Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 Juli 2026
Psikolog Prof Dr Abd Munir:

Orang Merampok Banyak Faktornya, Kemiskinan Perlu Diredam

- Rabu, 02 April 2014 16:17 WIB
1.243 view
 Orang Merampok Banyak Faktornya, Kemiskinan Perlu Diredam
Medan (SIB)- Mengomentari sejumlah tindak kejahatan yang marak terjadi di kota-kota besar di Indonesia akhir-akhir ini, di antara perampok atau penjahat langsung dihakimi massa bahkan ada yang sampai tewas, Psikolog Prof Dr Abd Munir MPd mengatakan, salah satu faktor penyebabnya adalah kelemahan hukum.

“Orang kena rampok di jalanan, banyak yang enggan melapor ke polisi. Akhirnya orang ambil jalan pintas. Kalau dilapor ke polisi, bisa-bisa besok, bebas lagi itu pencuri. Karena polisi dalam mengusut  suatu masalah harus ada bukti-bukti dan saksi-saksi,” kata Munir di Medan, Kamis (27/3).

Kejadian itu sering terjadi dan sudah tidak jadi rahasia umum lagi. Atas dasar kejadian-kejadian itu, masyarakat muak dengan kondisi-kondisi seperti itu, sehingga masyarakat berinisiatif bereaksi sendiri dan main hakim sendiri. “Ini harus diwaspadai penegak hukum”, kata Munir yang Dekan Fakultas Psikologi UMA Medan.

Hukum secara tertulis tidak lemah, tetapi pelaksanaan hukum itu sendiri oleh para aparat yang lemah, bukan institusinya.

Dari sisi penjahat atau perampok sudah nekat dan penuh persiapan, bahkan bawa senjata tajam? Dijawab Munir, perlu dilihat latar belakang mengapa orang mencuri atau merampok. “Itu banyak hal, tetapi intinya kebutuhan. Seperti misalnya, seorang lelaki mau kawin tetapi tidak ada uang, kemudian mencuri, artinya kebutuhannya untuk meminang orang. Lain lagi kebutuhan untuk makan. Seperti saya baca di koran, ada yang mencuri karena ibunya sakit. Jadi jelas  dalam hal ini kemiskinan masyarakat kita juga jadi persoalan. Kemiskinan membuat orang terbebani dengan biaya hidup, tetapi karena tak ada kerjaan, dicoba dengan cara yang negatif itu,” paparnya.

Selain faktor kemiskinan juga banyak faktor lain yang memengaruhi orang yang mencuri. “Malah ada di koran, Caleg juga ada yang mencuri untuk biaya mencalegnya. Pencuri itu kebutuhannya berbeda-beda,” katanya.

Munir, berpendapat, pada prinsipnya adalah ketegasan hukum dan perhatikan orang-orang miskin. Kemiskinan itu harus diredam. Dalam realitanya, bukan sedikit orang yang miskin.

Jadi kalau pihak aparat main tembak? Kata Munir, itu bukan langkah yang bijak, walaupun itu punya pengaruh yang kuat terhadap perubahan. Seperti yang dulu terjadi pada penembak misterius (Petrus) di masa Orde Baru itu, memang aman. “Tapi dalam tatanan, orang penuh ketakutan, dampaknya bisa-bisa orang yang tidak jahat jadi sasaran. Jadi negatifnya juga ada,” kata Munir.

Menurutnya, pemberdayaan masyarakat perlu. Jangan hanya saat kampanye seperti sekarang ini, masyarakat diberdayakan dengan memberikan bayaran. Itu tidak efektif. Masyarakat itu diberikan pancing, bukan ikan.

Secara terpisah, Kevin seorang pelajar yang pernah sepeda motornya diambil perampok di Jalan Ngumban Surbakti Medan mengatakan, setuju saja perampok di Medan ini ditembak mati semua.

Dituturkan Kevin, belum lama ini sepeda motornya diambil dua orang pemuda di Jalan Ngumban Surbakti. Kevin yang mengemudikan sepeda motor barunya, distop dan dituduh melanggar seseorang, lalu diajak ke suatu tempat, dan kemudi diambil alih si penjahat. Lalu di tengah perjalanan Kevin disuruh turun. Lambailah sepeda motornya seharga Rp15 juta. Dilapor ke pihak keamanan, hingga kini tidak ada hasilnya. (A2/h)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru