Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 05 April 2026

72 Tahun Indonesia Merdeka, Sejumlah Warga Tanjungbalai Belum Menikmati Air Bersih

- Jumat, 18 Agustus 2017 10:58 WIB
525 view
Tanjungbalai (SIB) -Sudah 72 tahun Indonesia merdeka, namun warga di Tanjungbalai sampai sekarang ini belum menikmati air bersih. Pasalnya, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di kota itu belum mampu mengalirkan air bersih untuk masyarakat.

Pantauan SIB, Rabu (16/8), salah seorang warga yang tinggal di Jalan Sudirman Km 6,5 Pasar 10 Kelurahan Sijambi Kecamatan Datuk Bandar Tanjungbalai, sampai sekarang belum bisa menikmati air bersih. Sehingga untuk kebutuhan sehari hari, sebahagian warga di daerah itu terpaksa membuat sumur bor dengan biaya sendiri. Padahal air sumur bor tersebut tidak jernih, berbau lumpur dan terasa payau (asin). Sedangkan warga lainnya hanya menyelang ke rumah masing-masing karena tidak mampu membangun sumur bor dengan biaya sendiri.

Irawati (31) salah seorang ibu rumah tangga warga setempat mengatakan, sejak tinggal di daerah itu terpaksa harus menggunakan air sumur bor yang dibangun sendiri untuk kebutuhan sehari hari, seperti mandi dan mencuci. Sedangkan untuk air minum dan memasak, terpaksa harus membeli air isi ulang seharga Rp 4 ribu per galon setiap harinya. "Untuk kebutuhan sehari hari pakai air sumur bor inilah, kalau untuk air minum dan memasak terpaksa harus membeli air galon, "ucapnya.

Dikatakannya, hal itu sudah berlangsung cukup lama. Namun hingga kini belum ada perhatian dari pemerintah setempat untuk mengalirkan air PDAM ke daerah itu.

Kasman (67) warga lainnya mengatakan hal serupa. Pria jompo dan juga miskin ini terpaksa harus mengonsumsi air sumur bor tersebut untuk kebutuhan sehari hari karena tidak mampu membeli air galon. Dikatakannya, dirinya baru bisa menikmati air bersih jika musim hujan seperti sekarang ini. Meskipun demikian, lanjutnya, dirinya belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah setempat. Sehingga untuk membeli beras saja, harus bekerja keras mencari upahan dari warga sekitar.

"Iya terpaksa harus dikonsumsi. Untuk makan saja sudah susah, " keluhnya bersama Nurtati (63) istrinya yang tinggal di gubuk kecil berdinding tepas dan tidak dialiri listrik tersebut. (E09/BR5/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru