Jakarta (SIB)- Gelombang tsunami menerjang Palu, Sulawesi Tengah. Tsunami ini terjadi setelah gempa bumi mengguncang Palu dan Donggala.
"Memang benar tsunami terjadi di Palu," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Jumat (28/9).
Gempa bumi 7,4 skala richter (SR) yang terjadi di Donggala, Palu dan Mamuju, mengakibatkan gelombang tsunami. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengatakan, tsunami yang muncul akibat gempa tersebut masuk level siaga dengan ketinggian setengah meter hingga maksimum 3 meter.
"Gempa bumi tersebut menimbulkan tsunami dengan level siaga yakni ketinggian lebih dari setengah meter maksimum 3 meter, waktu (air) tiba 17.22 WIB, sehingga waktu mengumumkan gempa BMKG juga mengumumkan peringatan dini tsunami," katanya dalam jumpa pers di kantor BMKG, Jakarta, Jumat (28/9).
Dia mengatakan, selain peringatan dini tsunami, BMKG juga melakukan pemantauan naiknya muka air laut. Dari hasil pengamatan, terlihat adanya kenaikan muka air laut setinggi 6 cm, pada pukul 17.13 WIB.
"Dari saksi mata di lapangan di pantai Palu terpantau ketinggian muka air laut naik 1,5 meter," katanya.
Setelah tsunami datang, pihaknya terus melakukan pemantauan. Hasilnya, air yang datang semakin surut. Karenanya, dengan surutnya air tsunami tersebut maka peringatan dini tsunami diakhiri pada pukul 17.36 WIB.
"Artinya memang benar tsunami terjadi hingga 1,5 meter namun kejadian tsunami itu telah berakhir pada pukul 17.36 WIB," katanya.
1 Orang Tewas
Gempa di Donggala, Sulawesi Tengah, mengakibatkan satu orang tewas dan 10 orang luka-luka.
"Gempa dirasakan sangat keras terjadi di Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, karena dekat dengan pusat gempa. Beberapa rumah roboh dan rusak akibat gempa. Masyarakat panik dan berhamburan ke luar rumah," kata Sutopo.
Gempa ini mengguncang selama 2-10 detik, dilanjutkan dengan beberapa kali gempa susulan. Selain menimbulkan 1 korban tewas dan 10 korban luka-luka, puluhan rumah rusak.
"Korban tertimpa oleh bangunan yang roboh," kata Sutopo.
Penerbangan Ditutup
Sementara itu, efek gempa ini membuat tower ATC rusak dan berimbas pada penutupan bandara Mutiara Palu.
Gambar yang diterima, memperlihatkan lantai ATC di Bandara Mutiara Palu reta-retak. Terlihat beberapa retakan bangunan berwarna orange itu.
"Jadi di lantai empat itu adalah ruang kontrol untuk ATC komunikasi pesawat," ujar seorang pegawai bandara Mutiara Palu saat dikonfirmasi.
"Karena itu rubuh lantai empatnya, jadi alat dan meja kerja tidak bisa dipakai," sambungnya.
Karena kerusakan ini, pihak Bandara telah menerbitkan Notam penutupan bandara hingga 29 September pukul 19.30 WITA.
"Notam-nya sudah diterbitkan baru saja dan bandara Palu ditutup," kata dia.
Dicek dari akun Twitter BMKG, Jumat (28/9), gempa itu terjadi pukul 17.02 WIB. Titik gempa di 0.18 LS dan 119.85 BT dengan kedalaman 10 kilometer.
Sebelumnya beberapa kali gempa terjadi dengan beragam kekuatan. Salah satunya gempa berkekuatan 6,0 SR yang menyebabkan kerusakan serta 1 korban meninggal dunia di Donggala.
"Bandara ditutup sampai dengan besok malam. Tower lantai 4 roboh," kata General Manager Airnav Makassar, Novy Pantaryato.
Jalan Retak
Selain berdampak pada tsunami gempa itu membuat tanah di sekitar retak.
"Tanah di sekitar saya retak semua," ucap seorang warga.
Di samping itu, gempa Donggala juga disebut membuat listrik mati total. Ia juga mengaku bahwa sinyal telepon seluler sulit didapat saat gempa.
Daniel mengaku, gempa masih terus terasa. "Kadang terasa lebih kecil, atau malah lebih kuat, atau sama saja," aku dia.
Lari ke Gunung
Ia menambahkan bahwa rangkaian gempa itu membuat warga Palu berhamburan menuju tempat yang lebih tinggi demi menyelamatkan diri dari potensi tsunami.
"Semuanya keluar rumah dan pada takut akan terjadi tsunami dan mungkin kota ini kehilangan warga lari ke gunung semua," ungkap dia.
Terpisah, Dirga Maulansyah, warga Luwu Timur, Sulsel, menyebut warga sempat berhamburan keluar rumah saat gempa mulai mengguncang.
"Sekitar pukul 6 sore, warga bersiap di masjid. Ketika terasa ada gempa, warga berhamburan, saya juga, ke jalan. Terasa sekali dan ikut bergoyang," tuturnya.
