Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 29 Maret 2026

Penasehat Kampanye Salahkan Direktur FBI atas Kekalahan Hillary Clinton

* Para Pemuka Agama AS akan Sambangi Donald Trump
- Senin, 14 November 2016 10:19 WIB
209 view
Penasehat Kampanye Salahkan Direktur FBI atas Kekalahan Hillary Clinton
Washington (SIB)- Para penasihat tertinggi Hillary Clinton menyalahkan Direktur Biro Investigasi Federal (FBI) James Comey atas kekalahan dari Donald Trump dalam pilpres. Disinyalir, surat pengkajian ulang kasus email Hillary yang dikirimkan Comey kepada Kongres AS telah melemahkan pendukung Hillary. Seperti dilaporkan Politico dan dilansir Press TV, Sabtu (12/11), bahwa kepala divisi penelitian opini dalam tim kampanye Hillary, Navin Nayak, mengirimkan email ke jajaran staf senior Hillary, pada Kamis (10/11), yang isinya menjelaskan secara garis besar soal 'sinyal-sinyal awal' kekalahan Hillary.
"Kita meyakini bahwa kita kalah dalam pilpres ini sejak pekan lalu," sebut Nayak dalam emailnya yang dipublikasi oleh Politico. "Surat Comey dalam 11 hari sebelum pilpres, membantu melemahkan pemilih kita dan juga mengurangi dukungan kritis bagi kita di antara kalangan pemilih kulit putih berpendidikan tinggi -- khususnya di wilayah pinggiran," imbuhnya. "Kita juga berpikir bahwa surat Comey yang kedua, yang dimaksudkan untuk membebaskan Menteri (Hillary) Clinton, sebenarnya membantu meningkatkan jumlah pemilih Trump," jelas Nayak.

Email Nayak itu juga menyoroti sejumlah tantangan lain yang dihadapi tim kampanye Hillary selama kampanye, termasuk keinginan rakyat AS untuk berubah setelah dua periode dipimpin presiden dari Partai Demokrat dan keengganan rakyat AS untuk memilih capres wanita.

Selain tantangan itu, sebut Nayak, Hillary sudah berada di jalur kemenangan hingga pekan lalu ketika semuanya berubah drastis dalam waktu singkat. Momentum pekan lalu, menurut Nayak, beralih ke Trump. "Para pemilih yang memutuskan pekan lalu untuk beralih ke Trump memiliki selisih besar. Jumlah ini bahkan lebih besar di negara bagian battleground," sebutnya.

Lebih lanjut, Nayak menyebut surat Comey mendorong pendukung Trump dan menekan pendukung Hillary pada hari pemungutan suara digelar. "Tidak diragukan bahwa seminggu sebelum hari pemungutan suara, Menteri Clinton berpotensi mengalami kemenangan bersejarah. Pada akhirnya, kurang dari 110 ribu suara dari puluhan juta suara yang tercatat pada hari Pilpres membuat perbedaan dalam pencapresan ini," terangnya. "Pada akhirnya, pengungkapan perkembangan situasi dalam pencapresan yang terlambat membuktikan terlalu banyak rintangan bagi kita untuk bisa diatasi," tandasnya menyimpulkan.

Sementara itu para pemuka agama di Amerika Serikat akan menemui presiden terpilih Donald Trump untuk menegaskan soal kebebasan beragama di negara itu. Pasalnya, terpilihnya Trump sebagai presiden dikhawatirkan memicu sentimen anti-Islam di negara itu, sesuai dengan retorika kebencian yang disampaikannya selama kampanye.

Imam masjid asal Indonesia yang tinggal di New York, Shamsi Ali, mengatakan para pemuka agama Islam, Kristen dan Yahudi yang tergabung dalam organisasi A Partnership of Faith telah mengadakan rapat untuk menyikapi kekhawatiran yang meluas akibat terpilihnya Trump. Mereka akan menyambangi Trump usai dilantik untuk memberikan masukan bagaimana menyikapi perpecahan agama dan ras yang saat ini terjadi di negara tersebut.

"Kami akan menyampaikan kepada presiden AS bahwa kami tidak bisa dipecah belah, kami bersatu dan bersama membangun negara ini. Islam adalah bagian integral dari masyarakat AS, jangan sampai ada pihak yang dikorbankan karena ingin mendapat dukungan dari pihak tertentu," kata Shamsi.

Shamsi mengatakan, para pemuka agama akan mengatur strategi dengan melihat arah kebijakan Trump nantinya. Shamsi mengatakan karakter Trump yang rasialis bisa mempengaruhi kebijakannya di pemerintahan. "Kita tidak tahu kebijakannya apa, tapi karakter pribadi menentukan kebijakan. Yang pasti terpilihnya Donald Trump ada sebuah tragedi politik," kata imam di Jamaica Muslim Center, New York, ini.

Donald Trump mengalahkan Hillary Clinton dalam pemilihan umum 8 November lalu. Usai terpilih, banyak masyarakat AS yang turun ke jalan memprotes sikap Donald Trump yang rasis, diskriminatif dan cenderung melecehkan perempuan. "Di satu sisi AS adalah negara yang gencar menyebarkan demokrasi. Sementara di sisi lain, yang terpilih presiden justru yang tidak sejalan dengan ide demokrasi, ini paradoks," tutur Shamsi.

Terpilihnya Trump dikhawatirkan akan meningkatkan kasus Islamofobia di AS. Dibakar retorika anti-Islam, para pendukung Trump berpotensi melakukan tindakan buruk terhadap umat Islam. "Yang mengkhawatirkan adalah mereka yang anti Islam seolah mendapat pembenaran. Trump sendiri saya yakin akan berubah melakukan kebijakan yang berdasarkan konstitusi, karena memang kebebasan beragama diatur oleh konstitusi AS," tegas Shamsi. (Detikcom/CNNI/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru