Jakarta (SIB)
Aksi demonstrasi di depan kantor Kemenkum HAM terkait ucapan Menkum HAM Yasonna Laoly yang menyebut Tanjung Priok adalah daerah miskin, kumuh, dan kriminal, telah usai. Massa aksi membubarkan diri.
Pantauan di lokasi, ratusan warga Tanjung Priok ini mulai meninggalkan lokasi aksi di depan kantor Kemenkum HAM, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (22/1), pukul 14.30 WIB. Mereka membawa semua atribut, seperti papan tulis dan berbagai bendera.
Dua mobil komando yang pada saat aksi berlangsung berada di depan kantor Kemenkum HAM juga telah meninggalkan lokasi. Mayoritas massa aksi pergi dengan mengendarai sepeda motor dan bus.
Jalan HR Rasuna Said yang mengarah ke Jalan H OS Cokroaminoto kini telah dapat dilalui kendaraan roda dua dan roda empat. Arus lalu lintas di lokasi kembali terurai setelah sempat mengalami kemacetan saat massa berdemonstrasi.
Pasca-aksi tadi, banyak sampah berserakan di sepanjang jalan. Hingga pukul 14:50 WIB, belum tampak ada petugas kebersihan yang membersihkan kawasan depan gedung Kemenkum HAM.
Pada aksi, Koordinator Aksi Damai 221 Priok Bersatu Kemal Abubakar mengatakan perwakilan massa aksi sudah diterima oleh pihak Kemenkum HAM. Namun sayang Menkum HAM Yasonna Laoly tidak ada di lokasi.
"Hari ini kita tidak berhasil bertemu dengan (Yasonna), hanya diwakili dengan kabid humas dan jajarannya. Tidak ada dialog dalam pertemuan tadi. Kami tetap bersepakat dengan warga, ini adalah aksi ketersinggungan kita," kata Kemal Abubakar di lokasi.
Dia pun menegaskan agar Yasonna segera meminta maaf secara terbuka karena dampak ucapannya sangatlah besar. Kemal memberikan waktu 2 x 24 jam kepada sang menteri untuk mengucapkan permintaan maaf kepada warga Tanjung Priok.
"Kita warga Tanjung Priok dibangun stigmanisasi soal kampung kriminal. Kami warga Tanjung Priok tetap akan mendesak bapak menteri (Yasonna) untuk meminta maaf 2 x 24 jam secara terbuka di hadapan media. Ini bentuk pelecehan sosial terhadap masyarakat Tanjung Priok," sambungnya menegaskan.
Diberitakan sebelumnya, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly meyakini bahwa kemiskinan adalah sumber tindakan kriminal. Menurut Yasonna, semua pihak harus membantu menyelesaikan masalah tersebut.
"Crime is a social product, crime is a social problem. As a social problem, sebagai problem sosial, masyarakat kita semua punya tanggung jawab soal itu. Itu sebabnya kejahatan lebih banyak di daerah miskin," kata Yasonna dalam sambutannya di acara 'Resolusi Pemasyarakatan 2020 Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS)' di Lapas Narkotika Kelas IIA Jatinegara, Jakarta, Kamis (16/1).
Yasonna mencontohkan dua anak yang lahir dan besar di dua kawasan yang berbeda, yakni Menteng dan Tanjung Priok. Ia meyakini jika anak yang lahir dari kawasan Tanjung Priok yang terkenal keras dan sering terjadi tindak kriminal akan melakukan hal serupa di masa depan.
"Yang membuat itu menjadi besar adalah penyakit sosial yang ada. Itu sebabnya kejahatan lebih banyak terjadi di daerah-daerah miskin. Slum areas (daerah kumuh), bukan di Menteng. Anak-anak Menteng tidak, tapi coba pergi ke Tanjung Priok. Di situ ada kriminal, lahir dari kemiskinan," sebut Yasonna.
Maafkan
Sementara itu, Juru bicara Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin Masduki Baidlowi, meminta warga Tanjung Priok yang berdemo di Kementerian Hukum dan HAM memaafkan Yasonna Laoly. Masduki meyakini warga Priok akan mengikuti 'bapaknya' yang menjadi Wapres untuk menghindari kegaduhan.
"Pertama, saya kira kalau Wapres itu punya kecenderungan gimana, menghindari kegaduhan-kegaduhan. Jangan sampai persoalan-persoalan sepele itu kemudian menjadi gaduh," ucap Masduki kepada wartawan.
Masduki membenarkan bahwa Ma'ruf Amin adalah warga Priok. Masduki menyebut sang Wapres juga sangat mencintai Tanjung Priok.
"Kedua, betul bahwa wapres adalah warga Tanjung Priok. Sudah lama di Priok, dan beliau saya kira sangat mencintai Priok. Karena ada beberapa kali kesempatan sebenarnya pindah dari Priok tapi beliau tetap memilih sebagai warga Priok. Jadi nggak salah pendemo itu menyatakan bahwa bapak Wapres warga Priok. Itu nggak salah," kata dia.
Masduki berharap permasalahan tersebut cepat selesai. Dia menilai ucapan Menkum HAM Yasonna itu tidak bermaksud menyakiti warga Priok.
"Ketiga, saya kira perlu ada solusi di antara warga Priok untuk memberikan. Ya semacam tak terlalu keras begitulah untuk memberikan pernyataan kepada Pak Yasonna, begitu juga saya kira bapak Yasonna saya kira lebih pada keseleo lidah untuk menyampaikan sesuatu yang akhirnya membuat warga Priok merasa tak nyaman dan merasa tak enak," tuturnya.
Selain itu, Masduki meyakini warga Priok akan membuka pintu maaf kepada Yasonna. Dia juga meminta semua pihak mendinginkan suasana.
"Dan saya yakin warga Priok akan mengikuti bapaknya yang jadi wapres, untuk cenderung memaafkan terhadap hal-hal yang sebenarnya itu tak dimaksudkan untuk menyakiti, itu keseleo lidah ya. Saya kira ini untuk mendinginkan suasana. Menginginkan agar ada ketenangan dan tak gaduh," pungkasnya.
Tak Maksud Menyinggung
Menkum HAM Yasonna Laoly meminta maaf atas pernyataan 'Kriminal di Priok' yang dia lontarkan dan menjadi kontroversi. Dia mengatakan tak bermaksud menyinggung perasaan warga Tanjung Priok, Jakarta Utara.
"Saya menyampaikan juga terima kasih, bahwa saya diingatkan oleh saudara-saudara saya warga Tanjung Priok, sekaligus ingin menjelaskan bahwa apa yang saya sampaikan saat acara Resolusi Pemasyarakatan 2020 di Lapas Narkotika Kelas II-A Jakarta itu sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyinggung perasaan saudara-saudara di Tanjung Priok," kata Yasonna di Kantor Kemenkumham, Jakarta Selatan.
Dia menyebut, pernyataan yang disampaikan pada Kamis (16/1) itu kemudian ditafsirkan lain sehingga banyak warga Tanjung Priok yang tersinggung.
"Maka saya menyampaikan permohonan maaf. Akan tetapi, sekali lagi, ingin saya sampaikan saya sedikit pun tidak punya maksud itu," katanya.
Dia berharap jumpa pers yang dilakukan bisa menyatukan kembali rasa persatuan. Yasonna akan mencari waktu untuk silaturahmi ke Jakarta Utara.
"Mudah-mudahan saya akan mencari waktu yang pas untuk bersilaturahmi dengan saudara-saudara di Tanjung Priok," ujarnya.
Laoly juga merasa ucapannya dipelintir.
"Ini ada draf konferensi pers, saya baca persis dengan ini supaya jangan nanti dipelintir lagi. Supaya jangan dipelintir. Sebenarnya apa yang saya sampaikan itu kan penjelasan ilmiah, seharusnya ditanggapi secara ilmiah bukan secara politik.
Karena saya merasa ada hal-hal yang dipelintir sehingga ada kerancuan informasi kepada publik sehingga menimbulkan perbedaan pendapat, sambungnya.
Menurut Yasonna, ada orang tertentu yang tidak memahami pernyataannya secara utuh. Oleh sebab itu, dia menyampaikan permohonan maaf.
"Ada dari orang tertentu mungkin tidak memahami secara utuh, tidak melihatnya secara utuh bahkan saya ada merasakan ada yang kurang pas dari, apa, cara menyampaikan mereka ini, orang tertentu saja," ucap Yasonna. (detikcom/d)