Dia juga menyebut sempat terjadi gangguan sinyal ponsel pada saat gempa sedang berlangsung.
"Sekarang masih aman, sudah seperti biasa," ucapnya.
Sejauh ini, katanya, warga cukup mendapat informasi soal gempa melalui penguman di sejumlah masjid.
31 Gempa Susulan
Setelah terjadi gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6 di Donggala, Sulawesi Tengah, ada gempa susulan sebanyak 31 kali. Gempa tersebut terhitung hingga pukul 21.00 WIB malam kemarin.
"Sampai pukul 21.00 WIB, telah tercatat ada 31 gempa susulan. Sebelumnya, pada pukul 14.00 WIB gempa Magnitudo 6,0 di Donggala terjadi menimbulkan korban dan kerusakan," ujar Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono.
Sebanyak 31 gempa susulan itu termasuk gempa Magnitudo 7,4 yang memicu munculnya gelombang tsunami. Gempa yang terjadi menyebabkan terjadinya kerusakan bangunan.
BMKG mengimbau masyarakat tidak tinggal di rumah yang kondisinya sudah retak.
"Jadi bangunan-bangunan yang kondisi sudah retak. Kami akan tetap monitor gempa susulan ini. Beberapa hari ke depan, untuk masyarakat di Donggala, Palu, untuk tidak meninggali rumah-rumah yang dalam kondisi miring. Kecuali rumah yang masih kokoh," tutur Rahmat.
Basarnas Kirim 50 Personel
Di bagian lain Basarnas mengirimkan 40-50 personel ke Kabupaten Donggala dan Kota Palu di Sulawesi Tengah. Personel ini merupakan anggota SAR dari Balikpapan dan Banjarmasin.
"Jadi saya malam ini saya berangkatkan perkuatan ini dari Balikpapan dan Banjarmasin dengan menggunakan kapal Basarnas. Itu kita kirim 40-50 orang," kata Kepala Basarnas Marsma Muhammad Syaugi.
Tim ini diperkirakan akan tiba di lokasi setelah menempuh tujuh jam perjalanan. Setelah itu tim akan menyebar ke lokasi-lokasi terdampak gempa dan tsunami.
"Tim akan memisahkan diri menuju lokasi terdekatnya," ucap dia.
Syaugi mengatakan sebelumnya, petugas SAR Palu sudah bergerak menuju titik-titik yang terdampak gempa sejak pukul 17.30 WIB. Namun komunikasi terputus sekitar pukul 18.00 WIB.
"Untuk menuju titik gempa butuh waktu 3 jam, berangkat dari setengah enam sore, sampai jam enam sore tadi putus semua komunikasi. Jadi HP dan radio juga putus. Tapi sebelum terputus kantor SAR Palu sudah mengerahkan potensi SAR yang ada di sana," ujar dia.
Dia mengatakan sebelumnya SAR Makassar hendak dikirimkan juga ke Palu. Namun karena bandara di Palu ditutup, hal itu urung dilakukan.
Sebelumnya diberitakan, gempa berkekuatan 7,4 skala Richter mengguncang Donggala pada sore kemarin. BMKG menyebut tsunami sempat terjadi setinggi 0,5 sampai 3 meter.
Dirasakan hingga Sulsel
Dilaporkan juga, guncangan ini dirasakan oleh sebagian masyarakat Sulsel.
"Guncangannya sampai terasa di Pare-pare di sini," kata seorang pegawai Bank di Pare-pare, Andi saat dikonfirmasi.
Andi mengatakan dirinya juga mendapatkan kabar bahwa teman-temannya yang berada di daerah Kabupaten Luwu dan Tana Toraja ikut merasakan efek guncangan gempa itu.
"Guncangan terasa tapi tidak terlalu kuat. Teman saya di Kendari juga bilang merasakan gempa ," kata dia.
Sementara itu, warga lainnya, Firdaus juga mengatakan hal serupa. Dia menyebut guncangan terasa di wilayah Kabupaten Barru. Namun guncangan ini disebut tidak terlalu lama.
Jokowi Siagakan Pemerintah
Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan semua jajaran pemerintahannya untuk siap menangani kondisi pasca-gempa di Sulawesi Tengah. Gempa ini telah menimbulkan kerusakan bangunan hingga tsunami.
"Menjelang maghrib tadi, gempa bumi mengguncang wilayah Sulawesi Tengah dan sekitarnya. Saya memantau dan menyiagakan seluruh jajaran pemerintah terkait menghadapi segala kemungkinan pasca gempa bumi," kata Jokowi lewat akun Twitternya, Jumat (28/9).
Jokowi mendengar kabar gempa di Donggal adan Palu pada petang kemarin. Dia terus memantau perkembangan kondisi usai gempa. Dia menyampaikan harapan.
"Semoga saudara-saudara kita di sana tetap tenang dan dalam keadaan selamat," kata Jokowi. (detikcom/CNN/Merdeka/d)