Washington (SIB)- Biro Investigasi Federal, FBI, menginterogasi kandidat calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat Hillary Clinton selama tiga setengah jam terkait penyelidikan penggunaan server email pribadi saat ia menjabat sebagai menteri luar negeri AS periode 2009-2013. Interogasi berlangsung di markas FBI di Washington Sabtu (2/7) hanya sekitar empat bulan menjelang pemilu presiden yang akan diselenggarakan November mendatang.
Tim kampanye Hillary selama berbulan-bulan mencoba meredam skandal ini agar tidak menimbulkan distraksi di kalangan pendukungnya. Dalam wawancara yang disiarkan MSNBC, Hillary mengaku senang memenuhi interogasi FBI, yang dilakukannya dengan sukarela. "Saya sudah menjawab berbagai pertanyaan seputar skandal email ini selama lebih dari satu tahun," kata Hillary.
Belum jelas mengapa interogasi dilakukan FBI pada masa kampanye dan menjelang konvensi Partai Demokrat pada bulan ini yang akan menentukan nominasi capres dari partai itu. Interogasi terhadap Hillary juga disusul wawancara FBI terhadap sejumlah mantan staf Hillary saat masih menjabat sebagai menlu AS, termasuk ajudannya, Huma Abedin.
Hillary hingga saat ini merupakan kandidat kuat capres dari Demokrat karena unggul dalam pengumpulan delegasi ketimbang rivalnya, Bernie Sanders. Jika ditetapkan sebagai capres dari Demokrat, maka Hillary akan berhadapan dengan kandidat capres tunggal dari Republik, Donald Trump.
"Waktu yang ditentukan FBI untuk menginterogasi Hillary antara pemungutan suara primer dan konvensi Partai Demokrat mungkin waktu yang baik untuk @HillaryClinton," kicau David Axelrod, mantan penasihat senior Presiden AS Barack Obama dalam akun Twitter miliknya. "Lebih baik jika hal itu sudah selesai," kata Axelrod yang menjabat sebagai kepala strategi untuk dua kampanye presiden Obama.
Terkait skandal email Hillary, Trump berkicau, "tidak mungkin FBI tidak mengajukan tuntutan pidana terhadap Hillary Clinton. Apa yang dia lakukan itu salah!" Trump juga mengkritik suami Hillary, mantan Presiden Bill Clinton, atas pertemuan pribadinya dengan Jaksa Agung Loretta Lynch pada awal pekan ini. "Apa yang dilakukan Bill merupakan hal yang bodoh!," ujarnya. Lynch sendiri menyesal atas pertemauannya dengan Bill, meski menegaskan bahwa mereka berdua tidak mendiskusikan penyelidikan FBI yang sedang berjalan.
FBI tengah menyelidiki apakah seseorang dalam masa jabatan Hillary sebagai menlu AS melanggar hukum lantaran menggunakan server email pribadi untuk urusan pekerjaan sebagai menlu. Server itu disimpan di rumahnya di Chappaqua, New York.
Salah satu fokus investigasi adalah apakah Hillary dan stafnya melakukan kesalahan dalam penanganan informasi rahasia kenegaraan lantaran menggunakan server pribadi. Hillary dan stafnya tengah berjuang untuk menanggapi tuduhan bahwa penggunaan server tersebut melanggar protokol Departemen Luar Negeri AS. Trump menyerukan bahwa dengan adanya penyelidikan itu, Clinton seharusnya didiskualifikasi sebagai kandidat calon presiden.
Hina Hillary
Pemeriksaan Hillary terjadi hanya beberapa jam setelah sebelumnya Trump kembali meluncurkan hinaan kepada Hillary melalui akun Twitter-nya. Kali ini, taipan real-estate ini menyebut Hillary "kandidat paling korup" disertai dengan foto Clinton bersama lembaran seratus dolar AS dan Bintang Daud, simbol penganut agama Yahudi.
Foto itu diunggah melalui akun Twitter resmi miliknya, @realDonaldTrump, Sabtu (2/7). Dua jam setelahnya, kicauan itu dihapus dan digantikan dengan foto yang sama, hanya saja Bintang Daud digantikan dengan gambar lingkaran.
Sontak, kicauan Trump ini memicu kemarahan dan keheranan netizen di sosial media. Tidak jelas apakah kicauan tersebut bersumber langsung dari Trump atau tim kampanyenya. Juru bicara Trump, Hope Hicks, menolak berkomentar terkait hal ini ketika dihubungi Reuters. Para pakar menilai foto yang menampilkan Bintang Daud itu merujuk kepada stereotipe anti-Semitisme yang sudah melekat selama berabad-abad, yakni kepercayaan bahwa kaum Yahudi merupakan kaum yang tamak.
Bintang Daud merupakan lambang kaum Yahudi yang muncul dalam bendera Israel. Kaum Yahudi yang berada dalam penindasan Nazi di kamp pengasingan juga dipaksa untuk mengenakan lambang bintang enam segitiga dalam lingkaran ini.
"Baru melihat kicauan #DonaldTrump [yang menampilkan] Bintang Daud. Saya terkesan dengan kemampuannya menemukan berbagai cara untuk menghina setiap manusia," kicau penulis skrip ternama, Cole Haddon, di Twitter. "Sebuah gambar Bintang Daud, tumpukan uang tunai, dan tuduhan korupsi. Donald Trump sekali lagi memainkan rumor yang kerap dilakukan oleh kaum supremasi kulit putih," tulis Erick Erickson, penyiar radio konservatif yang merupakan salah satu pengkritik Trump.
Sebagai satu-satunya kandidat capres dari Republik, Trump dikhawatirkan memicu perpecahan di dalam partainya sendiri karena kerap kali melontarkan pernyataan rasisme soal Muslim, imigran Meksiko, dan wanita. Bulan lalu, Trump memecat manajer kampanyenya Corey Lewandowski dan mulai menyampaikan pidato menggunakan teleprompter. Padahal, Trump kerap dikenal sebagai tokoh yang berpidato tanpa menggunakan teks. Perubahan Trump ini dinilai oleh para pakar sebagai salah satu upaya untuk tampil terbuka menjelang pemilu presiden pada 8 November mendatang.
Kicauan Trump soal Hillary yang menggunakan lambang sterotipe anti-Semitisme merupakan salah satu tindakan Trump yang dinilai rasis. Sebelumnya, Trump pernah melontarkan pelarangan memasuki AS bagi seluruh umat Muslim, menyebut imigran Meksiko "kriminal" dan menghina seorang wartawan penyandang disabilitas. (CNNI/y)