Februari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun tajam dari level sekitar 9.134 pada 20 Januari menjadi 8.068 pada 3 Februari 2026.

Ekonom Wahyu Ario Pratomo menyebut, penurunan paling dalam terjadi pada 28 Januari 2026 ketika IHSG anjlok lebih dari 7 persen dalam satu hari. Tekanan kembali berlanjut pada 2 Februari 2026 hingga menyentuh level 7.922, sebelum sedikit pulih sehari kemudian.

"Pergerakan IHSG yang naik-turun tajam ini membuat banyak investor merasa pasar sedang tidak baik-baik saja dan memicu kepanikan," kata Wahyu kepada harianSIB.com, Selasa (3/2/2026).

Menurut Wahyu, situasi semakin diperparah oleh pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) serta Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Peristiwa tersebut dinilai sebagai sinyal serius bagi pelaku pasar.

Baca Juga:
Ia menjelaskan, sumber guncangan awal justru datang dari faktor eksternal, yakni pernyataan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti kewajaran investasi di pasar modal Indonesia. MSCI mempertanyakan aspek keterbukaan data kepemilikan saham, porsi saham yang benar-benar beredar di publik (free float), hingga dugaan pola transaksi yang dinilai tidak wajar pada sejumlah saham.

"Ketika MSCI menyampaikan kekhawatiran dan membekukan sementara perubahan tertentu dalam indeks Indonesia, investor besar cenderung mengambil langkah aman dengan mengurangi kepemilikan saham," ujarnya.

Aksi jual yang terjadi secara cepat dalam waktu singkat membuat BEI memberlakukan trading halt atau penghentian sementara perdagangan. Kebijakan tersebut, kata Wahyu, dimaksudkan sebagai jeda agar pasar tidak jatuh semata-mata akibat kepanikan.

"Trading halt itu seperti tombol jeda. Tujuannya bukan menahan harga supaya tidak turun, tetapi memberi waktu bagi pelaku pasar untuk mencerna informasi dan menyusun ulang strategi," jelasnya.

Namun demikian, Wahyu menilai langkah tersebut belum cukup untuk memulihkan situasi karena akar persoalan terletak pada kepercayaan. Hal ini tercermin dari mundurnya sejumlah pejabat puncak BEI dan OJK yang berkaitan langsung dengan pengawasan pasar modal.

"Ini menunjukkan guncangan IHSG bukan hanya soal angka indeks, tetapi sudah menyentuh isu tata kelola dan kepercayaan publik," kata Wahyu.

Ia menambahkan, pemulihan IHSG ke depan sangat bergantung pada langkah konkret yang diambil regulator. Setidaknya ada tiga hal utama yang perlu dibenahi, yakni meningkatkan porsi free float agar pasar lebih likuid, memperkuat keterbukaan data kepemilikan saham, serta memperketat pengawasan transaksi untuk mencegah praktik yang merusak kewajaran harga.

"Jika perbaikan dilakukan secara konsisten dan hasilnya terlihat, kepercayaan investor akan pulih perlahan, volatilitas mereda, dan IHSG berpeluang kembali stabil," pungkasnya. (*)

Editor
: Donna Hutagalung
SHARE:
Tags
beritaTerkait
IHSG Terpuruk, Rupiah Melemah, Emas Stabil
Susul Bos BEI, Mahendra Siregar dan Inarno Djajadi Mundur dari Jabatannya di OJK
IHSG Menguat Usai Dirut BEI Mundur, Emas Masih Prospektif
Petinggi OJK Mahendra Siregar dan Dua Rekannya Mundur Usai IHSG Anjlok
Bareskrim Selidiki Dugaan Saham Gorengan Usai IHSG Anjlok
Iman Rachman Mundur dari Jabatan Dirut BEI Usai IHSG Anjlok
komentar
beritaTerbaru