Washington (SIB)- Puluhan orang tewas termasuk anak-anak dalam serangan gas beracun di Suriah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyalahkan pendahulunya, Barack Obama atas serangan gas yang diyakini AS didalangi oleh rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad tersebut.
"Tindakan sangat keji oleh rezim Bashar al-Assad merupakan konsekuensi dari kelemahan dan keraguan pemerintahan terdahulu," ujar Trump seperti dilansir News.com.au, Rabu (5/4). "Presiden Obama mengatakan pada tahun 2012 bahwa dia akan menetapkan 'garis merah' terhadap penggunaan senjata kimia, dan dia kemudian tidak melakukan apapun," kata Trump. Saat itu, Obama memberikan ultimatum pada pemerintah Suriah bahwa penggunaan senjata kimia dalam keadaan apapun akan menimbulkan konsekuensi. Namun konsekuensi terhadap rezim Suriah tak pernah terjadi.
Trump sendiri tidak benar-benar proaktif soal konflik berkepanjangan di Suriah. Bahkan beberapa hari lalu, Trump memerintahkan perubahan besar dalam kebijakan AS, yakni tidak lagi memprioritaskan pelengseran Assad. Melainkan lebih fokus ke upaya-upaya mengalahkan kelompok radikal ISIS. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson menyatakan, masa depan Assad akan diputuskan oleh rakyat Suriah, bukan negara-negara Barat.
Sementara korban akibat serangan tersebut telah menewaskan sedikitnya 100 orang dan 400 orang luka-luka. Serangan ini terjadi di Provinsi barat laut Idlib, Suriah, yang saat ini masih dikuasai oleh kelompok pemberontak. Petugas medis memfokuskan penyelamatan di Provinsi barat laut Idlib, Suriah, yang dikuasai oleh pemberontak. Namun, sebuah sumber yang berasal dari militer Suriah membantah keras jika tentara yang telah menggunakan senjata tersebut.
Kelompok pemantau HAM Suriah, Syrian Observatory for Human Rights (Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia) mengatakan bahwa serangan ini diyakini telah dilakukan oleh jet tentara Suriah, dan menyebabkan banyak orang mendadak tersedak, bahkan beberapa korban mengeluarkan busa dari mulut mereka. Rata-rata yang mengalami gejala ini adalah anak-anak di bawah usia delapan tahun.
"Pagi ini, pukul 06.30, pesawat-pesawat tempur yang menargetkan Khan Sheikhoun dengan gas, diyakini berisi sarin dan klorin. Serangan itu telah menewaskan lebih dari 50 orang dan melukai 300 orang," kata Kepala Otoritas Kesehatan Idlib, Mounzer Khalil dalam konferensi pers. "Sebagian besar rumah sakit di Provinsi Idlib sekarang dipenuhi dengan orang-orang yang terluka," tambah Khalil.
Menurut Kelompok Bantuan Medis Suriah, dari 400 orang yang terluka ini hampir semua mengalami gangguan pernapasan. The Union of Medical Care Organizations memprediksi korban tewas akan terus meningkat. "Kami telah melihat lebih dari 40 serangan sejak 06.30 pagi, jumlah korban terus meningkat di wilayah Idlib serta serangan tidak beracun di Hama," kata kelompok tersebut.
Peristiwa ini akan menandai serangan kimia mematikan di Suriah sejak peristiwa gas sarin yang menewaskan ratusan warga sipil di Ghouta di dekat ibu kota pada bulan Agustus 2013. Negara-negara Barat mengatakan pemerintah Suriah bertanggung jawab atas serangan 2013.
Kepala Liga Arab Ahmed Aboul Gheit mengutuk serangan tersebut dan menyebutnya sebagai kejahatan besar. "Menargetkan dan menewaskan warga sipil dengan metode terlarang ini dianggap sebagai kejahatan besar dan perbuatan barbar," cetus Aboul Gheit.
"Siapapun yang melakukan itu tak akan luput dari keadilan, dan harus dihukum oleh komunitas internasional sesuai hukum internasional dan hukum kemanusiaan internasional," tandasnya tanpa merinci siapa yang harus bertanggung jawab.
Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris juga menyalahkan rezim Assad atas serangan tersebut. Namun Rusia membela sekutunya, Suriah dengan menyatakan bahwa gas beracun yang menewaskan banyak orang tersebut berada di sebuah gudang milik pemberontak yang terkena serangan udara rezim Assad.
Serangan gas ini terjadi hanya beberapa hari setelah pada pasukan yang setia pada Presiden Suriah Bashar al-Assad dituduh menggunakan senjata kimia dalam serangan di provinsi Hama. Pihak oposisi menuduh pasukan pemerintah menggunakan 'bahan beracun' dalam pertempuran menghadapi para pemberontak.
Kekurangan Makanan
Memasuki bulan ketujuh, perang Suriah telah menewaskan sekitar 320 ribu orang, menyebabkan adanya jutaan pengungsi dan warga sipil yang hidup dalam kondisi memprihatinkan. Tak hanya itu, ada sebanyak tujuh juta orang membutuhkan makanan ditambah situasi yang makin memburuk setiap hari di Suriah.
"Jumlah orang yang membutuhkan bantuan makanan di Suriah telah melampaui 6 sampai 7 juta, orang-orang yang kritis membutuhkan makanan," kata Direktur Regional UN, Program Pangan Dunia, Muhannad Hadi. "Saat hari-hari berlalu, bulan-bulan dan minggu berlalu, jumlah orang yang membutuhkan makanan meningkat. Dan situasi di lapangan tidak membaik sama sekali. Dalam krisis seperti Suriah, orang-orang yang paling menderita yang pasti anak-anak," ujar Hadi.
Dalam konferensi internasional tentang Suriah yang diselenggarakan oleh Uni Eropa di Brussels, Hadi mengatakan WFP Suriah telah memberikan paket makanan untuk empat juta orang di Suriah dan memberi makan hampir dua juta orang di negara-negara tetangga setiap bulan.
Uni Eropa memberikan kontribusi dana untuk program WFP Suriah, yang menurut Hadi, sebagian besar tertahan oleh masalah bagaimana mencapai banyaknya bagian-bagian dari Suriah. Menurut UN, produksi pangan telah turun ke level terendah di Suriah. Banyak petani harus meninggalkan tanah mereka, tidak mampu membayar biaya benih tanaman yang melonjak, pupuk dan bahan bakar traktor. Bahkan untuk gandum, bahan yang sangat penting untuk membuat roti dan merupakan makanan pokok dari Suriah, telah jatuh sangat tajam. (Detikcom/h)